Iqra 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text
i Kartun 0839
Kartun 0839

Tempo, 26 September 2004

Tiga hari setelah ledakan bom di depan Kedutaan Australia, Jakarta, polisi masih terus mengaduk-aduk kubangan bekas ledakan. Di tengah tumpukan puing yang bercampur dengan ceceran daging manusia, ditemukan sekeping pecahan baterai 9 volt. Menurut polisi, ini ”tanda tangan” khusus dari sang peracik.

Pecahan bangkai baterai bermerek Supercell itu rupanya membuat polisi yakin bom itu buatan Azahari bin Husin, yang dibantu Noor Din M. Top. Dua orang ini adalah buron kakap kasus bom Bali. Keyakinan itu diperoleh setelah polisi menelisik pola kerja para bomber sejak aksi pengeboman pada 12 Oktober 2002 di Kuta, Bali, dan Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003.


Polisi gencar memburu dua warga Malaysia ini. Foto mereka disebar di berbagai pelosok desa. Sayembara pun dibuka: barangsiapa bisa menunjukkan keberadaan kelompok ini akan diberi hadiah Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar. Selain dua nama itu, sasaran pencarian adalah jaringan mereka, seperti Dulmatin, Rois, Umar Patek, dan Zulkarnaen.

161831003337

Kini, Azahari diyakini aparat telah tewas dalam aksi penggempuran di Batu, Jawa Timur, 9 November lalu. Sempat terjadi simpang-siur soal kebenaran berita itu sampai keluarga memberi kepastian atas jenazah tersebut sebagai Azahari. Kini, selain masih ada Noor Din M. Top, ada sel-sel dari jaringan itu yang masih bergentayangan. Tugas aparat rupanya belum rampung benar dalam mematahkan aksi teror di Tanah Air.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831003337



Iqra 1/4

Sebelumnya Selanjutnya