Ekonomi dan Bisnis 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lagi-lagi jaminan pribadi

William soeryadjaya gagal mengajak keluarganya untuk menalangi tagihan nasabah sebesar rp 45 miliar. dan tiba-tiba tlbs siap membayar bunga.

i
DEMONSTRASI nasabah Bank Summa (BS) barangkali akan terulang pekan-pekan mendatang. Apalagi Tim Perwakilan Nasabah (TPN), yang menyuarakan kepentingan sejumlah nasabah Bank Summa, sempat berharap-harap uang mereka akan kembali padahal kemudian harus gigit jari. Semua itu lagi-lagi disebabkan oleh ulah William Soeryadjaya. Bekas Preskom Bank Summa ini pekan lalu berjanji untuk melobi keluarganya sendiri, dalam upaya mencari dana demi memenuhi tagihan nasabah BS. Selang dua hari kemudian (19 Mei 1993), William melayangkan surat ke TPN. ''Saya belum berhasil memperoleh jawaban yang Saudara-Saudara harapkan,'' papar William dalam nada menyesal. ''Bahkan, sebaliknya, saya kini lebih berkeyakinan bahwa mereka tidak mungkin melakukan lebih daripada apa yang telah mereka lakukan hingga saat ini,'' lanjutnya. ''Mereka sebenarnya memang telah banyak ikut membantu saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyelesaian musibah Bank Summa .... Saya akan tetap berusaha terus untuk mencari jalan keluar yang terbaik dan secepatnya bagi kita semua,'' begitulah William menutup suratnya. Dengan demikian, buyarlah harapan para nasabah untuk memperoleh 50% tagihan mereka yang tersisa di BS. Memang, Tim Likuidasi Bank Summa (TLBS) menjanjikan pembayaran bunga. Kepada Kukuh Karsadi dari TEMPO, seorang anggota TLBS, Oei She Kay, menyatakan bahwa dana yang dialokasikan untuk itu kira-kira Rp 5 miliar. Adapun bunga nasabah Rp 10 juta ke bawah akan dibayar penuh terhitung sampai 14 Desember 1992 saat bank itu dilikuidasi sementara untuk nasabah Rp 10 juta ke atas, bunganya dibayar 50% saja. Banyak nasabah yang menanggapi pembayaran bunga sebagai pelipur lara belaka. Yang pasti, William secara pribadi tak akan menalangi tagihan TPN. Keluarganya juga tidak. Hal ini sudah ditegaskannya dalam jumpa pers Rabu malam pekan lalu. Menurut Ken Sudarto, sobat William, Om Willem tak mungkin bisa menalangi tuntutan nasabah yang besarnya sekitar Rp 44 miliar itu. Mengapa? Itu tak lain karena William telah memberikan semua jaminan pribadinya (personal guarantee) kepada BI. Kalau William terbukti mempunyai dana lain untuk melunasi tagihan TPN, ia akan dituntut BI. Tapi, menurut Ketua TPN, F. Marbun, William bisa saja mencari dana dari pihak lain, misalnya dari keluarga atau kerabat keluarga Soeryadjaya, seperti Benyamin Soeryadjaya dan T.P. Rachmat (Presdir Astra). Malang tak dapat ditolak, ternyata Benyamin dan T.P. Rachmat pun sama-sama tak mampu. Selain itu, anggota TPN bervariasi, dari nasabah menengah sampai yang kakap. Inilah yang mempersulit William dan TLBS. Padahal, ia kabarnya siap melunasi tagihan nasabah di bawah Rp 100 juta. Untuk itu, TLBS sudah mempunyai dana Rp 115 miliar yang diperoleh dari para debitur bekas Bank Summa. Dengan pembayaran ini, 60% sampai 70% tagihan nasabah bisa diselesaikan. Adapun 3040% nasabah kakap yang total tagihannya sekitar Rp 300 miliar akan diselesaikan belakangan. Gagasan ini sebenarnya sudah dilontarkan dalam pertemuan TLBS, BI, William, dan TPN di Bank Indonesia, Sabtu 15 Mei. Resep ini, menurut Ken Sudarto, telah didukung Direktur BI, Hendrobudyanto, tapi masih harus dimintakan persetujuan atasannya. Pihak TPN sendiri rupanya tak setuju. ''Itu strategi Ken untuk memecah-belah TPN,'' kata Marbun. Resep ini rupanya tidak akan menyelesaikan semua tagihan TPN yang berjumlah Rp 45 miliar sebelumnya dikatakan Rp 44 miliar. Soalnya, jika TLBS membayar tagihan nasabah di bawah Rp 100 juta, cuma sekitar 10% anggota TPN yang bisa menerima pembayaran tunai. Ken mengaku telah mengecek beberapa nasabah BS, dan ternyata memang ada yang mempunyai tagihan sampai Rp 11 miliar. Dengan tagihan sebesar itu, tak berarti nasabah kakap ini tak menderita seperti nasabah kecil. Toh William tak tinggal diam. Dalam pertemuan pers Selasa lalu, William mengatakan bahwa ia harus buru-buru pergi karena hendak meneken suatu nota kesepakatan (memorandum of understanding) dengan beberapa investor. Siapa mereka, dan apa bisnis baru William, sampai kini belum terungkapkan. ''Tunggu saja, nanti juga diberi tahu,'' kata William. Mendengar berita ini, Marbun kelihatan tak senang. ''Nah, sekarang dia mengundang investor. Itu kan melanggar hukum. Kemarin Om Willem bilang tak ada duit. Alasannya, tidak bisa mengeluarkan duit karena dilarang BI. Kalau dia ada duit, bayar dong personal guarantee yang Rp 1,6 triliun,'' gerutu Marbun tanpa bisa menahan kejengkelannya. Pendapat pakar hukum bahwa personal guarantee William terbatas, menurut Marbun, tak benar. ''Saya sudah ngomong langsung dengan direksi BI. Pejabat ini bilang personal guarantee tidak terbatas. Sampai mati pun, dia tak bisa lepas tangan,'' Marbun memperingatkan. Mengenai apa yang disebut jaminan pribadi, Ken Sudarto beranggapan bahwa ada perbedaan persepsi. ''Personal guarantee itu diberikan Willem kepada tim likuidasi dalam menjual aset,'' kata Ken. ''Sedangkan nasabah melihatnya sebagai jaminan pribadi keluarga Om Willem dalam membayar uang mereka yang tersangkut di Summa,'' ujarnya lagi. Kalau benar ada perbedaan persepsi, kenapa tidak dicocokkan dulu, Ken Max Wangkar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836239552



Ekonomi dan Bisnis 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.