Luar Negeri 7/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Takut dipantau satelit

Pemilu di kamboja tengah berlangsung untuk memilih anggota dewan konstituante nasional. para pemilih bingung dan takut. untac terpaksa memberikan kursus kilat pemilu. beredar isu, ada satelit yang memantau para memilih mencoblos gambar partai.

i
BANYAK di antara pemilih yang tak tahu buat apa mereka ikut pemilu. Itu bisa dimaklumi sejak 1966, inilah pertama kalinya Kamboja menyelenggarakan pemilu. Dua puluh partai berebut 120 kursi Dewan Konstituante Nasional. Dari dewan inilah diharapkan lahir sebuah konstitusi, yang akan dijadikan undang-undang dasar bagi terbentuknya sebuah pemerintahan baru. Setelah menyelesaikan tugasnya, Dewan Konstituante Nasional ini otomatis akan berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Kamboja, sebagai parlemen. Kursi dewan itu dibagi ke daerah menurut jumlah penduduk tiap- tiap daerah. Makin padat, jumlah kursinya juga makin banyak. Karena itu, bisa dimaklumi, kasus pelanggaran banyak dijumpai di kawasan yang padat penduduknya selama kampanye yang lalu. Dan pelanggaran itu banyak dilakukan oleh Partai Rakyat Kamboja, partai kelompok Hun Sen. ''Lebih dari 50% kasus dilakukan oleh partai itu,'' kata Dennis McNamara, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia UNTAC, kepada wartawan. Bisa dimaklumi karena faksi ini tak sepenuhnya dilucuti senjatanya, karena diperlukan untuk membantu UNTAC melaksanakan urusan administrasi pemerintahan sehari-hari. Untuk menjaga keabsahan pemilu, seribu pengamat dari 43 negara didatangkan. Indonesia diminta mengirimkan 55 pengamat. Untuk mengamankan gangguan dari pendukung Partai Demokratik Kamboja, partai kelompok Khmer Merah, yang tak ikut pemilu, UNTAC menempatkan lebih banyak pasukannya di kawasan yang padat penduduknya. Selain diizinkan menembak, mereka juga ditambah peralatan perangnya. Mengingat masih banyak pemilih yang tak berpengalaman mengikuti proses politik ini, UNTAC memberikan kursus kilat cara memilih melalui peragaan dan penerangan melalui video. Kursus kilat itu tak hanya berisi penjelasan jalannya pemilu, tapi juga untuk meyakinkan mereka yang semula ragu dan takut pilihannya diketahui orang lain. Maklum, di Kamboja beredar isu bahwa pada hari pemilu ada satelit mengambang di atas Kamboja. Satelit itu dapat memotret para pemilih mencoblos gambar partai. Ada pula cerita bahwa alat pencoblos yang digunakan pemilih dilengkapi dengan kamera. Selama tiga hari pemungutan suara dilakukan di 1.500 tempat pemungutan suara berkurang dari semula 1.800 buah karena faktor keamanan. Agar suara pemilih di daerah terpencil dapat terjaring, tersedia pula kotak suara yang dibawa kendaraan dan helikopter UNTAC. Untuk itulah, pemungutan suara diperpanjang waktunya hingga enam hari. ''Pemilu ini paling sulit dilakukan dan diramalkan hasilnya,'' kata Reginald Austin, ketua penyelenggara pemilu UNTAC, yang berpengalaman melaksanakan pemilu di Angola dan Mozambik. Austin menambahkan, keberhasilan pemilu di Kamboja ini tak hanya dipengaruhi oleh keamanan, tetapi juga faktor cuaca. ''Kalau jumlah pemilih yang ikut mencapai separuh dari 4,7 juta orang yang terdaftar, bisa dianggap memuaskan,'' ujarnya. Bentuk pemerintahan Kamboja kelak tentulah tergantung konstitusi yang akan disusun nanti. Menurut Ketua UNTAC Yasushi Akashi, para pemimpin Kamboja cenderung memilih bentuk pemerintahan parlementer Perancis. Bisa jadi, karena di negeri bekas jajahan Perancis ini kebanyakan para pemimpinnya berlatar belakang pendidikan Perancis. YI (Phnom Penh)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836665087



Luar Negeri 7/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.