Nasional 1/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sidang sebelum kongres

Alex asmasoebrata akhirnya diadili dalam kasus penculikan. pengadilan ini menentukan siapa yang akan menjadi ketua umum pdi.

i
KANTOR Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Senin pekan ini hampir berubah menjadi ''kandang banteng''. Sejak pagi, para ''penggembira'' yang terdiri puluhan warga banteng (PDI) sudah memenuhi halaman kantor pengadilan. Maklum, hari itu, Ketua PDI DKI Jakarta, Alex Asmasoebrata, diarak masuk pengadilan, duduk di kursi terdakwa kasus penculikan. Alex, yang pagi itu mengenakan ''seragam PDI'' baju merah celana hitam, didakwa Jaksa Suhaimi menganjurkan anak buahnya melakukan tindak kekerasan terhadap Edi Sukirman dan Agung Imam Sumanto. Kendati yang diperintahkan sebatas peringatan kalau melawan boleh memukul batas leher ke bawah yang terjadi justru penculikan atas dua aktivis PDI anti-kepemimpinan Soerjadi itu. Penculikan terjadi di Wisma Marinda, Jalan Percetakan Negara, Jakarta, sekitar pukul 20.30. Waktu itu, Juli 1991, menurut jaksa, saksi pelapor Edi dan Agung sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, tiba-tiba sekitar 25 orang masuk dan langsung menggertak, ''Mengapa kamu datang lagi ke kantor DPP dan membawa poster-poster?'' Jawab mereka berdua, ''Ini bukan urusan kalian. Urusan pimpinan.'' Mendengar jawaban itu, anak buah Alex tadi langsung memukul Edi dan Agung. Selanjutnya, keduanya diseret keluar gedung dan dimasukkan ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Dengan mata tertutup, dua korban itu dibawa ke kantor Alex, di Jalan Cikajang, Jakarta Selatan. Dari sini barulah korban itu dilepas. Karena kasus tersebut, Alex dijaring dengan pasal tentang menganjurkan melakukan kekerasan. Penerapan pasal ini di luar dugaan, mengingat sebelumnya Kepala Kejaksaan Tinggi DKI B.T.P. Siregar menyebut Alex akan dikenai dakwaan penculikan. Dengan pasal yang didakwakan sekarang, ancaman hukuman maksimal hanya 5 tahun 6 bulan, sedangkan pasal penculikan bisa sampai 12 tahun. Sebelumnya, tiga pelaku penculikan telah divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, masing-masing Yulius Agung dihukum 5 bulan, Sudiwarno 4 bulan, dan Eddy Sadeli kena 5 bulan penjara. Terungkap di persidangan, baik terdakwa penculik maupun kedua korban sama-sama anggota PDI, namun dari dua kubu yang berkonflik. Pihak korban dari kubu penentang Ketua Umum PDI Soerjadi, dan terdakwa dari kubu yang pro. Korban diketahui sering melakukan unjuk rasa di kantor pusat PDI, Jakarta. Sehubungan dengan kasus itu, Jumat pekan lalu, sejumlah aktivis PDI menyampaikan keprihatinan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi DKI dan Kapolda Metro Jaya. Mereka mempertanyakan ulah Edi Sukirman dkk., yang oleh aparat keamanan hingga kini belum diambil tindakan hukum. Padahal, menurut Budihardjo, juru bicara kader banteng itu, mereka telah merusak pagar kantor PDI, memukul bahkan menganiaya Kepala Sekretariat DPP. Alex, kendati baru sekali duduk di kursi pesakitan, tampak tenang mendengar tuduhan jaksa. ''Saya merasa tak bersalah,'' katanya. ''Lewat pengadilan justru bisa lebih jelas persoalannya. Apakah itu menyeret Pak Soerjadi atau tidak, pengadilan yang menilai nanti. Saya tak akan mengada-ada,'' tambahnya. Kasus ini agaknya terus menggelinding. Apalagi menjelang kongres PDI di Medan nanti. Kans tampil kembalinya Soerjadi sebagai ketua sedikit banyak akan dipengaruhi oleh ''nyanyian'' di pengadilan. Aries Margono dan Nunik Iswardhani

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836482878



Nasional 1/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.