Kriminalitas 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Compact disc bajakan dibongkar

Barang yang dibuat dengan teknik canggih ini diduga sudah bisa dibajak. polisi menyita 4.500 piringan hasil bajakan. kaset penggandanya lebih dulu dikirim ke luar negeri.

i
DI Surabaya, Tim Operasi Anti Pembajakan Asiri (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) bersama Reserse Ekonomi Polda Jawa Timur belum lama ini berhasil menyita 4.500 compact disc (CD) yang diduga hasil bajakan. Penyitaan itu dilakukan dari Toko NAV di Plaza Surabaya dan Toko Nirwana di pusat penjualan alat elektronik Tunjungan. Barang bajakan yang bentuknya seperti piringan hitam tapi lebih tipis dan kecil itu kabarnya sudah luas beredar di Indonesia, misalnya di beberapa pusat penjualan CD di Jakarta. Tapi jajaran Polda Jawa Timur dan pihak Asiri lebih dulu menyisirnya di Surabaya. ''Bajakan CD ini pertama kali dapat dibongkar di Indonesia,'' kata seorang Serse di Polda Jawa Timur. Akibat penggerebekan dan ramainya berita beredarnya CD bajakan itu, kini Toko Nirwana ditutup. Selain itu, omset penjualan CD di Surabaya merosot tajam. Omset Toko NAV di pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya, Plaza Surabaya, anjlok dari 20 buah menjadi 10 buah. Selintas tidak ada perbedaan antara CD asli dan CD bajakan. Kejernihan suaranya pun mirip. Hanya, menurut seorang pedagang CD di Pasar Baru, Jakarta, permukaan CD bajakan biasanya lebih kasar. Dan kalau diputar di dalam mobil mudah jebol. Ciri lain yang bisa dilihat dengan mata: label pada CD bajakan biasanya kusam, tidak ada tanda lunas PPN, serta tanpa label pengaman dan nomor registrasi. ''Hal-hal kecil ini biasanya luput dari perhatian konsumen,'' kata Kolonel Engkesman R. Hillep, Kepala Direktorat Reserse Polda Jawa Timur, kepada Edy Hafidl dari TEMPO. Perbedaan lain, menurut Dodowirawan, Koordinator Pelaksana Tim Operasi Anti Pembajakan Asiri, CD asli hanya berisi lagu satu penyanyi. Misalnya album Whitney Houston, yang dalam CD itu semua lagunya dinyanyikan oleh penyanyi kulit hitam yang populer lewat film Bodyguard itu. Atau kalau album Michael Jackson, yang terekam dalam CD itu hanya lagu-lagu Michel Jackson. Adapun CD bajakan biasanya memuat lagu campuran yang sedang digandrungi konsumen saat itu. Dalam satu album bisa termuat beberapa lalu penyanyi terkenal. Cara ini tentu saja menggiurkan konsumen. ''Padahal, jelas sudah melanggar peraturan yang telah ditetapkan asosiasi rekaman internasional,'' kata Dodowirawan. Rupanya, pendapat yang mengatakan bahwa pencuri itu biasanya orang dalam sendiri juga berlaku bagi perusahaan rekaman. Menurut polisi, contohnya seperti dilakukan Santoso Setyadji, pemilik Toko NAV, yang juga Koordinator Fabrikasi Perkasetan Asiri. Sedangkan pemilik Toko Nirwana adalah Budi Prawita alias Foe Kwok, Direktur Utama Nirwana Record, anggota senior Asiri. Budi Prawita, dalam kasus pembajakan itu, oleh polisi dinyatakan sebagai tersangka utama. Sedangkan Santoso Setyadji dijadikan saksi, karena hanya terbukti menjual CD bajakan, bukan menggandakannya. Akibat ulah yang diduga dilakukan Budi Prawita itu, pihak Asiri awal Mei lalu melayangkan surat skorsing keanggotaan Nirwana Record sampai bulan November nanti. Sedangkan Santoso Setyadji dipecat dari jabatan Koordinator Fabrikasi Perkasetan Asiri. ''Sebagai anggota Asiri, mereka telah melanggar peraturan, karena menjual CD bajakan,'' kata Dodowirawan. Selain itu, Asiri juga menduga bahwa Budi melakukan pembajakan. ''Kesalahannya ini memang masih perlu dibuktikan di pengadilan,'' ujarnya. Modus pembajakan alat canggih ini memang rumit. Menurut hasil penelusuran Polda Jawa Timur, Budi Prawita diduga telah melakukan pembajakan itu sejak lima tahun. Caranya, dia merekam lagu-lagu Barat yang sedang top di Indonesia dalam pita kaset master dengan sistem DAT (digital audio tape). Itu bisa dilakukannya karena lelaki berusia 49 ini mempunyai perusahaan rekaman. Karena tak satu pun perusahaan rekaman di Indonesia yang mampu merekam dalam piringan kompak, master kaset tersebut dikirim Budi ke Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea. Sambil menunggu pesanan biasanya selesai dalam dua minggu Budi Prawita menggarap kemasan dan labelnya. Masih menurut polisi di Polda Jawa Timur, Budi lalu mengemas kaset bajakan itu, yang dilakukan dalam sebuah ruangan 4 x 6 meter, di lantai empat studio Nirwana Record di Jalan Gentengkali, Surabaya. Lalu barang bajakan itu dijualnya dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 30.000. Namun, semua tuduhan itu dibantahnya. ''Tuduhan itu tidak benar,'' kata Budi Prawita kepada TEMPO. Tuduhan tersebut, menurut pengusaha rekaman yang kini kena wajib lapor itu, hanya karangan pihak Asiri. Jika produksi itu diolah di luar negeri, menurut Budi, pihaknya akan rugi karena biaya produksinya tidak sesuai dengan harga penjualannya. Barang-barang yang dituduh bajakan itu, menurut anggota Asiri senior ini, didapatkan dari Glodog Plaza, Jakarta. Atas pesanan lewat faksimile, kemudian barang dikirim ke Nirwana Record Surabaya sebanyak 100 buah tiap bulan. Entah bagaimana barang-barang itu kemudian dinyatakan sebagai barang bajakan. Tentang skorsing yang dijatuhkan dari Asiri? ''Itu dilakukan atas dasar sentimen pribadi,'' kata perintis CD untuk lagu-lagu Indonesia ini. Budi juga menyayangkan, dalam operasi penggerebekan dan penyitaan 4.500 CD itu malah ikut terjaring beberapa CD asli. ''Dan saya akan terus membuktikan bahwa saya tidak bersalah,'' katanya. Gatot Triyanto

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836130418



Kriminalitas 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.