Nasional 3/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Embargo sebuah desa

Lokasi transmigrasi dijaga aparat keamanan. orang luar dan bantuan makanan tak bisa masuk. penduduk pernah menyerbu kantor polisi.

i
ADA kabar, terjadi kelaparan di Sei Lepan. Tak syak lagi, Forum Solidaritas Lembaga Swadaya Masyarakat di Sumatera Utara pun buru-buru mengedrop bantuan pangan pada 13 Mei lalu. Namun, aksi sosial itu gagal. Menurut para pekerja sosial itu, lima pintu masuk ke lokasi transmigrasi lokal di Kabupaten Langkat, 102 kilometer dari Medan, dijaga ketat sejumlah aparat keamanan. Akibatnya, bantuan beras, gula, garam, dan ikan asin yang mereka gotong pun terkatung-katung di kantor Camat Sei Lepan, yang masih jauh dari lokasi itu. Padahal, pemimpin forum solidaritas itu, Osmar, telah mengantongi surat pengantar dari Kanwil Departemen Sosial Sum-Ut. Kalau toh mereka tak dibolehkan masuk, biarlah Pak Camat yang menyalurkannya. Ternyata, Pak Camat pun tak berani turun lantaran tak ada perintah dari bupati. Menurut pengamatan wartawan TEMPO yang berkunjung ke lokasi itu 20 Mei lalu, suasana di sana terasa mencekam. Pada lima pos di pintu masuk itu, misalnya, tampak sejumlah petugas berpakaian preman menyandang senjata laras panjang. Setiap pos rata-rata dijaga enam petugas. ''Karena situasi belum aman, orang luar tak boleh masuk,'' ujar seorang petugas di situ. Penjagaan ekstra-ketat itu dilakukan menyusul penyerangan kantor Polsek Pangkalanbrandan pada Lebaran lalu oleh ratusan transmigran Sei Lepan. Ini gara-gara polisi menolak tuntutan penduduk agar tiga warga transmigran yang ditahan karena tuduhan mencuri sawit dibebaskan dari tahanan. Tak syak, 199 transmigran ditahan, dituduh terlibat aksi mengobrak-abrik kantor polisi itu. Menurut sumber TEMPO, penjagaan itu dilakukan semata-mata karena kawasan tersebut masih dianggap rawan oleh aparat keamanan. Lagi pula, maksudnya, agar pihak ketiga yang mencoba menghasut warga yang masih tinggal di Sei Lepan dapat diblokir. ''Ingat, dalang perusakan kantor polisi itu masih ada yang buron,'' katanya. Kepala Dinas Penerangan Polda Sum-Ut, Letkol Leo Sukardi, mengaku kaget mendengar ada kelaparan di sana. ''Jika ada, pasti pemda akan turun tangan,'' katanya. Kecuali ada berita kelaparan, lokasi transmigran itu memang sepi. Karena, selain ada yang ditahan, sebagian warga takut dan mengungsi. Suryawaty, misalnya, kini pindah ke rumah ayahnya di luar lokasi bersama anaknya yang berumur 9 bulan setelah suaminya ditahan. Yang malang adalah Sabar, 8 tahun. Ia menumpang di desa tetangga sejak ayahnya ditahan. Ibunya mengungsi entah ke mana bersama dua adiknya yang masih kecil. Kodratsyah, Direktur PT Anugerah Langkat Makmur (ALM), bapak angkat peserta PIR lokal itu, membantah isu kelaparan tersebut. ''Mereka yang bekerja digaji Rp 2.500 sampai Rp 3.000 sehari,'' katanya. Maklum, kini sawit PT ALM menjelang panen, dan perusahaan itu mempekerjakan 175 transmigran. Jika pun ada yang kelaparan, kata Kodratsyah, itu dulu. ''Mereka yang kini ditahan itu cuma enak ngopi di kedai dan menggantungkan hidup dari istrinya yang banting tulang sebagai buruh,'' katanya. Sebagai bapak angkat, PT ALM bertugas hingga tanaman sawit jadi. Menurut perjanjian dengan pemda, seluruh hasil panen pada tahun pertama (Juni) ini hingga tahun kedua memang menjadi hak PT ALM. ''Baru pada tahun ketiga para transmigran boleh menikmatinya dengan persentase tertentu,'' katanya. Tapi Osmar menganggap bahwa tindakan transmigran yang ditangkap karena tuduhan mencuri sawit itu tak lain hanya untuk menyelamatkan perut. Tak ada motif lain, selain lapar. Bersihar Lubis, Irwan E. Siregar, dan Munawar Chali

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836656865



Nasional 3/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.