Laporan Khusus 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Harus ada social cost

Pembebasan lahan untuk padang golf ternyata sangat merugikan penduduk. mereka kehilangan lahan dan tidak kebagian kerja di bisnis golf.

i
BENARKAH lapangan golf meningkatkan kesejahteraan masyarakat? ''Saya nggak pernah bilang begitu,'' sangkal Sudomo, bekas Menko Politik dan Keamanan yang juga Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI). ''Saya bilang lapangan golf bisa menyerap lapangan kerja yang lumayan,'' tangkisnya. Selama sepuluh tahun menjadi Ketua PGI, Sudomo menurut pengakuannya selalu mengingatkan agar investasi golf jangan menggunakan lahan produktif. ''Pertama, sawah tidak boleh dibuat jadi lapangan golf,'' ujar Sudomo. Kedua, harus membuat analisa mengenai dampak lingkungan (amdal). Ketiga, pembangunan lapangan golf harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Keempat, pembebasan tanah jangan sampai menimbulkan gejolak sosial. Keempat syarat Sudomo itu baik sekali. Tapi kenyataan di lapangan kadang berbicara lain. Kasus Cimacan (1988), misalnya. Lima tahun lalu, petani Desa Cimacan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, dikejutkan oleh sejumlah papan pengumuman yang terpancang di atas 34 hektare lahan yang mereka garap turun-temurun. Bunyi pengumuman itu ialah: ''Yang tidak mengambil uang pangjeujeuh berarti menghambat pembangunan dan menentang Pemerintah''. Pangjeujeuh artinya ''ganti rugi''. Jumlahnya Rp 30 (tiga puluh rupiah bukan tiga puluh ribu rupiah) per meter persegi. Layak diingat, harga kerupuk waktu itu sudah Rp 50. Mengapa harga tanah lebih murah ketimbang kerupuk? Jawabannya: karena status lahan itu bukan milik penduduk, melainkan tanah titisara atau tanah milik desa. Penduduk menyewanya Rp 2.000 per patok tiap tahun (34 hektare sama dengan 850 patok). Kalau setoran uang sewa lancar, kas desa memperoleh Rp 1,7 juta per tahun. Namun, menarik Rp 400.000 dari penduduk sulit sekali karena lahannya memang tidak subur. Lalu Kepala Desa Cimacan mengupayakan izin gubernur untuk menyewakan lahan kepada PT Bandung Asri Mulia (BAM) pada tahun 1988. Dan berhasil. Sejak itu PT BAM berhak mengelola lahan 34 hektare dengan sewa Rp 90 juta untuk 30 tahun. BAM juga membayar ganti rugi kepada petani sembari menjanjikan lapangan kerja. Tapi sekitar 200 petani menolak ganti rugi. Mereka menyerbu ''bekas'' lahannya, lantas mencangkul di sana beramai-ramai. Sebagai jawabnya, BAM malah mengundang polisi untuk ''menertibkan'' mereka. Sekarang, penduduk Cimacan bertemperasan. Ada yang menjadi tukang parkir, tukang ojek, pedagang kaki lima, pemilik warung, ataupun penganggur. ''Protes golf'' juga terjadi di kawasan sekitar Puncak. Pertengahan Januari lalu, sekitar 500 penduduk Desa Jayanti, Citeureup, Bogor, mengamuk. Bagaikan kerasukan setan, mereka menyerbu base camp dan gudang PT Light Instrumenindo. Satpam yang ada di situ sekitar 40 orang lari angkat kaki. Kesempatan bagus itu digunakan oleh massa. ''Bakar, bakar ...!'' seru mereka. Tiga bangunan PT Light pun hangus dimakan api. Delapan mobil ringsek. Penduduk setempat marah karena proyek agrowisata dan lapangan golf akan dibangun di lahan garapannya. Tanah seluas 150 hektare yang diambil PT Light memang bukan milik penduduk, melainkan tanah negara bekas PTP XI. Tapi penduduk sudah menggarapnya sejak akhir 1992. PT Light mencoba mengusir mereka dengan segala cara. Ada satpam yang dikerahkan untuk menganiaya Abdullah dan keluarganya. Belakangan, PT Light sampai mengerahkan buldozer. Di Bandung, ada pula pak tua yang naik pitam. ''Saya akan mempertahankan tanah saya sampai titik darah penghabisan. Tak akan saya jual untuk lapangan golf,'' demikian Abdurachman, 73 tahun, mempermaklumkan tekadnya. Dia adalah warga Kampung Ciosa, Desa Mekar Saluyu, Kecamatan Cimenyan, Bandung Utara. Lelaki tua ini memiliki lahan pertanian seluas 3,5 hektare yang sudah ditawar oleh PT Bandung Pakar, perusahan milik bekas pejabat di Jawa Barat. Karena menolak, ia pernah diancam oleh calon pembeli. Abdurachman tidak sendirian. Segenap warga Desa Mekar Saluyu siap melawan. Sementara itu, terbentuk Komite Pemuda Muslim untuk Masyarakat Mekar Saluyu-Ciburial, yang lalu mengadu ke DPRD Bandung. Komite ini akan mewakili warga yang menentang rencana PT Bandung Pakar. Perusahaan ini berniat membebaskan seluruh Desa Mekar Saluyu luasnya kira-kira 500 hektare setelah berhasil membeli 200 hektare dari penduduk Saluyu dan Ciburial. Bila upaya itu berhasil, hampir 3.000 warga Saluyu harus mencari tempat tinggal baru. Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa bagi rakyat kecil, padang golf bukanlah rahmat, tapi bencana. Berbicara tentang nasib malang petani, Otto Soemarwoto memastikan bahwa mereka perlu sumber pendapatan baru. ''Mereka harus lebih baik daripada sebelum ada golf. Bagaimana caranya? Itu yang harus dipikirkan pengusaha,'' kata Otto. Kini jumlah padang golf semakin banyak. LSM Skephi mensinyalir bahwa pertambahannya lebih cepat daripada peningkatan jumlah pemain golf. Ada kesan, di satu sisi Pemerintah ingin mempersempit senjang kemiskinan, di sisi lain seakan-akan mensubsidi orang kaya dengan menyediakan lahan murah, sementara penduduk dibiarkan tergusur. Dan tidak ada pengganti lahan, seperti yang diusulkan Otto. Tak ada lapangan kerja di padang golf. Dari hasil pemantauan KAAPLG di Pantai Indah Kapuk, Bumi Serpong Damai, Sawangan, Pondok Indah, dan Pondok Cabe, ternyata sebagian besar tenaga kerja didatangkan dari daerah lain. Penduduk setempat hanya sedikit yang terserap. Itu pun terbatas sebagai buruh kasar. Melihat praktek-praktek semacam itu, KAAPLG lalu mengusulkan kepada Pemerintah agar menetapkan program community development pengembangan masyarakat untuk izin lapangan golf baru. ''Setiap developer nantinya harus mengeluarkan ongkos sosial (social cost) untuk merehabilitasi masyarakat yang tergusur. Ini yang belum dilakukan Pemerintah,'' kata Dedi Ekadibrata, juru bicara KAAPLG. Priyono B. Sumbogo, Linda Jalil, Taufik Abriansyah, dan Sri Wahyuni

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836753623



Laporan Khusus 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.