Perilaku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menyigi keburukan perangai anak muda

Buruk muka, cerminnya yang dibelah. sebuah penelitian di yogyakarta: tindak kriminal anak muda bersumber dari tidak stabilnya kepribadian orang tua.

i
PERANGAI buruk remaja, siapa yang salah? Seorang anak muda sebut saja Bambang dalam usia 20-an sudah punya rekor kriminal dua kali menikam pemuda lain, sampai tewas. Alasannya membunuh hanya sepele: kawannya berselisih dengan pemuda lain, dan Bambang menganggap itu sebagai ancaman pula terhadap dirinya. Sejak kejadian pertama saat ia berusia 16 tahun Bambang berada dalam pengawasan negara. Pada kasus kedua, ia harus mendekam 7 tahun di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Dua tahun dibui, menurut penelitian Doktor Soewadi, M.P.H., Bambang tak menyesali perbuatannya. Soewadi sehari-hari adalah staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjahmada dan konselor di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan. Ia menyebar angket kepada 45 penghuni penjara, berusia 1325 tahun, sebagai kelompok kriminal. Angketnya disebar pula kepada 50 mahasiswa semester awal, sebagai kelompok pengontrol. Mereka yang menghuni bui pernah melakukan tindak kriminal, mulai yang rendah sampai berkadar kakap. Yang dimasukkan dalam kategori rendah ialah pelanggaran lalu lintas, penipuan, perjudian, percabulan, dan kecanduan alkohol. Sedangkan yang kadar kriminalitasnya tinggi berupa pencurian, perampokan, perkelahian, penganiayaan, dan pembunuhan. Kepada mereka, Soewadi mengajukan dua pertanyaan penting: tentang harmonis tidaknya hubungan orang tua, serta corak hubungan mereka dengan para orang tua masing-masing. Dari kelompok kriminal didapatkan hasil bahwa 56% mengaku berasal dari orang tua yang kurang harmonis. Sisanya menyebut keluarganya harmonis tapi dirinya sering menerima perlakuan keras sama dengan pengalaman mereka yang berasal dari keluarga kurang harmonis. ''Kadar kekerasan itu bergantung pada persepsi si anak, dan inilah yang akan terus melekat hingga si anak tumbuh dewasa,'' kata Soewadi, yang menyelesaikan kuliah kedokteran dan memperoleh gelar doktor di Universitas Gadjahmada. Dia menyebut contoh, ada anak yang merasa diperlakukan keras karena sering dicerca atau orang tuanya bersikap kaku. Ada pula yang memang sering dipukul atau dianiaya. Latar belakang ekonomi keluarga kelompok kriminal ini 73% berkecukupan secara materi. Mereka mengaku bahwa motivasi tindakannya bukan lantaran faktor ekonomi, melainkan karena hanya ingin melakukannya. Yang agak mengejutkan, mungkin, 70% mengungkapkan orang tua mereka taat beribadah. Menurut Soewadi, ketaatan agama orang tua rupanya tidak berpengaruh pada perilaku anak. Para orang tua rupanya menempatkan ketaatan hanya dalam hubungan dengan Tuhan, bukan mewujudkannya dalam hubungan dirinya dengan anaknya. Meskipun bukan faktor dominan yang mempengaruhi anak untuk bertindak kriminal, menurut Soewadi, latar belakang pendidikan dan pekerjaan orang tua juga dicatat dalam angket itu. Mereka umumnya berpendidikan menengah, dan sebagian kecil berpendidikan rendah, dengan pekerjaan meliputi buruh tani (16 orang), anggota ABRI (4), pegawai negeri (5), dan pegawai swasta (20). Dalam pengamatan Soewadi, faktor besar-kecilnya anggota keluarga ikut mempengaruhi perkembangan si anak. Misalnya, 91% mengaku berasal dari keluarga yang anaknya lebih dari dua. ''Perhatian yang kurang akan memberi peluang bagi anak bertindak sekehendaknya,'' kata Soewadi. Dengan angketnya, Soewadi memang ingin mengejar pembuktian bahwa tindakan keras orang tua, selain menyebabkan anak cenderung kriminal, sekaligus buruk pula akibatnya pada perkembangan sosial lainnya. Buktinya, 88% gagal studi meski secara ekonomis mampu. Hasil yang kontras diperoleh Soewadi dari kelompok pengontrol. Pekerjaan dan tingkat pendidikan orang tua mereka juga beragam, termasuk kondisi ekonomi mulai yang pas-pasan sampai yang lumayan. Dibandingkan dengan kelompok kriminal tadi, 96% responden dari kelompok pengontrol punya orang tua harmonis. Umumnya mereka mengaku beroleh perlakuan yang penuh pengertian. Artinya, anak merasa mendapat tempat dalam keluarga. Sampai di sini Soewadi menyimpulkan bahwa pangkal persoalan tindak kriminal anak adalah tidak harmonisnya keluarga, baik antara sesama orang tua maupun antara orang tua dan anak. ''Orang tua dari keluarga yang tidak harmonis umumnya keras dan kasar. Mereka ini perlu pula mendapatkan perhatian karena kepribadiannya kurang stabil,'' katanya. Dari kajian kasus Bambang tadi, menurut Soewadi, umumnya masyarakat berkomentar, ''Jahat benar anak itu.'' Jadi, yang dikecam malah si anak, bukan orang tuanya yang dilirik ibarat buruk muka, kok, cerminnya yang dibelah. Kalaupun ada seminar yang menggunjingkan topik ini, menurut Soewadi kepada Marcellino X. Magno dari TEMPO, ''Umumnya orang tidak mau menerima kenyataan bahwa tindak kriminalitas anak, dalam porsi terbesar, sebetulnya justru bersumber dari orang tuanya sendiri.'' Memang, tugas orang tua mendidik anak di masa dini mirip menempa besi ketika masih panas. Seperti tukang di apar besi, sekali dia salah menempa, akan sia-sialah hasil kerjanya, atau lazim diungkapkan dengan: arang habis, besi binasa. Ed Zoelverdi

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833294971



Perilaku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.