Kolom 6/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari santri ''sarungan''

Polemik tentang peristiwa mi'raj dan letak masjidil al-aqsha

i
Tulisan M. Hanif Muslich dari PP Futuhiyyah Mranggen, Demak, Ja-Teng, dan disambut dengan pertanyaan gencar oleh A. Dawam Rahardjo (TEMPO, 3 April 1993, Komentar) telah ''mengentak'' dunia santri di negeri ini dari keasyikannya menggeluti persoalan agama (hanya) dari kitab-kitab Islam klasik. Saya salah seorang santri ''sarungan'' tapi tidak ber-theklek ingin memberikan sumbangsih pikiran. Jika Dawam bertanya, kalau sebelum peristiwa Mi'raj sudah ada Masjid Al-Aqsha, siapa yang bersalat di situ dan mereka memakai cara apa, jawabnya adalah: 1. Jika kita membahas makna kata Masjid Al-haram dan Masjid al-Aqsha dalam Surah Al-Isra' ayat 1, hendaknya persepsi kita tidak membayangkan wujud masjid yang kita kenal saat ini. Yang dimaksud masjid dalam konteks itu adalah Baitullah/Bait-El. Artinya, Masjid Al-Haram adalah Baitullah/Bait-el di Mekah dan Masjid Al-Aqsha adalah Baitullah/Bait-el di Yerusalem. Jika kita membuka Torah (Kitab Taurat) bagian Eleh Syemot (Keluaran) pasal 20 ayat 23-26, kita akan beroleh keterangan bahwa Baitullah/Bait-El atau Mezbah Persembahan bagi Allah (sesuai dengan petunjuk Allah sendiri) harus dibangun dari tanah atau batu yang tidak dipahat, dan membangunnya tidak boleh memakai tangga. Karena itu, Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah tidak menggunakan tangga melainkan batu tumpuan (disebut Maqam Ibrahim). Dari petunjuk Torah di atas, jelas bahwa bentuk Baitullah adalah seperti Ka'bah yang terbuat dari tanah dan batu yang tidak dipahat dengan bentuk kubus. Adanya Maqam Ibrahim menunjukkan bahwa batu itu disusun sedemikian rupa dengan tanah sebagai bahan perekatnya. 2. Pada zaman Nabi Ibrahim, Ka'bah selain dipakai sebagai ibadah tawaf, berdiri, rukuk, dan sujud (QS. Al-Hajj: 26, 30), juga dipakai untuk menyembelih hewan kurban (QS. Al-Hajj: 33). Cara beribadah seperti di Ka'bah itu juga dilakukan oleh keturunan Nabi Ibrahim dari Bani Israel, di mana Nabi Musa dan nabi-nabi sesudahnya jika beribadah digambarkan berdiri ('amad), berlutut (kara'/ ruku'), dan sujud menyembah (hisy tahaweh) (Eleh Syemot/Keluaran. 24:1 Wayyiqra/Imamat.9:5 Tehillim/Mazmur.134:1-2 1 Melakim/ Raja-raja.8:14 Yesyayahu/Yesayah.45: 3 Ezra.9:5 Yehosyua/ Yusak.5:14 Yermeyahu/Yeremiah.26:20. 3. Dalam Islam dikenal hari raya haji yang berpuncak pada hari raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah, sedangkan Bani Israel mengenal hari raya Hag (Arab = Hajj) yang berpuncak pada tanggal 10 bulan Tishri yang dilakukan dengan berpuasa dan menyembelih kurban. Upacara penyembelihan kurban itu kadang disebut Zabah atau menyembelih (Eleh Syemot/Keluaran.20:24) tetapi sering juga disebut Hiqrib/Qereb (Arab = Qurb) yang berarti mendekatkan (Wayyiqra/Imanat.7:9 Bemidbar/Bilangan.28:11). 4. Jika saat ini di Yerusalem tersisa tembok ratapan, dulunya bangunan itu berbentuk kubus seperti Ka'bah. Artinya, tembok ratapan yang di Yerusalem itu adalah sisa Baitullah/Bait-El di Yerusalem yang sudah runtuh ketiga sisinya. Jadi, yang dimaksud Quran sebagai Masjid Al-Aqsha adalah sisa tembok Baitullah/Bait-El yang dikenal dengan nama tembok ratapan itu, karena di situlah para nabi sejak Daud sampai Sulaiman dan penerusnya bertawaf, berdiri, rukuk, sujud, dan menyembelih hewan kurban pada hari raya Hag. Sampai saat ini tembok sisa Baitullah/Bait-El itu masih dijadikan tembok ratapan, adapun Baitullah di Makkah pun (Ka'bah) juga dijadikan tempat meratap. Tempo dulu menurut Quran Kota Mekah disebut Bakaa, yang menyelipkan makna ''menangis''. Sebab itu, wajar saja jika dalam menjalankan ibadah haji hampir setiap muslim yang datang ke Ka'bah akan selalu menangis (meski kegiatan menangis di Baitullah dalam ajaran Islam tidak dilembagakan seperti penganut Yahudaisme, melainkan bersifat individual sekali). Dari uraian di atas, jelaslah bahwa yang dimaksud Masjid Al-Haram adalah Baitullah/Bait-El yang di Mekah (Ka'bah) dan Masjid Al-Aqsha adalah Baitullah/Bait-El yang di Yerusalem (Tembok Ratapan). Mengenai pemindahan kiblat umat Islam dari Baitullah/Bait-El di Yerusalem ke Baitullah/Bait-El di Makkah, saya kira kita semua sudah mafhum. Karena itu, dari persoalan ini dapat disimpulkan bahwa ibadah salat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tidak berbeda dengan ibadah salat yang diajarkan oleh nabi-nabi sebelum beliau, karena Islam sendiri bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari agama monoteisme-eskatologis yang pernah disampaikan Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa (QS. Asy-Syura: 13). AGUS SUNYOTO Pesantren Nurul Haq Peneleh I No. 4-6, Surabaya

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832914421



Kolom 6/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.