Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bahaya itu bernama khasbulatov

Konflik khasbulatov dengan yeltsin merupakan konflik pribadi ataukah bukan, hasil pertarungan dua tokoh ini akan menentukan masa depan republik federasi rusia.

i
SUKA atau tidak suka, orang yang bernama Ruslan Imranovich Khasbulatov harus diperhitungkan secara serius, bukan saja oleh Boris Yeltsin. Sebagai Ketua Kongres Wakil Rakyat, parlemennya Rusia, ia bisa memakai lembaga ini sebagai kuda tunggang untuk mewujudkan ambisinya: menggulingkan Boris Yeltsin dari kursi kepresidenan. Dan itu sangat mungkin bisa dilakukannya. Khasbulatov sejauh ini sudah membuktikan kemampuannya meniti tambang krisis politik untuk mempertahankan posisinya. Sang ketua parlemen ini menjadi orang penting di Rusia kini bukan hanya karena dialah satu-satunya lawan Boris Yeltsin yang vokal dan memegang senjata --yakni parlemen itu. Berbeda dengan parlemen-parlemen umumnya, Kongres Wakil Rakyat di Rusia, selain berfungsi sebagai lembaga legislatif, juga punya akses ke dalam lembaga eksekutif. Lembaga ini, misalnya, bisa menjatuhkan personalia kabinet. Dan itu sudah terjadi dalam sidang parlemen Desember tahun lalu. Parlemen sangat keberatan bila Boris Yeltsin mengangkat kembali Yegor Gaidar sebagai perdana menteri. Reformis yang tak kurang menggebunya dibandingkan dengan Yeltsin itu oleh Khasbulatov dianggap berbahaya bagi negara dan bangsa. Konsep reformasi yang dijalankannya, menurut penilaian Khasbulatov, menjadi penyebab porak-porandanya Rusia. Ia, Khasbulatov itu, menjadi penting karena permusuhannya dengan Yeltsin membawa juga masa depan Rusia. Di belakang Khasbulatov, diduga, terseret sebuah khaos, kekacauan, karena kemenangannya bisa berarti runtuhnya stabilitas di Rusia yang kini sedang dicoba dibangun oleh Yeltsin. Kemenangan Khasbulatov bisa juga berarti reformasi ekonomi mendapatkan arah baru yang berbeda dengan yang sudah digariskan oleh Yeltsin. Bila itu terjadi, terbuka kemungkinan demokrasi yang oleh Yeltsin dan pendukungnya dicoba dipertahankan dengan taruhan apa pun itu akan terseret ke arah lain. Dan ketika itu, Ruslan Khasbulatov akan juga menyebut dirinya seorang reformis. Sesungguhnya, ia memang pernah berada dalam kubu reformis, yakni di awal runtuhnya Uni Soviet. Ia memang mengawali kariernya dari sana, ketika mendukung Boris Yeltsin untuk bersama-sama mendepak Mikhail Gorbachev. Khasbulatov lahir tahun 1942, di Chenchen, republiknya orang Kaukasia. Ia tak lama menghirup udara Kaukasia karena keluarganya keburu diusir oleh Stalin. Tampaknya Stalin sedang mencoba mengucilkan mereka yang dianggapnya berkolaborator dengan Jerman. Keluarga Khasbulatov diusir ke Asia Tengah, tepatnya ke Republik Kazakhstan. Di tanah pengasingan, Khasbulatov tumbuh di tengah kemelaratan. Ibunya bekerja di sebuah tanah pertanian kolektif. Demikian pula Khasbulatov. Entah bagaimana, dari tanah pertanian, Khasbulatov bisa masuk ke Fakultas Hukum Universitas Alma Alta di Kazakhstan. Dari fakultas inilah ia berhasil masuk ke Universitas Negeri Moskow, lembaga pendidikan yang paling elite di seluruh Soviet kala itu. Di tahun sebelumnya, ke lembaga ini pun masuk seorang mahasiswa dari daerah, yakni Mikhail Gorbachev. Bedanya, Gorbachev diterima dengan pintu yang terbuka selebar-lebarnya, sebagai contoh seorang pemuda komunis teladan. Sedangkan Khasbulatov diterima dengan kecurigaan, karena ia datang dari keluarga yang dikucilkan. Dan dialah mahasiswa pertama dari Chenchen di Universitas Moskow itu. Di Moskow, Khasbulatov memang menjadi contoh bagaimana mahasiswa yang datang dari keluarga yang dikucilkan bisa diterima kembali. Ia cepat diterima dan segera menjadi aktivis di Komsomol, organisasi pemudanya Partai Komunis Uni Soviet. Ia pun berhasil merintis jalan ke Komite Sentral, lembaga yang menampung calon-calon pemimpin masa depan. Mereka yang diterima dalam Komite Sentral ini punya hak bepergian ke luar negeri dan akan menjadi lapisan menengah pemimpin Uni Soviet. Khasbulatov lulus dari Universitas Moskow sebagai ekonom, karena di tengah jalan ia pindah jurusan. Kemudian ia diterima menjadi dosen di Institut Ekonomi Plekhanov, sebuah lembaga yang menduduki peringkat di bawah Institut Matematika Pusat atau Institut Ekonomi di Akademi Ilmu Pengetahuan di Moskow. Tapi, karena tempatnya di Moskow juga, Institut Plekhanov pun cukup ternama dan menjadi almamater sejumlah ekonom terkenal. Nama Khasbulatov sampai saat itu hanya dikenal sebatas dinding kampus. Masyarakat Moskow baru mengenal namanya ketika Mikhail Gorbachev selaku Sekretaris Jenderal Partai Komunis memperkenalkan konsep keterbukaan yang disebut glasnost itu. Ketika itu, Khasbulatov menulis pentingnya liberalisasi, terutama liberalisasi harga-harga. Artikel itu muncul di Pravda pada tahun 1986 dan, menurut Khasbulatov, menjadi tonggak serta acuan pemikiran liberalisasi selanjutnya. Tentu saja waktu itu ia menjadi bulan-bulanan kritik, baik di Institut Plekhanov sendiri maupun di dalam partai. Ia dituduh terpengaruh pemikiran Barat yang kacau. Tapi, dengan Barat, Khasbulatov tak berhenti di situ. Ia kemudian melakukan penelitian tentang ekonomi Kanada. Dan dalam sebuah wawancara setelah ia berkunjung ke Kanada, ia menyatakan terus terang keraguannya tentang doktrin perjuangan kelas. Saya kagum mengamati kehidupan di kota-kota di Barat. Kota-kota itu begitu bersih dan rapi. Pagi-pagi, pengantar susu dan makanan meletakkan botol susu atau keranjang makanan di depan pintu langganannya. Orang-orang di jalan terus saja berjalan, tak ada yang tergoda untuk mengambil susu atau makanan itu. Hal ini menjadikan saya ragu bahwa perjuangan kelas adalah sesuatu yang tak terelakkan dalam masyarakat. Pada tahun 1990 Khasbulatov terpilih menjadi anggota Kongres Wakil Rakyat Rusia, mewakili Grozny, ibu kota Chenchen. Pemilihan ketika itu terbawa hingga ke susunan parlemen Rusia kini. Dalam hal Khasbulatov, umpamanya, tercermin kelemahan pemilihan itu. Ia, yang terpilih mewakili Grozny, sama sekali tak punya hubungan dengan masyarakat kota itu. Khasbulatov boleh dikata hanya hidup di Kazakhstan dan Moskow. Di Grozny, ia cuma diterjunkan ketika di situ diadakan pemilihan wakil rakyat, dan ia harus bersaing dengan sekretaris dua partai cabang. Hampir semua anggota Kongres Wakil Rakyat Rusia kini punya latar belakang sejarah mirip Khasbulatov -- baik mayoritas yang bergaris keras dan melawan Yeltsin maupun minoritas yang mendukung Yeltsin. Ia akhirnya terpilih, menurut pengakuan Khasbulatov sendiri, karena masyarakat Grozny mengenalnya sebagai reformis dari Moskow. Dan itu berkat bantuan rekan-rekan dan mahasiswa di Universitas Grozny. Juga, bantuan dari para profesor di berbagai universitas di Moskow. Dan bantuan sejumlah wartawan Moskow. ''Saya beruntung karena berbagai tulisan saya tentang ekonomi- sosial bisa dipahami oleh pembaca di kalangan luas. Ditambah dengan sedikit bantuan kampanye, saya pun menang dengan mudah,'' tuturnya dalam bukunya yang terbit tahun lalu, Perjuangan untuk Rusia: Kekuasaan dan Pergantian dalam Revolusi Demokratik. Dan itu berarti wakil Grozny ini tak mengenal aspirasi kota yang diwakilinya. Dan ia pun boleh dikata tak pernah mengunjungi kota itu, apalagi sekarang, setelah Chenchen memproklamasikan diri sebagai republik merdeka. Bahkan, Presiden Chenchen kini, Jenderal Dzhokar Dudayev, bekas perwira di Angkatan Udara Soviet, mengeluarkan semacam fatwa pada tahun 1992: menjanjikan hadiah bagi mereka yang bisa membunuh Khasbulatov. Itu sebabnya Khasbulatov mendapat pengawalan ketat sampai sekarang. Kepemimpinannya di parlemen mendapat jalan setelah ia mendukung Yeltsin sebagai calon ketua parlemen -- satu-satunya dukungan dari mayoritas garis keras. Ketika Yeltsin harus menghadapi mayoritas garis keras itulah Khasbulatov menjadi penjabat ketua. Status penjabat itu praktis tanggal di masa kudeta gagal, Agustus 1991. Ketika itu, ia menjadi peran utama dalam mempertahankan Gedung Putih, gedung parlemen Rusia, dari kelompok yang ingin merebut kekuasaan. Dalam perkembangan selanjutnya, Khasbulatov cepat melihat ke mana mayoritas anggota parlemen menoleh. Dan ke sanalah ia berpaling. Dan itu tak lain adalah melawan presidennya sendiri, Boris Yeltsin. Sebenarnya, di antara anggota parlemen, banyak yang populer dan punya kesempatan untuk menjadi ketua. Tapi mereka umumnya menyuarakan kelompok. Khasbulatov-lah, yang tak punya kelompok, yang bisa berdiri di atas semua kelompok. Maka, dialah satu-satunya yang dianggap layak menjadi ketua. Kritik utama Khasbulatov terhadap Yeltsin adalah soal ekonomi, ilmu yang ia pelajari di masa kuliahnya dan yang dikajinya semasa ia menjadi dosen. Ia sendiri tak pernah mempublikasikan konsep ekonominya. Yang dilakukannya adalah mengecam pedas politik ekonomi Yeltsin sejak akhir tahun 1991. Kritik terakhirnya adalah terhadap kebijakan ekonomi Yegor Gaidar, yang menjabat perdana menteri. Berkali-kali Khasbulatov berkata bahwa Gaidar dan timnya tak memahami ekonomi Rusia. Tampaknya, dilihat dari kata-katanya, Khasbulatov menghendaki sebuah ''kapitalisme perusahaan negara'' yang dikontrol ketat oleh negara tapi punya keleluasaan berusaha. Berikut adalah tipikal pemikiran Khasbulatov: Parlemen harus memikirkan secara mendasar pemisahan daerah ekonomi dan politik. Satu hal jelas bahwa kata ''larangan'' membawa keuntungan bagi mereka yang menginginkan dilemahkannya peraturan atas nama pemerintah. Kebijakan yang menyebabkan industri lumpuh dan membiarkannya sampai pemerintah membebaskannya dari kewajiban membayar pajak, atau menunggu parlemen memaksa eksekutif memperhatikan masalah itu, merusak logika ekonomi. Karena usaha macet, subsidi industri dipotong. Karena barang konsumsi impor dikenai pajak, kita tak memproduksinya dan melarang siapa pun mengimpornya, padahal semua orang bisa saja mendatangkan barang itu .... Padahal, di masa Uni Soviet masih berdiri, Khasbulatov sangat bersuara reformistis. Ia, misalnya, menyebut pemerintahan yang sentralistis merupakan sumber segala kebobrokan. Kini, dengan lihainya, ia menciptakan citra Dana Moneter Internasional dan lembaga-lembaga bantuan keuangan Barat lainnya sebagai momok. Akibatnya, muncullah suara-suara yang anti-ekonomi pasar bebas dan menyebut-nyebut untungnya perekonomian yang dikontrol pemerintah. Tak berarti mereka yang bersuara itu menghendaki sepenuhnya sistem lama diberlakukan lagi dan sebagian terang-terangan menolak sistem lama itu. Tapi, mereka pun tak mengingini sistem yang berjalan sekarang ini, yang mereka nilai serba tidak pasti: nilai rubel anjlok terus, dan negara menjadi objek belas kasihan negara lain. Inilah kartu-kartu di tangan Khasbulatov. Yang tak mereka sadari sebenarnya adalah ini: sistem ekonomi pasar bebas berjalan tanpa roda-roda yang mendukungnya, yakni undang-undang swastanisasi dan pemilikan tanah. Akibatnya, muncul spekulan dan serba-ketidakpastian itu. Tapi Khasbulatov melihat secara lain. Ia menulis bahwa masalah dasar di Rusia kini adalah ''tak berkembangnya institusi politik, masih bersifat embrionya faksi-faksi di parlemen, lemahnya partai politik, dan tiadanya kekuatan opini publik''. Tampaknya Khasbulatov tahu benar selera politik massa. Parlemen yang dipimpinnya adalah contoh yang baik betapa lemahnya institusi politik itu, karena didasarkan pada konstitusi lama yang tak mendudukkan parlemen sebagai pengontrol eksekutif, tapi malah punya akses ke dalam lembaga pemerintahan. Dengan kata lain, parlemen Rusia adalah lembaga yang belum benar-benar mewakili sistem demokrasi, melainkan baru menuju ke arah sana. Lembaga ini pada dirinya sendiri belum jelas batas- batas wewenangnya. Celakanya, Khasbulatov dengan sadar memanfaatkan ketidakjelasan itu untuk menumpuk kekuasaan pada dirinya sendiri. Ia berusaha menghancurkan wewenang presiden sebagai penanggung jawab lembaga eksekutif. Caranya adalah membuat lembaga ini bergantung pada parlemen: bank sentral di bawah kekuasaan parlemen, dan perdana menteri serta menteri baru bisa sah diangkat dengan persetujuan parlemen. Itulah mengapa kenaikan uang pensiun dan gaji pegawai negeri tertunda: pengeluaran anggarannya ditolak oleh bank sentral karena perintah dari parlemen yang dipimpin oleh Khasbulatov. Nah, apa pun usaha yang dilakukan Boris Yeltsin sebagai presiden untuk bebas dari kontrol parlemen, itu akan dengan mudah dicap oleh Khasbulatov sebagai usaha menciptakan pemerintahan diktator. Khasbulatov merasa wajib menghentikan usaha itu. Soalnya, ia memang harus menghentikan Yeltsin, kalau tak mau kehilangan kedudukan -- sebagai ketua parlemen atau apa pun kedudukan itu. Khasbulatov, orang Chenchen itu, bukan saja telanjur berjalan jauh, tapi ia pun sudah telanjur berbalik sikap. Ia tak merasa aman lagi tanpa kekuasaan --bukankah Presiden Chenchen pun sudah menyediakan hadiah buat yang bisa membunuhnya? BB

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836281980



Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.