Luar Negeri 1/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ekonomi di atas kemerdekaan?

Denmark akhirnya menyetujui perjanjian maastricht meski rakyat tetap merasa mempertaruhkan kemerdekaannya dalam eropa bersatu.

i
DENMARK melemparkan beban, dan kapal Perjanjian Maastricht untuk Eropa Bersatu masih punya harapan. Lewat referendum pekan lalu, 57% dari 4 juta pemilih Denmark bilang ''ya'' pada Perjanjian Maastricht. Memang negeri ini bukan terminal terakhir dari perjalanan Maastricht. Tapi, jika Denmark menolak untuk kedua kalinya, nasib Maastricht sudah pasti berakhir. Soalnya, Perjanjian Maastricht, yang direncanakan efektif tahun 1999, membutuhkan ratifikasi dari 12 negara anggota. Ketika menolak Maastricht, Juni lalu, orang Denmark khawatir akan ditelan Jerman maupun Inggris dalam Eropa Bersatu. Mereka yakin, hanya gagasan pasar terbuka Masyarakat Eropa yang bisa dilaksanakan dengan menjamin kedaulatan negara anggota. Kesatuan ekonomi dan politik Eropa Bersatu hanyalah gagasan utopis. Keraguan Denmark itulah yang khusus dibahas dalam Pertemuan Edinburgh, Desember lalu. Pertemuan itu berhasil meyakinkan Denmark bahwa soal mata uang tunggal dan tentara Eropa Bersatu bisa dipertimbangkan lagi karena bukan kewajiban. Yang wajib diterima adalah bergabungnya anggota Masyarakat Eropa ke dalam pasar tunggal Eropa, dan setiap negara siap menerima pembayaran mata uang negara anggota lain. Dalam bidang politik, hanya kerja sama antarmenteri dalam negeri yang wajib. Tapi ''ya'' di Denmark sebenarnya bukan karena Edinburgh. Sejauh ini, keturunan bangsa Viking ini merasa bahwa bergabung dalam Eropa Bersatu sama saja dengan diperintah orang lain. Kalau mereka akhirnya mendukung Maastricht, itu karena tak ada pilihan lain. Jika Denmark tetap menolak, mereka bakal ditinggal sendirian di kawasan Eropa, dan itu bisa membahayakan perekonomian negeri ini. Itu sebabnya tema ekonomi paling banyak diangkat dalam kampanye ''ya'' untuk Maastricht kali ini. Penolakan, menurut kubu pendukung Maastricht, akan meningkatkan suku bunga bank. Dan seperti yang diduga, setelah Denmark memilih ''ya'', suku bunga kredit Bank Sentral Denmark turun satu persen. Maastricht juga dianggap akan mampu mengurangi tingkat pengangguran di Denmark karena lalu lintas uang, investasi, maupun tenaga kerja akan bergerak bebas di lingkungan Masyarakat Eropa. Survei yang dilakukan seusai referendum memang menunjukkan bahwa alasan ekonomilah yang membuat orang Denmark berubah pikiran. Ernst Bensten, petani Denmark yang akhirnya memilih ''ya'', masih tetap yakin persetujuan atas Maastricht punya risiko Denmark kehilangan kemerdekaan. Tapi, ia akhirnya berpikir, hidup sehari-hari lebih penting. ''Dua pertiga pendapatanku datang dari Brussels. Jadi, aku akan gila bila memilih tidak,'' katanya. Suara menentang memang tetap bergaung. Di Kota Noerrebro, di pinggiran Kopenhagen, ibu kota Denmark, kerusuhan marak. Sekelompok pelajar radikal menyatakan Noerrebro sebagai daerah bebas Maastricht. Tapi ini sekadar rame-rame yang tak mempengaruhi apa pun. Benar, Perjanjan Maastricht masih memerlukan persetujuan dari Inggris dan Jerman. Parlemen Inggris, pekan lalu, sudah menerimanya dan tinggal menunggu pengesahan Senat. Dewan Konstitusi Jerman baru di musim panas tahun ini akan meratifikasinya. Sejauh ini, orang optimistis kedua negara ini akan menerima Maastricht. Kedua negara ini bahkan sudah mengincar agar Bank Sentral Eropa berada di wilayah mereka. LPS

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836668828



Luar Negeri 1/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.