Nasional 5/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah burung di dalam sangkar

Beberapa pihak di luar negeri memprotes vonis xanana. pengacara tak naik banding, tapi langsung minta grasi ke presiden. ''bisikan'' amos wako dibantah.

i
AKHIRNYA perjuangan selama 16 tahun Xanana Gusmao, 46 tahun, terhenti di balik terali. Ketua majelis hakim Hyroniemus Godang, Jumat pekan lalu, menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi Jose Alexandre Gusmau alias Kay Rala Xanana Gusmao. Pemimpin tertinggi Fretilin (Frente Revolucionarto De Timor Leste Independente) ini dianggap bersalah melakukan serangkaian aksi makar, seperti ingin memisahkan Timor Timur dari Indonesia, baik dengan perlawanan militer, propaganda, maupun menggerakkan massa. Yang disebut terakhir ini antara lain terlihat dalam insiden berdarah 12 November 1991 di pekuburan Santa Cruz, Dili. Dalam putusan setebal 200-an halaman yang dibacakan selama hamapir tujuh jam itu, hakim mengungkapkan 18 bukti tindak pidana dan kekejaman yang dirancang Xanana, misalnya membakar rumah rakyat, merampok 10 kerbau,dan menganiaya rakyat, termasuk membakar hidup-hidup seorang pelajar SMP. Xanana, yang mengenakan kemeja kotak-kotak warna hijau, merah, dan putih, tampak tenang ketika putusan hukuman itu dijatuhkan. Ia bahkan beranjak menyambut putusan itu dengan pekik Viva Timor Leste alias ''Hidup Timor Timur''. Sementara itu, penasihat hukumnya, Sudjono, menyatakan tak akan banding. ''Ini persoalan politik, percuma saja saya banding,'' katanya kepada TEMPO. ''Saya akan minta grasi.'' Pembela Xanana itu juga menyesalkan amar pertimbangan hakim mengabaikan pembelaannya. Namun, reaksi yang cukup santer justru terjadi di luar ruang sidang. Kementerian luar negeri Amerika Serikat, misalnya, lewat juru bicara Richard Boucher, memprihatinkan jalannya persidangan, seperti Xanana tak boleh membaca pembelaannya, dan beberapa diplomat tak boleh hadir di beberapa persidangan. Namun, dalam acara rutin konferensi pers kementerian luar negeri AS itu, Boucher juga mengakui baru menerima laporan dari kedutaannya di Jakarta. ''Sampai saat ini kami belum punya kesempatan mempelajarinya secara saksama,'' katanya ketika didesak sejumlah wartawan Portugal. Reaksi serupa datang dari Sidney Jones, Direktur Eksekutif Asia Watch. Ia menganggap peradilan telah membatasi Xanana menyampaikan hak asasinya, yakni tak boleh membacakan pembelaan secara penuh. Namun, Pengadilan Dili yang menyidangkannya punya alasan mengapa Xanana cuma diberi kesempatan membaca pembelaannya tiga halaman atau sekitar lima menit dalam sidang 17 Mei lalu. ''Hakim menganggap yang dibaca Xanana tak relevan sebagai pembelaan hingga tak perlu dibaca seluruhnya,'' kata Firman Simanjuntak, Humas Pengadilan Dili. Misalnya, katanya, Xanana mempersoalkan kenapa Golkar menang melulu dalam pemilu. Mayjen Theo Syafei, Pangdam Udayana yang hadir dalam sidang pembelaan Xanana awal pekan lalu, juga menambahkan bahwa pengadilan bukan arena politik. Maksudnya, mungkin, pembelaan Xanana itu dianggapnya sebagai pernyataan politik. Bagaimanapun, sidang Xanana termasuk menarik orang luar. Kecuali kedua orang tuanya serta pers Indonesia dan asing, juga tampak beberapa pengamat seperti sejumlah staf kedubes dari Jakarta, termasuk Staf Politik PBB Tamrat Samuel selama ini disebut-sebut pers sebagai asisten Amos Wako, utusan pribadi Sekjen PBB Boutros Boutros Ghali ke Indonesia beberapa bulan lalu. Dan Xanana sendiri mulai disidangkan tiga bulan lalu setelah ditangkap di persembunyiannya di Desa Lahane Barat, Dili, November 1992. Xanana ''masih beruntung'' hanya dituduh dengan pasal pidana biasa, bukan subversi, yang bisa diancam hukuman mati seperti Gregorio da Cunha Saldana. Yang disebut terakhir ini, di persidangan awal tahun lalu, dianggap terlibat serangkaian demonstrasi, termasuk yang mengakibatkan insiden 12 November 1991 itu. Persidangan Xanana tergolong lancar. Sampai suatu hari bulan April lalu, selepas melakukan pertemuan empat mata dengan utusan khusus Sekjen PBB Amos Wako, sikap Xanana tampak berubah. Seperti dikeluhkan pembelanya Sudjono, Xanana sempat ngotot ingin membaca pembelaan dan bahkan pernah tak mengakuinya sebagai pembela. Sikap keras ini, menurut Sudjono, muncul setelah kliennya bersua Amos Wako. Maka, beredarlah dugaan bahwa Wako telah membisikkan sesuatu ke telinga Xanana. Tuduhan itu sempat pula mengundang tak kurang Sekjen PBB Boutros Boutros Ghali sendiri angkat bicara. Ia membantah sinyalemen yang menuduh Wako telah membisikkan sesuatu kepada Xanana hingga mempengaruhi jalannya persidangan. Sebab, katanya seperti dikutip Antara, tugas utusan khususnya adalah mengajukan pertanyaan dan mendengarkan semua yang ditemuinya. Dan Direktur Informasi PBB di Jakarta, Hazel Burnett, juga memperkuat bantahan Ghali itu. ''Tuduhan itu sama sekali tak beralasan,'' katanya. Soal tuduhan atas Wako ini sempat pula mengusik Menteri Ali Alatas. Ia berjanji akan minta konfirmasi pada Sekjen PBB sendiri. ''Andai kata sinyalemen itu benar, tentunya patut disayangkan,'' katanya. Memang isu sering bermunculan di Timor Timur, misalnya ditiupkan kabar bahwa Xanana mau mogok makan. Namun, dalam pengecekan TEMPO di Dili, aksi itu tak pernah ada. Dari pesawat HT seorang petugas terdengar: ''Burung makan rumput sampai habis''. Burung yang dimaksud tak lain adalah Xanana, yang kini berada di dalam ''sangkar''. Agus Basri (Jakarta), Zed Abidien, dan Ruba'i Kadir

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836862461



Nasional 5/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.