Tari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gusmiati suid yang makin menggigit

Karya tari gusmiati suid yang dipentaskan di gedung kesenian jakarta. ia tak lagi boros dengan tenaga, penari, dan bunyi. lugas dan jelas dalam gerak.

i
AUDITORIUM dan panggung senyap. Layar pun terangkat. Cahaya redup menyorot pilar prosenium kiri Gedung Kesenian Jakarta: seorang penari putri berbaju putih panjang dan bercelana batik komprang bergerak pelan diiringi vokal tunggal dan sendu saluang. Seorang pria berbaju putih dan bercelana loreng menyembul di pilar kanan. Keduanya saling kejar dan bergulingan sebentar, kemudian berdiri di atas kaki kiri dengan badan merunduk. Tiba-tiba, bagai seekor harimau, penari pria meloncat tinggi dan mendarat dengan sisi paha kiri cepat bergulir menggulung pasangannya yang tegak tak acuh. Pada saat yang tepat, penari wanita menghindar gampang dengan loncatan ringan. Inilah awal Catuah Langkah, karya Gusmiati Suid sepanjang 20 menit yang ditarikan oleh satu pria dan empat wanita, nomor pembuka pentas Gumarang Sakti, Sabtu, 15 Mei 1993. Selanjutnya, ketika penari wanita menghilang ke sudut kiri belakang, tiga wanita lain masuk. Kini penari pria berjongkok di depan kanan, ketiga wanita menari serempak di sudut kiri belakang. Sepi sejenak, ketiga penari bergerak akas silih berganti diiringi kelenang pada genta. Gusmiati Suid kini tak lagi boros dengan tenaga, penari, dan bunyi. Berubah posisi dengan cepat, kuat, dan diam mematung khas silat Minang masih dominan. Tetapi tak lagi dilakukan kejuju tanpa riuh talempong dan dentaman beduk. Dalam Catuah Langkah, Gusmiati Suid lebih mengendap: lugas dan jelas dalam gerak serta hemat bunyi. Dengan hanya lima penari, komposisi mampu memenuhi pentas. Sajian ini menepis gunjingan para pesaing yang menuduh gaya-garap Gusmiati Suid telah membaur dengan Boi, anak kandung dan anak didik yang sedang mekar karier kepenata-tariannya. Sebaliknya komposisi Gusmiati Suid menjadi lebih bervariasi dan para penarinya tak lagi malu bergerak lambat dan lembut. Kini, mereka boleh jalan santai dengan tangan kiri di punggung dan melenggutkan kepala dengan halus atau sebelum melangkah kanan melempar-liukkan kakinya searah jarum jam. Pada pentas kali ini Gusmiati Suid tak tampil sendiri. Ia berbagi kesempatan dengan empat anak didiknya: M. Halim, Pieter Slayan, Rafliosa, dan Benny Krisnawardi. Amai-amai, nomor kedua, adalah garapan musik yang aslinya mengiringi karya tari Boi dengan judul sama. Komposisi musik yang ditata kembali oleh M. Halim, Pieter Slayan, dan Rafliosa ini menarik. Upaya memainkannya di lorong-lorong auditorium memaksa penonton tak hanya mendengar tetapi juga melihat. Di ujung lorong melintang sebelah kanan, seorang pemain biola duduk di ketinggian. Di ujung yang lain seorang musisi bersimpuh di lantai. Dua kelompok vokalis berpindah-pindah di kedua balkon kiri dan kanan. Penonton dipaksa tahu asal bunyi-bunyi yang unik dari instrumen macam apa dan bagaimana memainkannya. Silang suara jauh dekat dari berbagai arah menyuguhkan variasi nuansa nada. Tak tahu ke mana penghargaan mesti dilayangkan: ketiga musisi, Gusmiati Suid, atau pelukis Teguh Ostenrik yang tertera sebagai technical artistic. Bakutiko, karya Benny Krisnawardi, tidak mengecewakan. Garis- garis gerak kepenarian Benny yang jelas, tegas, dan kuat, mewarnai komposisinya. Adegan menarik: sepasang penari saling menimpuk dalam posisi duduk tiga yang lain mematung sebagai latar belakang. Benny, yang juga tampil dengan lima penari, tak pernah membiarkan pentas kosong. Pilihan kostumnya: oranye di atas dan hitam di bawah memberikan kontras semarak. Mudah- mudahan Benny lebih berkembang pada masa datang. Pergelaran ditutup dengan Bakaba, karya Gusmiati. Tampak perbedaan gaya-garap Gusmiati Suid dengan kebanyakan penata tari Minang yang lain. Ia menemukan kembali tradisi Minang dalam esensi, tanpa balutan kain berlapis gemerlap warna-warni. Baginya, keindahan dapat ditemukan dalam kesederhanaan keindahan taklah identik dengan kemewahan. Bakaba merangkum imbang berbagai materi tradisi Minang: gerak tari, musik, silat, busana, drama, canda, dan cerita. Hasilnya lebih dari sekadar tempelan: enak didengar dan dipandang. Bakaba juga mengajak penonton terlibat. Panggung yang dibuka tembus ke tembok belakang (dengan jam dinding) bersama lampu-lampu dan meja rias di pinggir kanan membuka dimensi waktu dan ruang yang tak terbatas. Penonton bebas membayangkan adegan terjadi di sebuah rumah gadang, rumah Minang modern, rumah makan Minang, atau di atas panggung. Pentas yang luas memungkinkan para pemain membentuk kelompok dengan variasi keruangan yang menarik. Bakaba mengingatkan saya saat menonton Randai di sebuah perempatan jalan desa yang berdebu, berimpitan dengan ratusan penduduk: pria, wanita, dewasa, remaja, dan anak-anak yang mengelilingi ruang sempit yang disisakan untuk para pemain. Lepas tertawa dan berkomentar, tanpa jarak antara pemain dan pemirsa. Gusmiati Suid tampil semakin menggigit. Sal Murgiyanto (Kini mengajar di National Institute of the Arts, Taipei)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832778781



Tari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.