Luar Negeri 4/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dostum masih mengancam

Kesepakatan jalalabad mengakhiri perang. tapi masih ada tuntutan jenderal dostum yang sulit dipenuhi, yang bisa meledakkan perang lagi.

i
SUASANA Kabul berubah. Dari hujan roket selama 12 hari, ibu kota Afganistan itu kini sibuk dengan lebih dari 3.000 korban yang dirawat di lima rumah sakit. Pekan lalu, memang masih ada ledakan, tapi hanya kecil-kecilan. Meredanya pertempuran artileri itu karena kesepakatan dicapai oleh sembilan pemimpin mujahidin di Jalalabad, Rabu pekan lalu. Setelah berunding selama tiga pekan, kesembilan pemimpin mujahidin itu sepakat mengalihkan kementerian pertahanan dari tangan Ahmad Syah Massoud ke tangan sebuah komisi yang dipimpin oleh Presiden Rabbani. Massoudlah yang menjadi masalah hingga meledak pertempuran. Tim pembentuk kabinet beberapa waktu lalu sepakat mengangkat Massoud sebagai menteri pertahanan. Tapi, Hekmatyar, panglima faksi mujahidin radikal, Hezbi-i-Islami, yang terpilih sebagai perdana menteri baru, menolak mengakui Massoud. Hekmatyar bertekad, dengan kekuasaan barunya, segera memecat Massoud dari kursi menteri pertahanan. Ia menuduh Massoud, rival utamanya sejak Perang Afganistan tahun 1990, berkomplot dengan orang-orang komunis, karena bersedia bekerja sama dengan Jenderal Rasyid Dostum, bekas pendukung setia Presiden Najibullah yang tergulingkan oleh mujahidin. Perang artileri dan hujan mortir pun tak terelakkan, tatkala pasukan Massoud dibantu 30.000 pasukan Dostum menyerang basis pasukan Hekmatyar di selatan Kabul. Tak cuma itu. Pasukan Massoud yang berjumlah 40.000 orang itu juga menyerang basis militer mujahidin kelompok Syiah dukungan Iran yang menguasai bagian barat Kabul. Serangan ini tak diketahui sebab-musababnya karena kelompok Syiah pun sebenarnya dimusuhi oleh kelompok Hekmatyar. Ada dugaan, pasukan Massoud berniat merebut daerah seluas mungkin di Kabul. Pertempuran itu mengakibatkan sekitar sepertiga dari 1,5 juta penduduk Kabul mengungsi ke negara tetangga, terutama ke Pakistan, karena takut menjadi korban sia-sia perang saudara itu. Palang Merah Internasional memperkirakan hampir 2.000 jiwa melayang, sejak perang antar-mujahidin pecah awal tahun ini. Dan perang 12 hari itu rupanya tak mengubah posisi pasukan. Tentara Syah Massoud dan Jenderal Dostum tetap hanya menguasai bagian timur Kabul. Di barat, pasukan mujahidin Syiah ternyata cukup bisa bertahan dari gempuran pasukan Massoud, sedangkan di selatan, pasukan Hekmatyar kuat bertahan. Sebelum posisi berubah, kesepakatan Jalalabad mengakhiri dentuman roket. Kini, setelah masalah Massoud terpecahkan, adakah perdamaian bakal bisa dinikmati di Afganistan? Para pengamat bilang, jika toh perdamaian lahir dari kesepakatan Jalalabad, itu cuma sementara. Di samping Massoud, masih ada Jenderal Dostum yang tak mudah menerima kompromi. Dengan 30.000 pasukannya yang terlatih dan terorganisasi paling rapi, ia bakal menjadi duri kesepakatan Jalalabad. Padahal, kesepakatan inilah dasar dari pemerintahan Rabbani, yang baru akan berakhir tahun 1994 nanti. Dengan kata lain, dengan sebab apa pun, Jenderal Dostum akan menemukan alasan meledakkan lagi pertempuran. Soalnya, jenderal yang hanya lulusan SD yang menguasai wilayah utara ini mempunyai tuntutan yang sulit dipenuhi, yakni dibentuknya federasi Afganistan yang terdiri dari empat wilayah otonom berdasarkan empat kota besar: Mazar, Kandahar, Herat, dan Jalalabad. Lalu Kabul, menurut permintaan Dostum, dinyatakan sebagai pusat pemerintahan bersama yang kekuasaannya tak absolut. ''Siapa saja bisa memimpin Afganistan,'' katanya kepada majalah The Middle East. ''Yang kami inginkan persamaan hak,'' tambahnya. Gagasan Dostum ini ditolak oleh hampir kesembilan faksi mujahidin. Hal-hal seperti itulah sebenarnya yang dicoba dihindari oleh Rabbani, dengan mendudukkan Massoud, yang bisa menjinakkan Dostum di posisi kementerian pertahanan. Dan agar musuh Massoud bisa menerima posisi lawannya itu, Hekmatyar diberi kursi lebih tinggi, sebagai perdana menteri. Dengan komposisi itu, diharapkan agar semua kelompok di Afganistan bersedia menyerahkan persenjataan mereka, sehingga sebuah angkatan bersenjata Afganistan resmi bisa segera dibentuk, dan perdamaian bisa direalisasi. Bila saja skenario itu berjalan sempurna, diharapkan sebuah majelis bisa terbentuk paling lambat dalam waktu delapan bulan. Majelis yang terdiri dari sembilan wakil kelompok mujahidin bakal bekerja menyusun sebuah konstitusi. Setelah itu, barulah pemilihan umum diselenggarakan, sebelum masa jabatan Rabbani sebagai presiden berakhir Juni 1994. Sayangnya, kenyataan melenceng dari skenario yang telah disusun rapi. Perjanjian damai yang diprakarsai Pakistan, Arab Saudi, dan Iran, Maret lalu, hanya berlaku di kertas. Kabul tampaknya akan tetap menjadi ajang pertempuran artileri yang tak habis- habisnya. Bedanya, sebelum Maret, yang bertahan di ibu kota ini Massoud dibantu oleh Dostum, tapi kini yang di posisi itu adalah pasukan Hekmatyar. Sebagian besar pasukan Hekmatyar pekan ini akan turun gunung masuk Kabul. Mereka akan menjaga gedung pemerintahan tempat Hekmatyar berkantor. Massoud diberitakan menerima kesepakatan Jalalabad dengan rela. Mungkin saja Massoud memang melihat kepentingan yang lebih besar, yakni Afganistan yang damai, di atas kepentingan pribadi. Tapi ia tentunya juga tahu bahwa hal ini tak akan diterima begitu saja oleh Dostum. Dengan kata lain, Kabul akan segera kembali dihujani roket, kali ini oleh pasukan yang dulunya mempertahankan ibu kota itu. DP

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836707483



Luar Negeri 4/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.