Ekonomi dan Bisnis 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Duel bisnis di ruang angkasa

Slot palapa b1 milik pt pasifik satelit nusantara kini terancam oleh tongasat. bukan mustahil, psn akan terpaksa membayar sewa parkir kepada saingannya.

i
ULAH pengusaha bisa tak terduga, apalagi kalau ia berkaliber internasional. Di negeri ini, para pengusaha baru sampai tahap memperebutkan lahan di muka bumi, sedangkan di mancanegara, yang diperkelahikan adalah lahan di ruang angkasa. Tak percaya? Persoalannya mencuat dalam sebuah konferensi pers di Washington, D.C., Amerika Serikat, bulan lalu. Sebuah perusahaan bernama Rimsat baru didirikan April lalu mengumumkan rencananya untuk memasarkan jaringan tujuh komunikasi satelit untuk kawasan Asia Pasifik. Satelit itu disewa dari Rusia dan sudah berada di orbitnya. Nah, salah satu satelit Rusia itu akan dipindahkan tempat ''parkir''-nya ke lintang timur 134 derajat, yang sekarang ditempati satelit Palapa B1 milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). ''Perpindahan itu awal Juli ini,'' kata Dr. Mats C. Nilson, Direktur Pengelola Tongasat, induk perusahaan Rimsat. Jika Nilson serius, ini berarti ''tantangan duel'' sudah diarahkan ke PSN. Soalnya, satelit Rimsat dan PSN menggunakan frekuensi yang sama dan daerah liputan yang hampir sama, alias akan saling mengganggu. ''Kami akan minta PSN untuk mengarahkan satelitnya ke tempat lain atau mematikan pemancarnya, begitu kami mulai beroperasi,'' kata Nilson penuh wibawa. Permintaan ini jelas ditolak. ''Silakan saja Rimsat yang mengarahkan satelitnya ke tempat lain,'' jawab A. Adiwoso, Direktur PSN. Maklum, perusahaan patungan PT Indosat, PT Telkom, Bimantara Group, Adiwoso, dan Iskandar Alisjahbana ini sudah mendapatkan pelanggan di Asia Pasifik sejak Oktober lalu. ''Dua transponder sudah disewa Filipina dan lima lagi akan disewa Taiwan serta Thailand, September nanti,'' ujar Adiwoso. Tak pelak lagi, potensi pelanggan yang besar itulah yang diincar PSN dan Rimsat. Andaikata kekuatan mereka berimbang, akan muncul dua pihak yang berseteru secara tangguh, memperebutkan kaveling di atas kawasan Asia Pasifik. ''Kebutuhan telekomunikasi kawasan ini tumbuh 25% setiap tahun,'' kata Nilson, 50 tahun, pakar komunikasi satelit yang pernah memimpin bagian perencanaan niaga Intelsat itu. ''Dan kamilah pemegang hak yang sah atas slot di 134 derajat lintang timur itu,'' ucapnya tanpa bisa ditawar-tawar. Yang menjadi modal Nilson adalah celah hukum. Celah ini kebetulan ada juga dalam pengaturan internasional pemakaian slot (tempat parkir) bagi satelit komunikasi. Slot itu ada pada orbit geostasioner yang merupakan lingkaran khatulistiwa di ke- tinggian sekitar 36.000 km. Berdasarkan perhitungan matematis, ini adalah satu-satunya orbit tempat satelit komunikasi bergerak, dengan kecepatan yang sama seperti putaran bumi. Dan itulah kondisi ideal bagi satelit komunikasi. Karena frekuensi radio yang boleh digunakan untuk komunikasi satelit ini telah ditentukan oleh International Telecommunication Union (ITU), pemanfaatannya harus diatur, agar tak saling mengganggu. Pengaturan tersebut kini dilakukan oleh International Frequency Registration Board (IFRB) yang bermarkas di Jenewa. Mula-mula mudah saja, karena slot yang tersedia jauh lebih banyak dari satelit yang ada. Namun, dengan melonjaknya permintaan sambungan internasional, bisnis satelit komunikasi telah membuat banyak pengusaha tergiur, tak terkecuali si Nilson. Pengalamannya di Intelsat (koperasi telekomunikasi internasional yang beranggotakan 119 negara) dimanfaatkan betul oleh jutawan keturunan Swedia ini. Dan tiga tahun silam, ulahnya menyebabkan masyarakat telekomunikasi internasional berang. Serentak dengan itu, nama Tonga terkenal ke seluruh dunia. Dengan mengatasnamakan negara Tonga, Nilson resmi meminta kepada IFRB agar diizinkan memakai 16 slot yang tersisa. Itu dilakukannya tiga tahun silam. Ia berhasil membujuk para petinggi Tonga negara 172 pulau dengan penduduk 100 ribu jiwa untuk membuat Tongasat dengan modal US$ 1 juta. Di balik itu, sebenarnya ada skenario lain. Nilson berambisi menjadikan Tongasat sebagai saingan Intelsat, terutama dalam memasok jasa komunikasi di Asia Pasifik. Nah, tempat parkir satelit Palapa B1, yang kini dimiliki PSN, ada di antara 16 slot itu. PT Telkom semula memang ingin mengakhiri masa kerja Palapa B1, tahun lalu, sehingga tak memperpanjang slotnya ke IFRB. Ketika satelit ini diperpanjang usia pakainya oleh PSN dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, barulah teringat untuk memperpanjang slotnya. Apa boleh buat, PT Telkom kalah cepat dibanding Rimsat. ''Memang, menurut peraturan, slot itu dapat dimanfaatkan PSN selama satelit kami belum diorbitkan,'' kata Nilson kepada TEMPO. PSN pun tenang-tenang saja karena kecil sekali kemungkinan Tongasat akan meluncurkan satelitnya. Maklum, untuk itu Tongasat memerlukan US$ 500 juta. Dan ketika banyak negara masih meragukan hak Tongasat untuk mengantongi izin 16 slot itu, siapa pula yang mau menanam modal di situ? Yang di luar perhitungan adalah kombinasi runtuhnya Uni Soviet dan akal bulus Nilson. Tiba-tiba banyak satelit Rusia yang bebas tugas dari misi perang dingin, dan pemiliknya terserang demam kantong kempis. Nilson melihat peluang itu dan berhasil menyewa tujuh buah satelit komunikasi Rusia untuk Rimsat, anak perusahaan Tongasat. Kebetulan pula Tajudin Ramli, bos perusahaan telepon Cellular Celcom di Malaysia, mau menginvestasi US$ 38 juta di Rimsat. Rencananya, dalam tiga tahun ke depan Rimsat akan memiliki tujuh satelit Rusia yang mampu meliput dari Iran dan India di barat, hingga kepulauan Hawaii di timur. Dari Cina di utara hingga Australia dan Selandia Baru di selatan. ''Sejumlah calon pelanggan sedang menunggu sampai satelit berada di posisi dan percobaan lapangan dapat dilakukan,'' kata Michael Sternberg, Direktur Operasi Rimsat. Apakah percobaan Rimsat akan sukses? Seperti diakui Nilson, ''Kalau satelit kami dan PSN dua-duanya beroperasi, kami akan saling mengganggu.'' Dan itu berarti, PSN dan Rimsat akan kehilangan pelanggannya. Apa tak bisa kompromi? ''Ini kan hak saya. Kalau PSN bersikeras, berarti pemerintah Indonesia melanggar peraturan internasional,'' kata Nilson. ''Lagi pula, saya sudah beberapa kali mengontak Adiwoso, tapi ia selalu bersikeras agar satelit kami diarahkan ke tempat lain,'' tambahnya. ''Jadi, kami tak punya pilihan lain,'' kata Nilson, yang kini membuka kantor di Manila, ibu kota Filipina. Toh ancaman ini tetap dianggap enteng oleh PSN. ''Mereka kan sudah mengancam sejak dulu, tapi tak pernah berhasil meluncur kan satelit,'' ujar Adiwoso. ''Setahu saya, mereka belum melakukan tahap koordinasi,'' ia menambahkan. Untuk diketahui, salah satu prasyarat dari IRFB ialah, pemakai slot harus melakukan koordinasi dengan slot di depan dan di belakangnya agar tidak saling mengganggu. ''Koordinasi itu malah sudah kami selesaikan,'' kata Adiwoso lagi. Maka, timbul dugaan, jangan-jangan ini hanyalah upaya Nilson agar PSN membayar uang sewa slot kepada Rimsat. Pasalnya, Tongasat pernah menawarkan sewa slot ini ke Intelsat. Bahkan ada kabar, dua slot telah disewakannya ke perusahaan lain dengan ongkos US$ 250 ribu sebuah. Namun, ketika hal itu ditanyakan ke Nilson, ia membantah. ''Tak ada niat kami untuk kompromi dengan PSN,'' kilahnya sambil tersenyum simpul. Adiwoso pun tak tertarik untuk kompromi. ''Buat apa saya bayar mereka,'' katanya merutuk. Menurut Adiwoso, jiwa ketentuan ITU ialah agar slot dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan manusia. ''Jadi, bukan untuk diperjualbelikan dengan keuntungan bagi pemiliknya,'' demikian Direktur PSN itu, mengingatkan. Bambang Harymurti (Washington) dan Amanda Gardner (New York)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836822492



Ekonomi dan Bisnis 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.