Ilmu dan Teknologi 1/1

Selanjutnya
text

Siluman di tengah laut

Amerika serikat memperkenalkan kapal siluman, semacam stealth. bentuk dan komposit yang melapisi membuatnya luput dari incaran radar. uji coba 10 tahun sebelum produksi.

i
JURUS siluman agaknya kini menjadi senjata andalan militer Amerika. Setelah sukses dengan pesawat tempur siluman F-117A Stealth, yang disebut-sebut berhasil memberesi 35% sasaran strategis di Bagdad pada Perang Teluk lebih dari dua tahun lalu, armada AS akan punya anggota baru, kapal Sea Shadow. Seperti halnya F-117A, Sea Shadow punya jurus siluman: mampu menyelinap ke daerah musuh tanpa terendus radar. Sosok si siluman laut itu diperkenalkan ke publik California April lalu. Penampilannya segera mengundang perhatian para penggemar teknologi militer. Maklum, bentuknya aneh. Dari depan ia mirip ikan pari yang mengangkang di permukaan laut. Dari samping tubuhnya mirip teripang hitam. Siluman laut ini jauh dari kesan manis sama sangarnya dengan pesawat F-117A. Selama dua pekan ia mendemonstrasikan kebolehannya mengecoh radar. Pers Amerika diikutkan menilainya. Michael A. Dornheim, wartawan Aviation Week and Space Technology yang meliput peristiwa ini, sempat menuliskan kekagumannya. ''Kapal itu benar-benar istimewa,'' tulis Dornheim dalam Aviation Week edisi Mei ini. Dornheim mengaku berada di kapal patroli pantai Point Bridge untuk mendekati si siluman laut. Agar diketahui, kapal patroli itu dilengkapi radar canggih dengan sinyal radio gelombang pendek. Tapi rupanya sosok si siluman tak tampak di layar radar Point Bridge. ''Padahal, kami hanya berjarak 200 meter dan Sea Shadow itu tampak jelas dengan mata telanjang,'' tulis Dornheim. Radar di Point Bridge ngadat? Dornheim menyangkal. Kapal lain yang berada 1 mil (1,8 km) di belakang Sea Shadow tampak jelas di layar radar, mulai dari anjungan hingga buritannya. Yang terlihat dari posisi siluman laut itu cuma olakan buih air laut hasil dari putaran propelernya dan desakan kaki konponnya. Lintasan Sea Shadow itu tampak memanjang di layar radar. Sea Shadow ini bersaudara kandung dengan F-117A: sama-sama lahir dari pabrik Lockheed. Keduanya dirancang pada 1970-an, ketika perang dingin antara blok Barat dan Timur ada di titik kulminasi. Tapi proyek F-117A lebih cepat berbuah karena dananya lebih lancar. Kelahiran siluman laut ini sempat tertunda 10 tahun. Dalam penampilan perdananya, si siluman memang tak menunjukkan keampuhan persenjataan. Ia belum dipersenjatai. Sea Shadow ini baru mendemostrasikan bagaimana ia melakukan manuver laut. Sebagai kapal militer, ia tak terlalu cekatan. Siluman laut ini hanya bisa melaju dengan kecepatan 13 knot, sekitar 23 km per jam. Perahu aneh ini beratnya 560 ton. Panjang 48 meter, lebar 21 meter. Jidatnya nongol sekitar 8 meter dari permukaan laut. Tubuhnya disangga dua buah ponton (double hull), yang terbenam sampai 4 meter di bawah muka air laut. Dornheim mencatat, siluman laut ini sangat stabil bermanuver. Arus keras pantai California tak membuatnya bergoyang. Kemampuan Sea Shadow mengecoh radar bertumpu pada bentuk dan material yang dipakainya. Pelat baja yang membangun tubuhnya diatur agar tak membentuk bidang yang pararel. Banyak lekak- lekuknya hingga ia dijuluki kapal multifacet. Kondisi itu memaksa sebagian besar sinyal radar memantul ke atas, tak beraturan, menjauhi sumbernya. Bentuk multifacet itu dikombinasi dengan pemakaian komposit, sebagai pelapis dinding, yang punya kemampuan menyerap sinyal radar. Walhasil, semakin kecil sinyal radar yang bisa pulang ke sumbernya. Komposit semacam ini ternyata tak banyak membebani kapal. Material kom-posit yang diperlukan cuma 2,54 ton, tak sampai 1% dari berat kapal. Siluman laut ini tak cuma pandai mengecoh radar di kapal atau pangkalan musuh. Ia pun bakal pintar memperdaya kapal selam lawan. Suara mesinnya lirih. Para perancang dari Lockheed, dalam penilaian Kapten Robert C. Percival, salah satu pejabat di Komando System Laut Angkatan Laut AS, berhasil membuat paduan baling-baling yang pas. Ada dua propeler di buritan siluman laut itu. Masing-masing dipasang di ujung belakang ponton penyangga tubuhnya. Kapten Percival berpendapat, kedua propeler itu pas betul ukurannya, hingga tak memberikan efek saling menguatkan dalam menimbulkan olakan air. Olakan yang ditimbulkan propeler Sea Shadow itu setara dengan akibat yang ditimbulkan perahu rekreasi pantai yang panjangnya enam meter. Walhasil, sensor pengendus getaran di kapal selam sulit mengenalinya. Kecanggihan itu masih dilengkapi dengan hadirnya komposit antisonar yang melapisi kedua pontonnya. Gelombang sonar, yang dipancarkan kapal selam sebagai pengganti radar, diserap oleh komposit itu. Makin sulit kapal selam menjejakinya. Untuk proyek ini, Angkatan Laut Amerika mengeluarkan anggaran sekitar US$ 50 juta (lebih dari Rp 100 miliar). Selanjutnya siluman laut ini akan menjalani masa uji coba selama 10 tahun, sebelum ia diproduksi secara masal. Uji coba yang panjang itu ditaksir akan menelan biaya sekitar US$ 195 juta, hampir Rp 400 miliar. PTH (Jakarta) dan BHM (Washington)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836413484



Ilmu dan Teknologi 1/1

Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.