Kolom 1/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Abri back to basics

Abri tidak sama dengan kekuatan hankam negara lain. abri lahir dan tumbuh sebagai tentara nasional dan tentara rakyat, bukan sebagai alat pertahanan-keamanan pemerintah. saptamarga harus dilaksanakan sebaik-baiknya oleh abri dan anggotanya.

i
SEBETULNYA, yang lebih dulu bicara back to basics adalah pakar ekonomi. Tampaknya, hal itu didorong oleh kurangnya kepuasan mereka tentang perilaku dan prestasi banyak organisasi ekonomi, khususnya perusahaan yang bergulat dalam bisnis. Menjadi pertanyaan apakah kalangan pejabat ABRI yang bicara tentang ''ABRI back to basics'' juga didorong oleh kurangnya kepuasan mengenai perilaku dan prestasi organisasi ABRI atau kesatuan tertentu di dalamnya. Kalau memang ada, tentu ada alasan untuk back to basics. Secara harfiah back to basics mengandung makna bahwa harus diadakan gerak kembali ke hal-hal yang bersifat mendasar. Hal- hal mendasar bagi ABRI yang hendak back to basics mempunyai makna yang unik, oleh karena terbentuknya ABRI tidak sama dengan terbentuknya angkatan bersenjata di negara lain. ABRI lahir dan tumbuh sebagai satu tentara nasional dan tentara rakyat. Bisa saja angkatan bersenjata negara lain juga tentara nasional atau tentara rakyat. Akan tetapi makna bagi ABRI sebagai tentara nasional dan tentara rakyat lebih mendalam oleh sebab terjadinya ABRI adalah dalam bentuk levee en masse atau kebangkitan rakyat, dan bukan ditetapkan oleh pemerintah. Baru kemudian ABRI, yang waktu itu bernama BKR, ditetapkan Pemerintah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Sejak permulaan ABRI adalah tentara nasional yang membedakannya dari tentara milik partai politik. Pada tahun 1945 partai politik mempunyai organisasi bersenjata, seperti Pesindo milik atau dekat sekali dengan Partai Sosialis. Demikian pula hubungan antara Barisan Banteng dan PNI, Hizbullah dan Masyumi, dan lain-lain. BKR dan kemudian TKR dari permulaan adalah milik seluruh bangsa Indonesia. ABRI juga tentara rakyat, karena berdirinya dalam satu kebangkitan rakyat yang tidak mau dijajah lagi dan bertekad mempertahankan kemerdekaan bangsa yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Karena itu pulalah mengapa kemudian ABRI tidak merasa dirinya hanya sebagai alat pertahanan-keamanan bagi Pemerintah, melainkan juga sebagai organisasi perjuangan nasional yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan perjuangan nasional, yaitu penciptaan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Itulah yang kemudian menjadi inti Saptamarga yang merupakan Etik Perjuangan ABRI, dan itu pulalah yang menjadi landasan Dwifungsi ABRI. Maka, kalau sekarang ABRI harus back to basics, itu berarti ABRI dan anggotanya harus kembali menyadari sepenuhnya makna Saptamarga dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Dan terus memberikan sumbangannya bagi tercapainya tujuan nasional dengan melaksanakan Dwifungsi ABRI secara tepat dan berdayaguna. Hal mendasar lain bagi ABRI adalah Sumpah Prajurit yang terikat erat dengan Saptamarga. Sumpah Prajurit itu yang mengikat setiap anggota ABRI secara lahir dan batin untuk selalu berpedoman dan melaksanakan Saptamarga. Mereka yang menyerukan ABRI back to basics menginginkan agar Sumpah Prajurit dan Saptamarga dikongkretkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang diharapkan dari anggota ABRI adalah bahwa ia seorang patriot sejati. Itu berarti ia cinta tanah airnya dan bersedia menjalankan apa pun bagi kepentingan bangsanya. Itu mengandung makna bahwa ia menjauhi segala hal yang merugikan bangsanya, seperti segala bentuk perbuatan korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta perbuatan lain semacam itu. Sebaliknya ia adalah seorang yang berdisiplin baja, sekalipun sebagai tentara rakyat abad ke-20 tidak berdisiplin mati, dan senantiasa mengusahakan hal yang terbaik bagi bangsanya. Ia adalah seorang prajurit yang mengejar kecakapan profesional yang setinggi-tingginya, karena ABRI sebagai kekuatan hankam tidak boleh kalah dari kekuatan hankam negara mana pun. Ia sadari sepenuhnya bahwa konsekuensi dari kurang mampunya ABRI mengimbangi kekuatan hankam negara lain, khususnya yang mengancam Indonesia, adalah penderitaan bagi bangsanya. Itu sudah dialami bangsa Indonesia selama 300 tahun akibat tidak mampu mengatasi kekuatan Belanda sejak abad ke-16. Dan baru dapat diatasi dalam Perang Kemerdekaan ketika TNI bersama rakyat menghasilkan kekuatan hankam yang tak dapat dibendung oleh Belanda. Karena itu, sesuai dengan tugas dan jabatannya, setiap anggota ABRI senantiasa mempertinggi kemampuannya sebagai prajurit dan mendorong lingkungannya untuk berbuat sama. Dengan begitu, dapat ditimbulkan keengganan bangsa lain mengganggu rakyat, wilayah, serta kepentingan Indonesia. Dan mampu mencegah atau mengatasi setiap gangguan keamanan dalam negeri, sehingga timbul rasa tenteram dalam masyarakat. Sebagai tentara rakyat, setiap anggota ABRI menjadi anak kandung rakyat, di mana pun ia berada di Indonesia. Itu hanya terwujud kalau sikap anggota ABRI terhadap masyarakat menjadikannya patut sebagai anak kandung rakyat. Bersikap sopan santun dan ramah, jauh dari keangkuhan dan demonstrasi kekuasaan terhadap anggota masyarakat. Sebaliknya, sanggup bersikap dan bertindak tegas kepada mereka yang melakukan perbuatan salah serta merugikan masyarakat. Sebagai organisasi, ABRI senantiasa memikirkan serta mengusahakan hal-hal yang terbaik bagi pencapaian masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Itulah perjuangan ABRI sebagai kekuatan sosial-politik yang selalu penuh prakarsa, tetapi tidak pernah lepas dari keharusan berdisiplin. Apa yang dikemukakan ini adalah hal yang sederhana dan wajar- wajar saja. Tetapi, dalam kenyataan hidup, mungkin tidak semudah itu untuk dilaksanakan. Sebab, kemudian masuk faktor kepentingan pribadi dalam percaturan. Kalau tak ada kemampuan untuk mengendalikan kepentingan pribadi, khususnya yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat, itulah perilaku dan prestasi yang kurang memuaskan. Apalagi memegang senjata dan kekuasaan dalam mengurus negara, orang mudah tergelincir. Karena itu, kehendak untuk ABRI back to basics tidak cukup dengan pemahaman kembali dan penyadaran penuh dari Saptamarga, Sumpah Prajurit, dan Dwifungsi ABRI, tetapi tidak kalah pentingnya adalah kendali diri.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833202735



Kolom 1/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.