Indonesiana 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rekayasa kentut

Joko santoso,35, warga tlogorejo, pati, jawa tengah, dihadapkan ke pengadilan. pasalnya, ia dianggap kurang sopan, kentut di sembarang tempat. saat itu kebetulan ny sumarsih lewat. kini kalau ingin buang kentut terpaksa harus masuk ke wc.

i
BUANG angin dikira sehat, tahu-tahunya jadi urusan kualat. Ini dialami Joko Santoso, 35 tahun, penduduk Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Suatu malam di tokonya, Joko bercengkerama dengan sejumlah pemuda. Hahahihi kian riuh ketika tiba-tiba ia membuang ''bom'': puut..., persis saat Sumarsih lewat. ''Kalau kamu mau kentut, silakan. Tapi kenapa ketika aku sedang lewat lantas kamu kentut? Itu namanya menghina orang tua, ya,'' ujar Sumarsih, 55 tahun. Tetangganya itu bahkan menyemprot ibunda Joko, Nyonya Muhsan, yang tidak tahu apa-apa mengenai tingkah laku anaknya itu. Bagai dapat ketan tak berkerambil apalagi orang tuanya dilibat-libatkan Joko balik meradang. ''Apa salahnya saya kentut? Kan tidak disengaja. Jadi orang tua ngomong harus dipikir,'' sahutnya. Tapi Sumarsih tampaknya sudah telanjur tersinggung, sehingga ia mengadu ke Kepolisian Sektor Tlogowungu. Kasusnya lalu bergulir ke meja hijau. Lantas, siapa yang salah? Yang kentut, yang ketawa, atawa yang lewat? ''Kalau tidak kentut, bisa masuk angin. Jika sampai sakit, bisa berabe, ongkos obat mahal harganya,'' kata Joko di depan sidang Pengadilan Negeri Pati. Mendengar ucapan yang membuat gerr pengunjung yang membeludak itu, Hakim H.S. Hasibuan menganggap Joko berkelit alias mungkir. Itulah yang memberatkannya. Sedangkan yang meringankan, Joko belum pernah dihukum. ''Bagi orang Timur umumnya, dan khususnya bagi orang Indonesia, kentut termasuk perbuatan tabu. Pengadilan berpendapat terdakwa bersalah,'' ujar Pak Hakim seraya merujuk Pasal 315 KUHP, yaitu penghinaan ringan. Tok! Vonisnya dua minggu dengan masa percobaan enam bulan, ditambah ongkos perkara Rp 500, akhir April silam. ''Biar untuk pelajaran. Saya cukup puas,'' komentar Sumarsih seperti dilaporkan wartawan TEMPO, Bandelan Amarudin. Akan halnya Joko, ia kemudian menyatakan naik banding. ''Putusan hakim tidak adil. Soal kentut kok dianggap penghinaan,'' ujarnya pekan silam. Joko kecewa lagi ketika harus membayar Rp 40 ribu untuk fotokopi vonis lima lembar. Untuk keperluan bandingnya, hari-hari ini ia berkonsultasi dengan Pengacara Suharsono. Dan sambil menunggu putusan banding, Joko harus menyinkronkan kuping dengan ''knalpot''-nya agar terhindar dari ancaman hukuman. Rencananya, tiap akan kentut ia akan masuk WC. ''Tapi apa kentut memang bisa direkayasa?'' Joko tertanya-tanya. Ed Zoelverdi

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833239123



Indonesiana 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.