Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bangsa

Bangsa bagi israel, sebuah negeri yang didirikan setelah orang yahudi dibantai di eropa. anton shamas tak diakui sebagai warga israel karena ia orang arab. israel satu-satunya negeri yang dipunyai jutaan orang (asalkan yahudi).

i
BANGSA adalah sebuah makhluk yang aneh. Jika tak percaya, tengoklah ke Timur Tengah. Kamal Abu Deeb, seorang sastrawan Arab, menulis beberapa saat setelah Irak digempur dalam Perang Teluk, 1991: Kita tak bisa tidak bersama bangsa.... Bangsa mungkin tiran gergasi ... mungkin seorang polisi dengan anjing yang mengejar kita di mana-mana di kungkungan temboknya. Bangsa mungkin gua tempat rasa kecewa kita, atau rumah pembantaian mimpi manis kita, kuburan kebebasan dan kehormatan kita.... Tapi kita tak bisa tidak bersama bangsa. Ada sikap apa-boleh-buat dalam pernyataan Abu Deeb, ada solidaritas tapi juga rasa getir. Prosa itu berjudul ''jeritan di tanah terbuang'' konon bahasa Arabnya Sarkhah fi Matah. Apa pun yang dimaksudkannya dengan ''tanah terbuang'', Abu Deed bicara tentang keniscayaan ''bersama bangsa'': rasa sepenanggungan. Tragik dan mungkin heroik, kita, menurut Abu Deeb, telah diserahkan sejarah untuk tak bisa sendirian. Masalahnya, kemudian, kenapa tak bisa. Abu Deeb berasal dari Suriah. ''Bangsa'' yang dilukiskannya sebagai sebuah himpunan yang begitu mencengkeram itu tentu saja bangsa Arab, yang hidup di pelbagai negeri di Timur Tengah kini: mereka yang dikelilingi pintu-pintu bui yang mengancam dan pasukan polisi yang berpatroli sampai ke isi pikiran, tapi toh terus-menerus berseru, terkadang dengan air mata, bahwa Arab Si Korban dan Arab Si Algojo adalah satu, dan harus satu. Benedict Anderson menyebut sebuah bangsa adalah sebuah ''komunitas yang dibayangkan'', an imagined community. Dalam hal bangsa Arab, imajinasi itu begitu dahsyat: rasa sekomunitas, bayangan sesaudara, bahkan melampaui rasa tertindas dan dianiaya. Abu Deeb itu contohnya. Hanya abad ke-20 yang bisa menjelaskan itu. Fouad Adjami menulis dengan cemerlang, dalam The Arab Predicament, tentang rasa waswas yang pada zaman ini merundung orang-orang Arab Timur Tengah itu: rasa cemas kalau-kalau ''takluk secara budaya'' di hadapan apa yang dibayangkan sebagai ''Barat''. Soal identitas diri pun dengan cepat, seperti setrum listrik, menjalar dan menimbulkan eksplosi. Sering mengguncangkan orang lain, sering membutakan diri sendiri. Tapi tak cuma itu. Ada juga rasa malu, marah, frustrasi, setelah kekalahan dalam perang singkat 1967 melawan Israel. Apalagi Israel, di Timur Tengah, punya sebuah pengertian yang ganjil tentang ''bangsa'' yang membuat soal identitas jadi soal politik yang kian pedas dan kian pedih. Kita ingat Anton Shammas. Ia seorang Arab, tapi warga Israel, seperti sekitar sejuta orang Arab lainnya. Ia seorang sastrawan yang sekaum dengan Abu Deeb tapi ia menulis dalam bahasa Ibrani. Bagi Shammas, Israel bagaimanapun adalah negerinya. Baginya, orang Arab Israel bisa memberikan sumbangan yang punya nilai kultural dan politik. Tetapi betapa sulit: seperti dikisahkan dalam Sleeping on a Wire: Conversations with Palestinians in Israel oleh David Grossman, sikap Shammas tak mudah diterima oleh warga Israel yang Yahudi. Ada seorang intelektuil Yahudi yang menyilakannya pindah beberapa puluh meter ke Timur, ke wilayah Arab yang siapa tahu kelak jadi negeri sendiri itu .... ''Bangsa'', bagi Israel, sebuah negeri yang didirikan setelah orang Yahudi diusir dan dibantai di Eropa, memang lain. Seorang keturunan Arab warga negara Amerika atau Indonesia akan disebut berkebangsaan ''Amerika'' atau ''Indonesia'' di formulir imigrasi, tapi analogi itu tidak berlaku bagi seorang keturunan Arab warga Israel nasionalitasnya ditentukan resmi sebagai ''Arab''. Di Israel, ''bangsa'' adalah konsep yang menyangkut garis darah dan agama, tak cukup karena ''hasrat untuk menjadi bersama'' seperti dalam konsep termasyhur Ernst Renan. Israel satu-satunya negeri yang dipunyai oleh jutaan orang yang tak tinggal di sana, (asalkan Yahudi), tapi tak bisa 100% dipunyai oleh sebagian orang yang jadi warganya misalnya Anton Shammas. ''Bangsa'' memang sering lebih berbicara tentang kami ketimbang kita: gerak kebersamaan yang terkadang membuang dan mengucilkan. Tak selamanya orang bisa menanggungkan itu. Pada tahun 1979, Penyair Fawzi Kareem meninggalkan Irak, lari dari negerinya tempat kebersamaan sepenuhnya ditentukan oleh nasionalisme Partai Baath dan kekuasaan Saddam Hussein. Kareem menulis: Tiap layar yang tak termasuk milikmu, wahai polisi di perbatasan, yang... lari dari semua makna hitam itu, itulah layar milikku. Memang, bangsa bisa apa saja, tapi ada yang tak bisa diputuskan hanya oleh kekuasaan (dan kekerasan) di perbatasan. Terkadang seorang bisa mencipta layarnya sendiri. Goenawan Mohamad

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833147132



Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.