Luar Negeri 8/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Khmer merah mengubah taktik?

Pemilu kamboja dijalankan oleh untac dengan pemeriksaan ketat. tiga lokasi pemungutan suara diserang khmer merah. laporan yuli ismartono dari phnom penh

i
HIDUP Funcinpec!'' teriak para pemilih sambil bertepuk tangan. Itu terjadi di sebuah tempat pemungutan suara di Phnom Penh, Ahad pagi kemarin, hari pertama pemilu Kamboja. Ketika itu muncul Ranariddh, anak sulung Norodom Sihanouk, yang kini memimpin partai Funcinpec, meneruskan kepemimpinan ayahnya. Sihanouk sendiri, yang datang dari Beijing Sabtu pagi pekan lalu, tak ikut memberikan suaranya. Tak ada penjelasan mengapa ia tak ikut memilih. Tampaknya, partai Sihanouk menjadi favorit di Phnom Penh. Ketika di tempat pemungutan suara itu muncul Chea Sim, yang menggantikan Heng Samrin sebagai presiden Negara Kamboja, tak ada sambutan. Di luar dugaan, pemilu Kamboja hari pertama, setidaknya di Phnom Penh, warga ibu kota menyambutnya dengan gembira. Bahkan pada siang harinya, sekitar 400 biksu melakukan pawai damai. Kelompok biksu yang menamakan diri Dhamayatra itu, sambil berjalan, berdoa agar pemilu bebas dari segala macam kerusuhan. UNTAC, sebagai penyelenggara pemilu, tentu saja tetap waspada, dan menjalankan prosedur keamanan yang direncanakan. Misalnya, para pemilih satu per satu dicek kartu suaranya, lalu badan mereka diperiksa dengan alat deteksi logam, kalau-kalau ada yang membawa senjata atau granat. Setelah mereka mendaftarkan nomornya, jari si pemilih ditekankan pada tinta untuk membuat cap jari di kartu suara. Dan tinta itu, dicuci dengan apa pun, tak akan hilang selama satu pekan. Inilah cara UNTAC menandai mereka yang sudah memberikan suara, agar tak ada yang memberikan pilihan lebih dari satu kali. ''Bila ada yang datang untuk memilih lagi,'' kata Reginald Austin, kepala bagian elektoral UNTAC, ''kami bisa cepat mengetahuinya.'' Di daerah, menurut seorang anggota tentara UNTAC, di tempat- tempat rawan, misalnya di Kompong Thom dan Kompong Cham, tiap lokasi pemungutan suara dijaga satu kompi pasukan UNTAC, sekitar 100 tentara. Yang jelas, mereka yang datang ke tempat pemungutan suara, di mana pun, mengabaikan apa yang pada hari-hari menjelang hari pemilu menjadi pembicaraan: ancaman Khmer Merah. ''Ancaman-ancaman kekacauan itu cuma untuk menakut-nakuti kami,'' kata Leng Tearn, 42 tahun, seorang penjual kaset di Pasar Thmei. Ia melihat pemilu sebagai sesuatu yang penting untuk mebentuk negara yang aman dan damai. ''Saya ingin anak- anak saya menikmati kehidupan yang normal, natinya,'' ujar ayah lima anak ini. Lain lagi kata Lang Nget, 25 tahun, seorang ibu rumah tangga. ''Saya mendengar dari radio UNTAC, pemilu ini akan memperbaiki kehidupan kami. Karena itu saya datang,'' tuturnya. ''Memang, semula saya merasa takut, sebab dipaksa memilih satu partai tertentu. Tapi dari radio saya juga mendengar bahwa pilihan saya akan dirahasiakan.'' Ternyata, kampanye UNTAC untuk meyakinkan rakyat bahwa suara mereka tak akan diketahui siapa pun berhasil. ''Pesan kami, jika ada orang memaksa Anda memilih partai ini atau partai itu, iyakan saja. Tapi pada saat memberikan suara, lakukanlah semau Anda, sebab tak ada yang tahu,'' tutur Tim Carney, ketua bagian informasi dan pendidikan UNTAC. Jumlah orang yang datang pada hari pertama itu di luar dugaan para pejabat UNTAC. Menurut juru bicara UNTAC, Eric Falt, Ahad malam kemarin, sejauh yang bisa dicatatnya, pada hari pertama pemilu itu 35% pemilih telah memberikan suaranya di Phnom Penh, 40% di Kompong Thom, dan 45% di Pursat. Berita yang amat menggembirakan datang dari Kompong Thom. Banyak pemilih datang dari tempat jauh karena lokasi pemilihan di dekat tempat tinggal mereka ditutup karena dianggap kurang aman. ''Ini berarti mereka begitu antusias memberikan suaranya, sampai bersedia pergi ke tempat pemungutan suara di lain tempat,'' kata Falt. Cuma di tiga distrik terjadi masalah, ditutupnya tiga tempat lokasi pungutan suara, karena Khmer Merah datang mengacau. Tapi sejauh ini tak ada korban jiwa. Suasana di Kampot, di bagian selatan Kamboja, misalnya, begitu meriah. Rakyat datang ke lokasi pemungutan suara dengan bermacam cara. Dari jalan kaki sampai naik sepeda, sepeda motor, atau gerobak. ''Saya berangkat dari rumah pukul 5 pagi agar bisa tiba tepat pada waktunya,'' cerita Phan, petani berusia 38 tahun itu. ''Istri saya marah-marah, tapi saya anggap ini penting. Saya percaya, setelah pemilu akan ada perdamaian. Kalau tak ada damai, bagaimana kami bisa menanam dan berpanen?'' Lain lagi ceritanya di Kompong Speu, provinsi yang dianggap sangat rawan. Beberapa hari sebelum pemilu satu pasukan UNTAC terdiri dari tentara dari Bulgaria diserang Khmer Merah, tiga orang tewas. Tapi di hari pertama pemilu suasana aman, dan warga di provinsi itu dikabarkan datang ke lokasi pemungutan suara dengan santai. ''Saya yakin, Khmer Merah tak akan berhasil menggagalkan pemilu,'' kata Van Setha, seorang akuntan berusia 40 tahun. Ia anggota Partai Demokratik Liberal Budha, dan ia yakin partainya bakal meraih suara cukup besar. ''Memang kami diancam agar memilih partai pemerintah (maksudnya partai Hun Sen). Tapi kami lawan dengan kampanye bisik-bisik agar tak memilih partai pemerintah.'' Seperti sudah disebutkan, damai, setidaknya di hari pertama, hanya menimpa tiga lokasi pemilu. Salah satunya di Distrik Chhum Kiri. Sebuah lokasi pemungutan suara di distrik itu diserbu dan dikepung pasukan Khmer Merah yang terdiri dari sekitar 100 orang bersenjata. Tentu saja tak seorang pemilih pun datang. Rupanya, sebelum pagi merebak, Khmer merah mem bakar kantor polisi dan sebuah rumah penduduk. ''Mereka bilang, kalau kalian berani pergi ke tempat pemungutan suara, kami akan membakar rumah kalian semua,'' tutur Roeun, seorang ibu berusia sekitar 30 tahun yang sedang menggendong anaknya, di rumahnya, di Desa Phum Thmei. Ia, sebagaimana para tetangganya, akhirnya memang tak pergi ke tempat pemungutan suara, juga warga desa lain di sekitarnya. Komandan pasukan UNTAC yang ditugaskan di situ adalah seorang Perancis. Ia mencegah para wartawan yang berniat mendekat ke lokasi pemungutan suara yang diserbu itu. ''Jangan Anda mendekat ke sana, karena satu peleton pasukan yang saya kirimkan untuk menyelamatkan pejabat elektoral ikut ditahan,'' kata Kapten Dias. Yang pasti, pemilu di situ gagal sudah. Jika 50% saja dari 4,7 juta warga Kamboja yang terdaftar datang memberikan suaranya, pemilu akan dianggap sukses. Dan PBB akan segera menarik pulang staf elektoralnya. Anggota yang lain, terutama pasukan perdamaiannya, diperkirakan akan tetap di Kamboja sampai akhir Agustus, ketika pemerintahan baru Kamboja sudah terbentuk beserta perangkatnya. Bila sesudah itu Khmer Merah mulai mengacau, agaknya itu menjadi tanggung jawab pemerintah baru

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836350443



Luar Negeri 8/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.