Kesehatan 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Penyubur dari otak mayat

Tiga suami menuntut pemerintah australia. obat penyubur dari kelenjar pituitary, yang bahannya diduga dari otak mayat manusia.

i
TIGA suami menuntut pemerintah Commonwealth Australia, Rabu dua pekan lalu. Warga Australia itu kehilangan istrinya, dan mereka menuduh kematian itu gara-gara pihak pemerintah telodor. Akibat tuntutan tersebut, pihak Departemen Kesehatan Australia mulai mengusut kejadian itu, sejak pekan lalu. Awalnya dari rasa curiga Ted Allender atas kematian Jane, istrinya, lima tahun silam. Sebelumnya, wanita berusia 28 tahun ini menderita gejala paranoia, yakni ketakutan dan kecurigaan yang berlebihan, serta kelakuan aneh lainnya. Daya lihatnya kabur. Kantong kemih dan perutnya sakit melilit. Penderitaan itu setahun dialami Jane, sebelum ia meninggal. Atas kematian istrinya yang aneh ini, Ted melakukan penyelidikan. Ia mendapatkan data mengenai penyakit yang disebut CJD (Creutzfeldt-Jacob Disease), serangan terhadap sel-sel saraf, dan konon belum ada obatnya. Bukan itu saja, Ted menemukan bahwa CJD, selain bisa tumbuh begitu saja pada seseorang, juga bisa menular. Salah satu sumber penularan adalah kelenjar pituitari yang digunakan dalam program menyuburkan wanita mandul. Menurut Ted, kelenjar itu diambil dari otak mayat manusia. Padahal, sebelum meninggal, Jane juga mengikuti program penyuburan. Pengusutan itu akhirnya menyimpulkan: kematian Jane akibat mengikuti program tersebut. Bersama Ted kini yang juga mengajukan tuntutan ada dua orang suami senasib. Tuduhan Ted itu bukannya tanpa dasar. Pada tahun 1975, Jane Allender, menurut hasil pemeriksaan dokter ahli kandungan, disebutkan sulit mendapatkan keturunan. Ia kemudian menghubungi Profesor Lloyd Cox di Rumah Sakit Queen Elizabeth, Adelaide. Berdasarkan pemeriksaan, Jane tidak mampu punya anak karena pabrik telurnya tidak bisa memproduksi sel telur yang siap dibuahi. Lalu ia dianjurkan masuk program penyuburan yang menggunakan hPG (Human Pituitary Gonadotropin). Fungsi kelenjar tersebut untuk menggalakkan pertumbuhan kelenjar telur, sehingga jumlah sel telur yang siap dibuahi menjadi banyak. Dalam kurun waktu lima bulan, Jane mendapat 33 kali suntikan hPG. Dan rupanya program ini mengejutkan, karena tiga tahun kemudian Jane melahirkan anak pertama, kemudian disusul anak kedua. Namun, usaha membuat subur itu rupanya harus dibayar mahal. Kematian Jane, menurut Ted, akibat keteledoran pemerintah Commonwealth, karena perusahaan yang menyuplai hPG, yakni Commonwealth Serum Laboratories, adalah milik pemerintah Commonwealth. ''Kami ingin tahu, dari mana hPG itu didapatkan,'' kata Ted kepada TEMPO. Hingga kini, diduga di Australia ada sekitar 40 ribu ibu-ibu yang mengikuti program penyuburan itu. Dan di dunia diduga sudah 400 ribu kelenjar pituitari yang digunakan. Hubungan penyakit CJD dengan program penyuburan wanita pertama ditemukan oleh lima ilmuwan dari Fliders Medical Center dan Institute of Medical and Veterinary Science di Adelaide. Menurut Chris Alderman, salah seorang anggota tim tersebut, dari hasil pemeriksaan terhadap pasien wanita yang meninggal dan mengikuti program penyuburan yang menggunakan suntikan hPG, diperoleh data bahwa mayat tersebut adalah korban CJD. Penyakit CJD, menurut Alderman, ada dua jenis, yaitu yang tumbuh dan berkembang sendiri dalam tubuh seseorang dan yang ditularkan. Gejala CJD yang tidak menular tidak begitu tampak, kecuali mental penderitanya berangsur mundur. Sedangkan yang menular lebih menonjol. Walaupun begitu, masa inkubasinya lama, bisa 15 sampai 30 tahun. Salah satu cara penularannya bisa karena memakan otak manusia. Ini pernah terjadi pada zaman praktek kanibalisme masih subur. ''Satu-satu jalan untuk mengetahui seseorang kena CJD adalah dengan melihat serat-serat pada otaknya,'' kata Alderman kepada TEMPO. Dokter Renate Klein, ahli biologi saraf dari Universitas Deakin di Geelong, Australia, sudah dua tahun mendesak pemerintah agar mengusut penggunaan hPG untuk wanita. Alasanya, sejak tahun 1968 sudah diketahui CJD dapat ditularkan. Dalam beberapa kasus, wanita yang disuntik hPG menderita benjolan kista di dalam kandungannya, akibat adanya rangsangan di kelenjar telurnya yang berlebihan. Akibat bahaya yang mengintip itu, penggunaan hPG sejak tujuh tahun lalu dihentikan. Namun, kata Klein, yang disayangkan, kenapa kok terlambat. Padahal, sejak 1968 bahan itu jelas terbukti berbahaya, sehingga mungkin sudah ribuan ibu-ibu yang telanjur mengikuti program itu. Beberapa wanita di Australia kini mendesak agar pemerintahnya melacak ibu-ibu yang memakai obat penyubur dari otak mayat itu. Wajar bila mereka resah. Sebab, penularan CJD ini kemungkinan besar bisa lewat donor darah. Menurut Profesor Stan Prusiner, ahli saraf dari Amerika Serikat, yang diwawancarai The Weekend Australian, penyebab CJD ialah suatu agen yang disebut prion. Cara menyerangnya perlahan-lahan dan pasti. Terbentuknya prion itu hingga kini masih menjadi teka-teki dalam dunia medis. Protein yang dimiliki prion terdiri dari sel-sel. Jika protein itu terlipat dalam bentuk yang berbeda dari aslinya, ini jelas menyebabkan perubahan kelakuan fisik dari protein tadi. Bahan itu menjadi galak, lalu mengendap di sel saraf. Pada tahap inilah gejalanya akan mulai kelihatan. Menurut Alderman, kini ada cara membuat hPG yang aman, melalui DNA rekombinan, yaitu memotong gen dari kelenjar pituitari, kemudian memasukkannya ke dalam larutan ragi dan mengembangkan kelenjar tersebut. Temuan ini paling tidak akan mengerem jumlah korban penyakit CJD di kemudian hari. Gatot Triyanto (Jakarta) dan Dewi Anggraini (Melbourne)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833275693



Kesehatan 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.