Luar Negeri 6/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ancaman perang dari lain jurusan

Jika bukan khmer merah, diduga faksi negara kambojalah yang bakal membubarkan perdamaian. bila faksi itu kalah pemilu, dan hun sen tak mau menyerahkan kekuasaannya.

i
DILIHAT dari sejarah, pemilu Kamboja adalah persaingan lama. Di antara 20 partai peserta pemilu, jelas hanya tiga partai yang mempunyai kesempatan tampil. Satu, partai Hun Sen, dua yang lain partai Sihanouk yang kini dipimpin oleh anaknya, dan Partai Demokratik Liberal Budha yang didirikan oleh Son Sann. Pada zaman sebelum Perjanjian Paris 1991, Sihanouk dan Son Sann bersatu bersama Khmer Merah melawan Hun Sen. Dilihat dari Phnom Penh, ibu kota Kamboja, dukungan terhadap Funcinpec (akronim Perancis yang berarti front persatuan nasional untuk kemerdekaan, perdamaian, netralitas, dan kerja sama Kamboja), partai Sihanouk itu punya kans menang. Ranariddh, anak sulung Sihanouk, mendapatkan sambutan massa ketika datang ke tempat pemungutan suara (lihat Khmer Merah Mengubah Taktik?). Tapi, dilihat dari jumlah anggota partai dan suasana di luar Phnom Penh, Partai Rakyat Kamboja, partai pendukung rezim Phnom Penh pimpinan Perdana Menteri Hun Sen, diramalkan bakal meraih suara terbanyak, meski belum tentu suara mayoritas. Pada masa kampanye, Partai Rakyat yang beranggotakan 1,7 juta orang, kebanyakan pegawai negeri, boleh dikata kampanyenya tak pernah sepi pengunjung. Lihat saja misalnya kampanye Partai Rakyat di Borey Key Lang, dekat Stadion Olimpiade, Phnom Penh, suatu hari dua pekan lalu. Hujan lebat tak menjadi penghalang bagi sekitar 30.000 massa untuk bertahan selama empat jam mendengarkan pidato, dan sesudah itu berjingkrak bersama grup rock dari Thailand dan Filipina. Pidato para pemimpin Partai Rakyat itu sendiri makan waktu dua setengah jam. Setelah itu, dilepaskan ratusan balon dan burung merpati putih. Di udara sebuah pesawat menyebarkan pamflet yang isinya menganjurkan rakyat Kamboja agar memilih Partai Rakyat Kamboja. ''Kekejaman Khmer Merah akan punah bila Partai Rakyat menang,'' bunyi salah satu pamflet itu. Isu yang sederhana inilah yang selalu mewarnai setiap kesempatan kampanye yang dilakukan oleh Hun Sen maupun pemimpin Partai Rakyat lainnya. ''Bila Anda memilih partai lain, Anda akan mati. Hanya pemerintah Phnom Penh dan tentaranya yang mampu melindungi Anda dari ancaman Khmer Merah,'' kata Hun Sen. Sebagai partai penguasa, Partai Rakyat memang secara efektif menguasai jaringan televisi dan radio milik pemerintah Kamboja. Partai ini pun menguasai suara pegawai negeri. Hanya, ketika Partai Rakyat melakukan kampanye pegawai negeri diliburkan. Dan salah satu pidato pemimpin Partai Rakyat itu memang mengenai pegawai negeri. Hanya bila Partai Rakyat menang, katanya, pegawai negeri tak akan kehilangan pekerjaannya. Sedangkan partai lainnya hanya bisa bergantung pada jaringan televisi milik UNTAC yang baru mengudara sebulan belakangan ini. Dan tak hanya kampanye resmi yang dilakukan Partai Rakyat. Seperti diketahui, Partai Rakyat adalah satu-satunya partai yang bisa menggerakkan tentara dan polisi, karena aparat pemerintahan Kamboja di bawah pimpinan Hun Sen yang menjalankan pemerintahan sehari-hari UNTAC. Menurut laporan Nuon Ninara, ketua Funcinpec di Kompong Cham, kepada harian The Asian Wall Street Journal, polisi memperingatkan setiap warga desa itu agar tak menghadiri pesta kampanye partai lain. ''Bila ketahuan, tanah dan harta bendanya akan disita setelah pemilu,'' ujarnya. Pemerintahan Hun Sen juga menyebarkan kabar bohong yang menyatakan bahwa pihaknya memiliki satelit yang dapat memantau siapa memilih apa. Dan insiden yang membuat nama Partai Rakyat cela terjadi di Siem Reap, di utara Kamboja. Seorang pejabat senior Funcinpec bernama Van Siphon bersama dua pejabat Partai Demokratik Liberal Budha mati dibunuh, konon, oleh dua orang dari Partai Rakyat. Kekhawatiran yang kemudian muncul, seandainya Partai Rakyat kalah, maukah Hun Sen menyerahkan kekuasannya? Inilah kata Son Sann, pemimpin kelompok yang disebut ekstrem kanan, yang pernah menjadi perdana menteri di zaman Jenderal Lon Nol memimpin Kamboja setelah mengkudeta Sihanouk: ''Perang akan berkobar lagi bila hal itu terjadi.'' Maksudnya, bila Hun Sen kalah dan tak mau menyerahkan kekuasaannya. Yang membuat orang serba salah, bila Partai Rakyat pun menang, tak ada jaminan Kamboja akan aman. Kelompok gerilyawan Khmer Merah yang berada di luar pemilu, yang semua pemimpinnya tiba- tiba meninggalkan Phnom Penh beberapa hari menjelang pemilu, tentu tak bakal diam. Benar, Hun Sen sudah berjanji akan menggunakan aksi militer guna melindungi rakyat dari teror Khmer Merah. Dan mungkin sangat benar dugaan para ahli bahwa Khmer Merah tak lagi bisa melakukan serangan besar-besaran. Tapi sebuah teror serentak oleh sekelompok gerilyawan militan di seluruh Kamboja dikhawatirkan membuat 100.000 tentara Hun Sen kewalahan. Setidaknya, Khmer Merah akan bertahan di posisi-posisi yang berbatasan dengan Thailand, sumber ekonomi mereka. Di sini, hanya senjata mungkin tak bisa mudah menang. Diperlukan diplomasi, persetujuan dengan pemerintah Thailand, umpamanya, untuk tak memberi kesempatan Khmer Merah bernapas. Yang mungkin bisa membantu Hun Sen, atau siapa pun yang menang, adalah bakal membanjirnya bantuan ekonomi maupun militer luar negeri ke Kamboja. Seorang diplomat ASEAN menuturkan bahwa sekarang saja sejumlah bantuan itu telah menunggu di depan pintu. Jepang dan Bank Pembangunan Asia sudah menjanjikan sejumlah bantuan dana untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi nasional yang memerlukan dana sedikitnya US$ 800 juta. Sedangkan Perancis sudah menjanjikan Hun Sen bermacam bantuan, termasuk bantuan militer dan ekonomi. Bahkan Presiden Francois Mitterrand, Februari lalu, berkunjung ke Phnom Penh, untuk menunjukkan pilihan Paris kepada Hun Sen. Tampaknya, dunia luar lebih suka berpikir praktis. Selama ini, sekitar 13 tahun, memang orang-orang Hun Senlah yang menjalankan pemerintahan Kamboja. Dengan demikian, bila pemerintahan baru Kamboja nanti tetap mereka pegang, ada jaminan segala bantuan akan dipakai untuk hal-hal yang semestinya. Bila pihak lain yang menang, ada kekhawatiran, pemerintahan tak akan beres berjalan. Tapi tentu saja itu adalah kekhawatiran yang belum ada buktinya. Dan harus diingat selalu, selain faktor itu semua, unsur gangguan dari Khmer Merah, betapa pun lemahnya, mesti juga diperhitungkan. Bila saja sebelum Kamboja bisa membangun Khmer Merah sudah bisa menghasut rakyat, siapa pun yang berkuasa di Phnom Penh akan menghadapi kesulitan yang tak mudah diselesaikan. Bantuan militer, ketika pemerintah Kamboja adalah hasil pemilu, tentu akan terbatas pada persenjataan. Bila tidak, itu bisa dianggap campur tangan pihak luar terhadap urusan dalam negeri. Dan membangun Kamboja dalam waktu singkat bukan soal mudah. Negara berpenduduk sembilan juta jiwa ini tengah mengalami krisis ekonomi yang cukup dalam. Kota-kota besar dipadati oleh penganggur dan pengemis. Pertumbuhan produksi nasionalnya merosot dari 13,5% (1991) menjadi 8% tahun lalu. Itu pun lebih banyak disebabkan karena dampak kehadiran 22.000 personel dan pasukan UNTAC, yang menghabiskan uang kontan senilai sekitar US$ 200 juta. Infrastruktur ekonomi dikabarkan sangat payah. Banyak jalan hanya tinggal tanah, karena aspalnya telanjur mengelupas, dan tak sempat dibenahi karena kelangkaan biaya dan juga karena perang. Jangan lagi dihitung berapa jembatan yang hancur akibat perang. Tim zeni dari Jepang yang termasuk dalam pasukan perdamaian PBB tentu tak mungkin memperbaiki semua itu hanya dalam waktu sekitar 10 bulan belakangan ini. Tim itu baru mulai bekerja Juli tahun lalu. Lalu Funcinpec? Masih sulit dibayangkan partai yang bertumpu pada popularitas Pangeran Sihanouk ini menang. Sejauh ini Funcinpec cuma beranggotakan 500 ribu orang, dan cuma mampu berkampanye di kota-kota. Memang terbuka satu peluang mengingat Funcinpec pernah berada dalam satu kubu dengan Khmer Merah melawan rezim Phnom Penh di kawasan yang dikuasai Khmer merah rakyat akan memilih Funcinpec. Konon, memang ada ''kampanye'' Khmer Merah di sejumlah tempat, agar rakyat tak memilih Partai Rakyat. Tapi ini tentu tak otomatis suara lalu jatuh ke Funcinpec. Maka, peluang parta-partai lain selain Partai Rakyat adalah di masa pascapemilu, dan paling jauh menjadi partai oposisi yang kuat. Itu bisa terjadi, misalnya, bila mereka berkoalisi. Seandainya saja Funcinpec nanti berkoalisi dengan Partai Budhanya Son Sann, yang konon beranggotakan hanya 100.000 orang, apalagi bila beberapa partai lain bersedia bergabung, mungkin saja kelompok ini akan menjadi partai oposisi yang kuat. Tapi itu semua dengan asumsi faktor Khmer Merah tak menjadi gangguan serius. Misalnya saja, bila pemenang pemilu dan partai oposisi bersatu dalam menghadapi Khmer Merah. Jika saja pihak oposisi nantinya justru memanfaatkan masalah Khmer Merah untuk menjatuhkan pemerintah baru, soalnya bisa menjadi lain. Kamboja bisa tercebur ke dalam pertikaian baru. Dan itu pun dengan asumsi Partai Rakyatlah yang menang. Sebab, bila Partai Rakyat ternyata kalah, kekacauan di Kamboja tampaknya bakal lebih dekat terjadinya. Sulit membayangkan Hun Sen mau menyerahkan kekuasaannya kini. Didi Prambadi (Jakarta) & YI (Phnom Penh)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836749818



Luar Negeri 6/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.