Kolom 2/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kamboja: perang setelah pemilu?

Pemilu di kamboja diwarnai boikot dari pihak khmer merah. meskipun respon dari kekuatan luar sulit ditebak, tapi umumnya negara-negara asean siap memberikan bantuan. beberapa faksi masih sulit diajak berunding

i
BEBERAPA minggu mendatang, saat suara dihitung dan faksi-faksi berebut posisi, ketidakstabilan dan pertempuran baru di Kamboja adalah kemungkinan yang dapat terjadi. Sejarah telah memberi petunjuk tentang yang mungkin terjadi. Banyak pemimpin kontestan politik Pangeran Sihanouk, Pangeran Rannaridh, Son Sann, Pol Pot, dan Hun Sen telah lama menduduki panggung, dan terus menjalankan strategi yang hanya sedikit berubah dalam tahun-tahun belakangan ini. Respons dari kekuatan-kekuatan luar terhadap pemilu Kamboja lebih sulit ditebak, terutama sebelum hasil pemilihan di- ketahui. Tapi umumnya negara-negara ASEAN, Jepang, Australia, dan Perancis, yang menjadi kunci perdamaian Kamboja, siap memberikan bantuan pada pemerintahan hasil pemilu. Di lain pihak, Cina, Vietnam, negara-negara bekas Uni Soviet, dan Amerika Serikat lebih banyak bicara tentang masa lalu Kamboja. Memang, salah satu pasal dalam Persetujuan Damai Paris, yang disetujui bulan Oktober 1991, menyatakan negara- negara tersebut akan mengakhiri keterlibatan politiknya di Kamboja untuk menyelamatkan muka, dan membiarkan bekas klien- klien Kamboja mereka menentukan nasib masing-masing lewat pemilu. Untuk mengantarkan proses itu, keberadaan PBB di Kamboja dipertimbangkan, dan periode transisi disetujui untuk memberi waktu bagi Kamboja bersiap diri menyelenggarakan Pemilu. Dengan demikian, masa depan Kamboja bergantung pada kekuatan lain yang telah saya sebutkan dan pada diri orang Kamboja sendiri. Dalam kaitan penguasaan senjata dan wilayah, faksi-faksi yang penting di Kamboja adalah rezim Negara Kamboja pimpinan Hun Sen di satu pihak, dan faksi Pol Pot atau Khmer Merah di lain pihak. Kedua pihak yakin akan kebenaran masing-masing, dan menuduh pihak lawan sebagai pengkhianat nasional, entah dengan sebutan genocide (untuk Khmer Merah) atau ''orang Vietnam'' (untuk faksi Hun Sen). Keadaan ini telah menyelimuti atmosfer pemilu, dan menimbulkan ramalan akan berlanjutnya pertempuran setelah suara-suara dihitung. Karena tidak satu pihak pun dilengkapi dengan pesawat terbang atau kendaraan perang, pertempuran dalam musim hujan mendatang hanya kecil-kecilan: penyergapan dan duel artileri. Skenario yang lebih panjang masih sulit diduga. Selama masa peralihan pemerintahan PBB di Kamboja, pihak Hun Sen telah menguasai hampir seluruh aspek administrasi harian, meski perjanjian Paris mengatakan, PBB akan mengawasi seluruh aktivitas kementerian penting seperti pertahanan, keamanan nasional, dan luar negeri. Kegagalan PBB mengendalikan persenjataan faksi Hun Sen membuka peluang kelompok ini lebih bisa menarik keuntungan ketimbang faksi lain, yang dilarang membawa senjata selama masa kampanye. Khmer Merah membalas, memboikot pemilu dan menolak mengakui hasilnya. Mereka menuduh, faksi Hun Sen ''yang Vietnam'' adalah anak kesayangan PBB. Khmer Merah sendiri tentunya tidak memiliki pengalaman menjalankan pemilu, dan penolakan mereka ikut dalam pemilu adalah untuk menutupi kelemahan itu. Pol Pot sendiri, yang tak pernah tampak tapi selalu mengendalikan semua gerak Khmer Merah, terlihat ingin memanipulasi persetujuan yang dicapai di Paris. Pada awalnya ia berharap bahwa faksi Hun Sen akan melucuti pasukannya, dan Khmr Merah akan ikut terlibat dalam mengelola Kamboja. Tapi ia terkejut saat PBB juga bermaksud melucuti Khmer Merah, dan membiarkan rezim Negara Kamboja mengurusi masalah administrasi negara. Maka, Pol Pot pun mengubah taktik: dari ''front bersatu'' menjadi pertahanan bersenjata. PBB di Kamboja gagal mengawasi faksi Negara Kamboja, dan gagal melucuti Khmer Merah. Kehadiran 20.000 orang asing yang bekerja atas nama PBB, dan yang bergaji besar, di Kamboja sering menimbulkan kemarahan orang Kamboja. Tapi pada saat yang sama, PBB berhasil mengumpulkan hampir lima juta rakyat Kamboja untuk mendaftarkan diri ikut pemilu, dan memulangkan hampir 300.000 pengungsi Kamboja dari kamp-kamp sepanjang perbatasan Thailand. Apakah operasi PBB berhasil atau tidak, momentum Pemilu tidak dapat ditawar lagi, meskipun ''lingkungan politik netral'' yang seharusnya terjadi sudah sangat koyak. Selama April dan awal Mei, banyak pengamat memperkirakan kemenangan ada di pihak faksi Hun Sen. Tapi, kerahasiaan kotak suara, dan gangguan terhadap partai-partai oposisi oleh agen- agen faksi itu, dianggap dapat membalikkan suara hingga menguntungkan partai Funcinpec yang diketuai oleh putra tertua Sihanouk, Norodom Rannaridh, dan mungkin juga menguntungkan partai lain yang lebih kecil. Perilaku Sihanouk sendiri banyak berubah sejak Perjanjian Paris. Pada awalnya ia bekerja sama sepenuh hati dengan PBB. Saat ia kembali di Kamboja setelah beberapa tahun di pengasingan, ia berjanji kepada ''anak-anaknya'' bahwa ia tak akan pernah meninggalkan mereka lagi. Tapi setahun kemudian ia kembali ke Beijing dengan masygul, setelah usahanya untuk menjadi presiden Kamboja dihalangi oleh Khmer Merah dan partai lain. Keengganan Sihanouk memainkan peran sekunder mengikis reputasinya. Rupanya, ia berharap pemenang pemilu akan mengundangnya kembali untuk menyelamatkan dan memimpin Kamboja, meski tampaknya undangan semacam itu tak akan ada. Tak satu faksi pun, termasuk faksi Rannaridh, akan menganugerahi sang pangeran dengan kekuasaan yang besar. Kemudian, setelah suara-suara dihitung, ada sedikit prospek bahwa Kamboja akan terbuka dan menjalankan demokrasi. Di lain pihak, lembaga-lembaga internasional bekerja sama dengan pihak Kamboja mungkin akan dapat menolong negeri itu berdiri sendiri setelah 20 tahun dalam kesulitan. Selama nasib rakyat Kamboja diprihatinkan, munculnya masyarakat sipil bukan tidak mungkin, meski dalam kondisi belakangan ini harapan tersebut tampaknya terlalu tinggi. *)Penulis adalah direktur riset pada Center of Southeast Asian Studies di Monash University, Australia, yang sudah menulis beberapa buku tentang Kamboja.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833453631



Kolom 2/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.