Hukum 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pagar makan tanaman

Tiga polisi dijatuhi hukuman berbeda. di jakarta, dua polisi yang mencuri dipecat. di surabaya, polisi yang terlibat penyelundupan cuma dipenjara.

i
KETEGARAN dua sersan polisi itu goyah. Padahal, sejak awal persidangan, Serda Syarifudin dan Serda Johni dua polisi dari jajaran Polda Metro Jaya selalu menunjukkan sikap tegar. Rabu pekan lalu mereka dijatuhi hukuman berat. Hakim Kolonel Sumarni dari Mahkamah Militer Jakarta memvonis mereka dengan pemecatan dari ABRI dan hukuman penjara masing-masing 21 bulan (untuk Syarifudin) dan 19 bulan (untuk Johni). Menurut hakim, kedua terdakwa pantas dihukum berat karena mencemarkan nama baik Kepolisian RI (Polri). ''Saya sudah bertanya kepada mereka sendiri apakah masih pantas jadi anggota Polri. Mereka menjawab, sudah tidak,'' ungkap Sumarni Kukuh Karsadi dari TEMPO. Kapolda Metro Jaya, sebagai atasan yang membina mereka, juga meminta kepada hakim agar kedua terdakwa diberhentikan dari keanggotaannya di Polri. Kejadian yang menyeret dua bintara ke mahkamah militer itu berpangkal pada sebuah kejadian pada Juni 1991. Syarifudin, yang bekerja di Pusat Komando Pengendalian Operasi Polda Metro Jaya, meminjam mobil Suzuki Carry milik rekannya, Serda Sri Hartini. Ketika ia membawa mobil itu, timbul niatnya untuk mencuri. Di jalan, Syarifudin membuat kunci duplikat. Rencana pencurian kemudian dirancangnya bersama Johni. Mereka berdua pernah bekerja sama mencuri sepeda motor. Johni malah mengatakan sanggup membeli Suzuki Carry itu seharga Rp 1 juta. Pencurian kemudian dilakukan dengan mulus pada Agustus 1991, tapi beberapa hari kemudian terbongkar. Soalnya, Serda Sri Hartini memergoki mobilnya dipakai Johni berpacaran. Nasib kedua polisi bawahan itu tak seberuntung Letkol (Pol.) M. Kalangit. Kendati terbukti terlibat penyelundupan 60 ton bawang putih, perwira menengah ini tidak dihukum pecat oleh Hakim Kol. Sus Edy Purnomo dari Mahkamah Militer Surabaya. Kalangit, Sabtu dua pekan lalu, hanya dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 2 bulan. Penyelundupan yang melibatkan Kalangit terjadi April 1991, lewat Pantai Sendang Biru, Malang. Otak penyelundupan bawang putih asal Singapura ini John Paransi (almarhum), ipar Kalangit. Penyelundupan yang direncanakan rapi ini melibatkan sejumlah anggota polisi dan aparat desa semuanya sudah dihukum. Namun kejahatan ini tercium juga. Dan Polres Malang berhasil menangkap basah iring-iringan truk yang membawa bawang selundupan itu. Kalangit ditangkap di pantai ketika sedang mengawasi pemuatan barang. Ia berusaha menyembunyikan identitasnya dengan mengaku bernama Zainal. Tapi, setelah isi dompetnya digeledah, baru ketahuan bahwa ia adalah Wakil Kepala Satgas Operasi Puskodal Mabes Polri. Di depan hakim, Kalangit mengungkapkan bahwa keterlibatannya semata-mata karena ingin menolong John Paransi. Pengakuan ini dijadikan pertimbangan hakim untuk meringankan kesalahannya. Namun, yang memberatkan, tindakan Kalangit menunjukkan kelemahannya sebagai prajurit Saptamarga. ''Betapa rendahnya martabat seorang perwira menengah yang mau diperalat orang sipil,'' kata Hakim Edy. Meski begitu, Edy menganggap kelakuan terdakwa masih bisa diperbaiki. Apa pun motivasinya, kejahatan yang dilakukan polisi bisa berdampak luas. Masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaan. Polisi, yang semestinya menjadi ''pagar'' pelindung untuk menjamin ketenteraman, malah ''memakan tanaman'' yang dilindunginya. ARM, Bambang Sujatmoko, dan K. Candra Negara (Surabaya)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836746559



Hukum 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.