Kolom 7/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Citra sarjana bloon.

Komentar terhadap tulisan "gelar sarjana terasa mengada-ada" (tempo, 8 mei 1993, komentar) tentang perubahan gelar sarjana.

i
Membaca tulisan Bapak Drs. Jonnes Sianipar yang berjudul ''Gelar Sarjana Terasa Mengada-ada'' (TEMPO, 8 mei 1993, Komentar), saya sebagai calon sarjana ingin sedikit sumbang saran. Pada prinsipnya, Bapak Jonner tidak setuju dengan adanya perubahan (bukan dihapuskan) sebutan gelar Drs., Ir., dan lain- lain. Kebijaksanaan perubahan gelar oleh Bapak Drs. Jonner Sianipar hanya sekadar mengambinghitamkan Belanda. Bila benar masyarakat kita memang sudah semakin kritis, mengapa mereka masih menganggap orang yang mempunyai titel Drs adalah orang yang tahu semua masalah sosial ekonomi. Dengan asumsi demikian, bila seorang doktorandus tak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan apakah pendapatan per kapita atau apakah GNP, sang doktorandus lalu dianggap ''bloon''. Padahal, si doktorandus tak bisa menjawab karena bidang disiplinnya sastra, agama, atau olahraga. Masuk akal bila mereka lalu tak tahu masalah ekonomi. Demikian juga dengan titel insinyur. Kita telanjur mengindentikannya dengan engineer, padahal ada insinyur pertanian, komputer, peternakan. Bisakah masyarakat menerima bila seorang insinyur (kebetulan dari peternakan) tak bisa menjawab per tanyaan mengapa mesin sebuah mobil mogok. Perubahan gelar dari Ir., Drs., Mr., Dr., menjadi S.E., S.H., S.A., menurut saya lebih pas, karena spesifik dan dalam Bahasa Indonesia. Perubahan gelar bukan mengada-ada. UBADI Universitas Persada Indonesia Kampus Kelapa Gading, Jakarta

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836688390



Kolom 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.