Nasional 2/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kemelut tak kunjung tuntas

Sejumlah tentara dan polisi menggerebek sebuah gereja hkbp di tebingtinggi. ditemukan senjata tajam dan bom molotov di rumah ibadah itu.

i
KEMELUT yang mengguncang Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ternyata masih belum tuntas. Jumat pekan lalu, sekitar satu peleton aparat keamanan menggerebek gereja HKBP di Jalan Kartini, Tebingtinggi, sekitar 70 km dari Medan, setelah mendapat info bahwa di rumah ibadah tersebut disimpan sejumlah senjata tajam dan ratusan bom molotov. Benar saja. Dalam penggerebekan itu, menurut Kasdim 0204 Deli Serdang, Mayor Heru Sunardi, petugas menyita puluhan senjata tajam berupa kelewang, parang, celurit, golok, bambu runcing, sampai bom molotov. Selain itu, petugas juga disebutkan telah menemukan kawat berduri yang sudah dijalari arus listrik. Untuk mempertanggungjawabkan benda-benda terlarang yang ditemukan itu, 37 orang jemaat gereja tersebut ditahan petugas keamanan di kantor Polres Deli Serdang, Tebingtinggi. Senin kemarin, mereka yang ditahan itu telah dibebaskan. Mereka, kata Kadispen Polda Sumatera Utara, Letkol Leo Sukardi, tak terbukti melakukan tindak kejahatan. Apa sesungguhnya yang terjadi di HKBP? Ternyata, belum semua jemaat menerima keputusan Sinode Agung Istimewa di Medan, Februari lalu, yang mendudukkan P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus (baru) HKBP menggantikan S.A.E. Nababan. Bahkan, sebagian jemaat menganggap sinode itu tak sah dan menganggap jabatan ephorus masih dipegang Nababan. Maka, tak mengherankan ketika Pendeta R.M. Sianturi dilantik sebagai Praeses HKBP Distrik XV, menggantikan Pendeta F. Simatupang, 18 April lalu, banyak jemaat yang menentang serah terima tersebut. Sejak itu, jemaat yang pro Nababan, dan mempertahankan Simatupang, berjaga siang malam di sana. Di samping menguasai gereja di Jalan Kartini, pendukung Nababan juga menguasai gereja di Jalan Kotabaru, Tebingtinggi. Awal Mei, gereja di Jalan Kotabaru itu bisa dikuasai oleh kelompok anti-Nababan. Selang dua minggu kemudian, tanpa diduga, sekelompok jemaat pro Nababan menduduki kembali gereja di Jalan Kotabaru itu. Akibat pendudukan yang disertai kekerasan itu, ada jemaat pro Simanjuntak yang terkena bacokan hingga saat ini masih dirawat di rumah sakit ada rumah jemaat yang dirusak, dan ada sepeda motor yang dibakar. ''Bahkan mobil saya sempat dirusak massa,'' kata Mayor Heru Sunardi. Buntut kejadian pada 16 Mei itu, delapan tersangka pelaku kerusuhan ditahan. Selang beberapa hari kemudian, sekitar 100 orang ibu dan anak- anak unjuk rasa ke kantor Kodim 0204, Tebingtinggi, minta agar delapan jemaat yang ditahan itu dibebaskan. Tentu saja upaya yang mereka lakukan itu tak ditanggapi petugas. Pendeta Nababan, yang mengaku masih menjadi Ephorus HKBP karena belum melakukan timbang terima dengan Simanjuntak, membantah para perusuh itu sebagai pendukungnya. Ia, yang sejak Januari berada di Jakarta, menambahkan belum mendapat laporan mengenai peristiwa di Tebingtinggi itu. Sebuah rekayasa? ''Saya tidak tahu harus bilang apa,'' ujar Nababan. Mereka yang terlibat dalam peristiwa 16 Mei, yang kini ditahan, menurut sumber TEMPO di Polda Sumatera Utara, akan diproses sesuai dengan hukum. Siapa tahu, di pengadilan kelak, mereka yang berdiri di balik penyerbuan gereja di Jalan Kotabaru serta penumpukan senjata tajam dan bom molotov di gereja Jalan Kartini akan terungkap. Bersihar Lubis, Irwan E. Siregar, dan Nunik Iswardhani

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836355069



Nasional 2/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.