Kriminalitas 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mayat di citarum

Mayat warya ditemukan di sungai citarum. ayah satu anak itu dihabisi 21 warga desa karena baru diduga mencuri tape recorder.

i
DALAM sehari, Kepolisian Sektor (Polsek) Darangdan, Purwakarta, Jawa Barat, berhasil menyingkap misteri mayat di Sungai Citarum. Jasad rusak yang digantungi batu kali itu dikenal sebagai Warya, 26 tahun, penduduk Desa Cibingbin, Kecamatan Bojong, Purwakarta. Sampai Senin pekan lalu, polisi sudah menangkap 21 tersangka pembunuhnya. Kasus Warya terungkap setelah ibunya, Nyonya Uuk, 50 tahun, gigih mencarinya. Si sulung dari 10 anaknya itu tak kunjung pulang sejak 22 April lalu. Berhari-hari ia mencari anak yang bekerja serabutan itu, tanpa hasil. Dan awal 6 Mei lampau sang ibu mendapat kabar dari Endin. Menurut petani Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan itu, Warya diculik waktu main gaple di warung Arin, tengah malam 22 April. ''Kata orang, Warya sudah dibunuh,'' tutur Endin. Begitu dilapori kejadian itu besoknya, polisi pun meringkus Aep Saefudin. Beberapa saksi mata melihat Aep ada di antara kawanan yang memboyong Warya. Lusanya, polisi menciduk 16 warga lainnya, termasuk Udin Odang, 42 tahun, yang diduga otak kasus itu. Empat tersangka lain ditangkap Senin pekan lalu. Akal halnya soal Warya, ayah satu anak, waktu itu masih tanda tanya. Sebab, Udin dan yang lain plintat-plintut. Mereka mengaku cuma mengantarkan beberapa aparat keamanan yang memburu Warya. Hari itu juga Polsek Darangdan menerima info penemuan mayat dari Kepolisian Resor (Polres) Cibabat, Cimahi, Bandung. Mayat itu ditemukan petugas Waduk Cirata pada 29 April, di Sungai Citarum, di daerah Leuwi Jurig, Cimahi. Karena belum ada masyarakat yang mengenalinya, mayat itu diinapkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Menurut visum dokter, korban diperkirakan dibuang ke sungai sewaktu masih hidup. Sebab, di bagian paru-parunya ditemukan banyak pasir. Ternyata, ciri-ciri mayat itu cocok dengan data di Polsek Darangdan. Baju lengan panjang berwarna kuning, misalnya, dikenali sebagai baju yang dikenakan Warya. Cacat di tangan kirinya satu ruas jari manisnya hilang adalah ciri khas Warya. Udin dan kawan-kawannya tak bisa lagi berkelit. ''Dia sangat meresahkan masyarakat,'' kata Kepala Urusan Ekonomi dan Pembangunan Desa Pasirangin itu. Warya, katanya kepada Asikin dari TEMPO, beberapa kali mencuri di Desa Pasirangin. Entah itu ayam, celana, bahkan sepeda motor. Puncaknya, tape recorder kompo merek ''Tens'' milik Denny hilang pada 21 April. Waktu itu, tape tersebut sedang dipinjam Iie dan dua rekannya. Mereka berkaraoke-ria di teras rumah Iding. Karena terbelit kantuk, mereka tertidur. Begitu terjaga, tape itu sudah menguap. Padahal, kabel dan mike-nya masih terlilit di lengan Iie. Seorang dari mereka mengaku selintas melihat sosok Warya berbaju kuning. Dari info orang mengantuk itulah mereka menjemput Warya di warung Arin. Kendati diinterogasi habis-habisan di Balai Desa Pasirangin, Warya tetap menampik tuduhan mencuri ''Tens''. Namun, mereka lalu menghajar Warya. Tangan dan kaki Warya diikat. Masih ditambah karung goni berisi batu yang diikatkan ke kaki korban. Setelah itu, korban dibuang ke Sungai Citarum, di jembatan tol Rajamandala, Cianjur 2 km dari tempat ditemukannya mayat itu. Usai merajang Warya, belakangan mereka malah menemukan si Tens di kolong mobil dekat rumah Iding. Padahal, Warya yang tak tahu apa-apa tentang si Tens sudah telanjur dikubur di sungai. Apalah arti sesal kemudian. Happy Sulistyadi

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836600414



Kriminalitas 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.