Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ruang di belakang dan bentuk alami

Pameran patung dua pengajar ikj yang diberi judul ''liuk- rentang'', yang mengingatkan kreativitas bisa di mana saja: pada karya model instalasi maupun karya biasa dari perunggu dan besi.

i
BINGKAI yang menciptakan ruang, dan penari itu pun hanya sebuah siluet. Patung tak lagi pada dirinya sendiri sebuah karya tiga dimensi. Ruang sekitar, tepatnya ruang di belakang sang penarilah yang kemudian membentuk ruang, menyatu pada patung Bedoyo garapan Dolorosa Sinaga. Dari belasan karya patung di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang dipamerkan sampai akhir Mei ini oleh dua pematung wanita, Dolo dan Iriantine, Bedoyo memang cepat menarik perhatian karena sosoknya yang berbeda. Gerak pada Bedoyo memang tak terasa, bila gerak harus ditangkap lewat ekspresi wujud yang nyata, seperti pada Supreme Movement. Patung Dolo yang lain ini secara fisik memang mewujudkan sebuah gerakan: sesosok figur yang merentangkan tangan dan kaki ditambah sebentuk kostum yang ikut membentang. Pada Bedoyo, ruang di belakang patung itulah yang memberikan imaji gerak. Kekosongan di belakang memberi ruang untuk sosok di depan. Disengaja atau tidak, terlibatnya ruang karena bingkai itu, atau bisa juga dikatakan bingkai yang membentuk ruang, mungkin itulah yang membentuk ''sensasi realitas,'' untuk meminjam kata-kata pengajar di Jurusan Patung Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sendiri. Di sini ukuran patung yang kurang dari lebar telapak tangan orang dewasa menjadi punya makna. Justru karena ukurannya yang kecil, memberikan imaji kekosongan tanpa batas pada ruang di belakang itu. Mungkin itu misteri gerak yang diam, atau kekosongan yang punya makna. Justru ketika bentuk itu sendiri adalah sebuah sensasi, Dolo kehilangan ''sensasi realitas'' itu. Sejumlah sosok yang dibentuk dari perunggu, juga pipih, dan semuanya tanpa kepala. Sosok-sosok yang mengingatkan pada tubuh-tubuh penghuni kamp tawanan. Tapi mengapa jumlah itu tak terasa sebagai sebuah kesatuan, padahal disajikan pada satu level, menjadi gangguan yang membuat pemirsa mungkin tak menemukan sesuatu. Pikiran- pikiran yang dibekukan, demikian judul karya itu, kehilangan ''sensasi'', atau ''misteri'', atau apa pun yang membuat karya ini menawarkan sebuah ''pengembaraan imajiner.'' Hal yang sama, terjadi pada Deliberasi. Empat patung kepala, masing-masing sebesar kepalan tangan anak-anak, dan masing- masing ditaruh di dalam kotak besi berjejer. Ketiga patung hanya terlihat belakang kepalanya, dan patung ketiga dari kiri, atau kedua dari kanan, melengos ke belakang, hingga tampak profilnya. Keputusan memelengoskan satu kepala, dan yang lain tidak, kurang bisa menumbuhkan sebuah imaji tertentu. Demikian juga sebuah patung figur yang kepalanya dipisahkan dan dipasang pada posisi di belakang leher. Patung berjudul Multiple mind ini terasa ''verbal'', terpisahnya kepala itu sendiri tak memberikan sebuah imaji pikiran yang ganda. Itulah juga yang terasa pada Tujuh Bidadari karya Iriantine Karnaya, rekan Dodo di IKJ yang lulusan Fakultas Seni Ripa ITB ini. Munculnya ''bidadari'' merah di antara keenam yang abu-abu kurang terasa memberikan napas kreativitas bahwa di situ ada sebuah kesengajaan yang membuat keteraturan bentuk abu-abu menyimpang. Pada karya-karya Iriantine menurut saya memang lebih tampil karya-karya yang membentuk imaji bentuk-bentuk alami. Naluri, sebuah bentuk tumbuhan mungkin, yang dipadu dengan beberapa batu yang sudah digosok dan dibentuk mirip setetes embun menggantung yang dipasang merembet pada dudukan patung, adalah yang paling menarik. Sebuah kewajaran, hampir-hampir mengesankan bahwa karya ini dipungut dari alam dan bukannya dibikin letak beberapa bentuk embun segera memberikan kesan adanya sentuhan seorang kreator. Tapi Nuansa Alami, dua bentuk batang saling melilit, diikat dengan dua bentuk pita, tak memberikan kewajaran itu. Mungkin bentuk pita itu, tak seperti bentuk embun terpadu dengan sendirinya pada bentuk tumbuhan, tak terpadu pada bentuk batang. Dua bentuk menjadi tak alami, karena kontras batang yang alami dan pita yang tidak tak menghadirkan keharmonisan. Tapi inilah pameran patung, setelah pameran karya instalasi IKJ beberapa lama lalu, yang mengingatkan bahwa kreativitas bisa di mana saja. Pada karya tiga dimensi dengan bahan tradisional (perunggu, besi, kayu, dan lain-lain), atau karya instalasi yang ''kanvas''-nya adalah alam, dan ''cat''-nya bisa apa saja itu. Bambang Bujono

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836535243



Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.