Ekonomi dan Bisnis 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terobosan bagi jago kandang

Beberapa bumn dipersilakan oleh menteri habibie untuk mencari dana ke pasar modal internasional. peluangnya ada, tapi supaya hati-hati.

i
MENTERI Negara Riset dan Teknologi, B.J. Habibie, bikin kejutan lagi. Sebagai presiden direktur di sepuluh BUMN yang bernaung di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), kejutan itu perlu segera dipelajari, sebelum ia melahirkan kejutan-kejutan baru. Kali ini Habibie bicara tentang upaya menarik dana dari pasar modal internasional, tanpa risiko menambah beban utang. ''Upaya itu dilakukan dengan` cara menjual saham-saham BUMN,'' ujar Habibie pekan lalu. Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad menilai ide Ketua BPIS itu realistis. Tapi, bagaimana realisasinya? Yang pasti, membiayai pembangunan dengan menambah utang luar negeri bukanlah jalan keluar yang pas. Apalagi debt service ratio (DSR), yakni perbandingan antara pembayaran utang termasuk bunganya dan perolehan ekspor kini mencapai angka 32%. Bisa dimaklumi jika Habibie berpikir tentang pasar modal internasional, apalagi bursa saham dalam negeri kini sedang lesu-lesunya. Tentang gagasan go international itu, Dirjen Pembinaan BUMN, Martiono Hadianto, juga melihatnya sebagai terobosan untuk memperluas sektor permodalan tanpa meningkatkan DSR. Selain itu, akan ada peningkatan mutu teknologi dan manajemen. Menurut Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia, Christianto Wibisono, yang tampak transparan dari BUMN selama ini malah ketergantungannya pada kebaikan Pemerintah. Ngendon di rumah, cuma mengandalkan pinjaman G to G dari Bank Dunia, misalnya. Menurut Chris, jika BUMN terjun di arena internasional, hal itu akan mendorong agar perusahaan negara ini tidak cuma bisa menjadi jago kandang. Tapi, sejauh mana peluangnya? Habibie optimistis. Katanya, minat pemodal asing cukup besar. Optimisme itu muncul ketika Habibie melakukan penjajakan ke berbagai negara. ''Respons yang mengesankan, terutama dari kalangan pemodal di Amerika dan Jepang,'' tuturnya. Berbagai cara tentu bisa ditempuh, misalnya terjun ke bursa di Jepang atau New York. Atau tembak langsung alias direct investment. Menurut seorang analis saham, cara yang terakhir prosedurnya lebih sederhana. Tapi, BUMN mana yang layak jual? Selain daftarnya masih diteliti di meja Presiden Soeharto, menurut Habibie, ''Juga langkah hati-hati perlu dilakukan.'' Soalnya, dari 184 BUMN yang ada, cuma belasan yang sehat, plus 24 lainnya merugi. Toh, tak sedikit BUMN yang sudah ancang-ancang mencari peluang itu. Satu di antaranya PLN. Menurut Ir. Zuhal, Dirut PLN, bahkan rencana itu akan dilaksanakan tahun ini juga. Perum (perusahaan umum) yang secara operasional memonopoli hajat kebutuhan listrik rakyat ini setiap tahun membutuhkan dana pembangunan Rp 89 triliun. Dari anggaran sebesar itu, cuma 35% yang harus ditanggung PLN. Nah, peluang datang dari sebuah perusahaan listrik Inggris. Bila terlaksana, komposisi pembagian sahamnya menjadi 60% (PLN) dan 40% (asing). ''Bagaimanapun, kendali harus di tangan kita,'' kata Zuhal. Tapi, belum apa-apa sudah terlihat ada kendala. Soalnya, untuk semua BUMN yang berstatus perum, haram hukumnya mengalihkan sahamnya yang notabene dikuasai Pemerintah ke pihak lain. Menurut Zuhal, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mengubah status PLN menjadi pesero. Tapi, itu pun belum satu jaminan. Ada kendala lain, misalnya apakah PLN bisa transparan, sesudah selama ini berkembang dalam manajemen tertutup, lengkap dengan berbagai eksesnya. Moebanoe Moera, Dwi S. Irawanto, dan Iwan Qodar Imawan

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833126849



Ekonomi dan Bisnis 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.