Kriminalitas 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Utang nyawa bayar nyawa?

Bodong tewas dalam sel polisi di lhoksukon. karena infeksi tetanus? satu jam sebelumnya ia baik-baik saja. abangnya belum dibebaskan.

i
PENGUBURAN Muhammad Ilyas alias Bodong berlangsung tegang. Ini bukan cuma karena tempat itu dikelilingi polisi dari Lhoksukon, Aceh Utara. Sebelum dibawa ke Desa Meunasah Tring itu, jasad Bodong dikafani di Lhoksukon. ''Kami tidak melihat keadaan tubuhnya karena tak berani,'' kata Aisyah. Tapi kakak Bodong ini melihat setetes darah di ujung kaki mayat adiknya itu sebelum dikuburkan pada petang 17 Mei lalu. Utang nyawa harus dibayar nyawa? Bisik-bisik itulah kini yang beredar. Konon, Bodong, 16 tahun, tewas disiksa polisi. Bisik- bisik itu tentu dibantah. ''Ia mati bukan karena disiksa,'' kata Kepala Dinas Penerangan Polisi Daerah Aceh, Mayor Sudjiman, kepada TEMPO. Menurut visum, Bodong tewas karena infeksi tetanus di lututnya. Bodong ditangkap polisi Polsek Lhoksukon karena mencuri ayam neneknya, Fatimah, 23 April lalu. Fatimah adalah adik Teuku Raja Sabil, kakek Bodong. Sembilan hari kemudian, Bodong lari setelah membengkokkan jeruji besi sel tahanan dengan tangannya. Selama dua pekan, Bodong yang bertubuh kerempeng itu hilang jejaknya. Ia muncul lagi pada 7 Mei lalu di rumah kakeknya. Ketika dikepung polisi, ia kembali raib. Selepas itu, ia bentrok dengan Baset, 30 tahun, penduduk di situ. Tak jelas sebabnya, Baset membacok lutut Bodong hingga banyak mengeluarkan darah. Toh Bodong bisa lari, menghindari kejaran polisi. Besoknya, Bodong kepergok Sersan Satu Jamain di irigasi persawahan dekat Lhoksukon. Ia melompat ke dalam saluran irigasi. Meskipun Jamain memintanya agar menyerah sambil dua kali menembak ke udara Bodong malah mengacungkan pisau. Lalu Jamain menembak lagi. Peluru ketiga ini mengenai telapak tangan Bodong. Mengira Bodong sudah lumpuh, Jamain terjun ke air. Dan ketika itulah Bodong menikam lehernya dengan pisau tadi. Bodong juga merampas senjata Jamain dan menembak keningnya hingga tewas di tempat. Kemudian Bodong menghilang. Setelah itu, polisi menangkap kakeknya, Teuku Raja Sabil, serta abang Aisyah, Nurdin dan Zainal. Zulkifli, suami Aisyah, turut pula ditahan. Mereka dituduh menyembunyikan Bodong. ''Padahal, kami semua tak tahu ke mana ia lari,'' kata Aisyah. Bodong ditangkap polisi di Puskesmas Pulo Barayan, Medan, 12 Mei lalu, saat mengobati lukanya. Dari tangannya disita pistol Colt-38 milik Sersan Satu Jamain. Bodong dipapah ketika dibawa ke Lhokseumawe. Luka di lututnya, menurut polisi, sudah membusuk. Seorang dokter didatangkan untuk mengobatinya. Tapi pada 17 Mei pagi Bodong ditemukan tak bernyawa. ''Satu jam sebelumnya ia masih baik-baik,'' kata Kepala Polisi Resor Aceh Utara, Letnan Kolonel Ramli Arsyad, kepada TEMPO. Sebuah sumber polisi menyebutkan, Bodong dilibas petugas sejam sebelum tewas, tapi cuma dengan ijuk dan batang keladi. Maksudnya, agar ilmu hitam Bodong lumpuh. Ketika diboyong dari Medan, menurut polisi, Bodong memutuskan borgol di tangannya. ''Tak masuk akal, tapi nyatanya begitu,'' kata sumber tadi. Teuku Raja Sabil-lah, menurut polisi, yang menurunkan kekuatan ilmu hitam itu kepada Bodong. ''Maka, kakek itu ditahan agar tak bisa memainkan ilmunya,'' kata sumber tadi. Tapi, ''Saya ini cuma pintar mengobati penyakit perut,'' kata Pak Tua berusia 90 tahun itu kepada TEMPO. Sabil, Nurdin, dan Zainal sudah dibebaskan. Hanya Zulkifli, abang ipar Bodong, yang belum. ''Kok suami saya masih ditahan?'' kata Aisyah. Padahal, mereka sudah pasrah atas tewasnya Bodong. ''Kami tidak akan menuntut polisi,'' kata Sabil. Bersihar Lubis dan Mukhlizardy Mukhtar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836870127



Kriminalitas 1/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.