Luar Negeri 3/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Perang terus berlangsung

Karadzic menawarkan konsep konfederasi tiga negara, yang jelas ditolak oleh bosnia. aksi militer makin kabur, muslim bosnia makin habis.

i
USULAN Vance-Owen sudah mati. Itulah yang dikatakan Radovan Karadzic, pemimpin Serbia di Bosnia, pekan lalu. Sebabnya, referendum Serbia menolak usulan dua wakil PBB yang diserahi tugas mencari jalan damai bagi konflik di bekas Yugoslavia itu. Tapi, sebab yang lebih penting, AS akhirnya mundur dari rencana serangan udara atas milisi Serbia. Presiden Clinton memilih jalan dengan risiko kecil: mendukung rencana Dewan Keamanan PBB mempertahankan enam daerah aman (Sarajevo, Tuzla, Srebrenica, Zepa, Gorazde, dan Bihac), meski tetap enggan mengirimkan pasukan untuk bergabung dengan pasukan perdamaian PBB. Kata Clinton, ia tetap siap dengan serangan udara hanya jika PBB memintanya untuk melindungi pasukan PBB serta menjamin terputusnya arus senjata dari Republik Serbia ke milisi Serbia. Dengan kata lain, PBB pun kini tak lagi menyinggung-nyinggung soal usulan Vance-Owen itu. Maka kini Karadzic maju dengan gagasan baru, yakni membentuk sebuah konfederasi tiga negara: Serbia, Kroasia, dan Bosnia. Konfederasi ala Karadzic sudah pasti tak mengharuskan suatu pembagian wilayah yang merata sebagaimana diusulkan Vance-Owen. Untuk etnis muslim Bosnia, Karadzic menawarkan suatu wilayah yang menurut dia cukup layak: di tengah-tengah Bosnia- Herzegovina. ''Jika Izetbegovic menolak ini, ia membawa bangsanya kehilangan kesempatan memperoleh wilayah,'' katanya. Tanpa ancaman serangan udara AS, Karadzic memang berada di atas angin. Tentu saja Aliya Izetbegovic, Presiden Bosnia, menolak gagasan Karadzic. ''Kami tak akan menghabiskan waktu dalam perundingan yang sia-sia,'' katanya sambil mengajak rakyatnya bertempur habis-habisan. Menerima wilayah di Bosnia tengah atas belas kasihan milisi Serbia, katanya, bukan saja mengesahkan nafsu Serbia Raya, tapi juga sekaligus membuat muslim Bosnia terjepit tanpa kekuatan. Sesungguhnya, sejak awal perang, muslim Bosnia sudah terjepit oleh etnis Kroasia dan Serbia, seperti ditulis koresponden BBC di Balkan, Misha Glenny, dalam buku The Third Balkan War. Tahun lalu, ketika perang saudara mulai berkobar di Balkan, Presiden Kroasia Franco Tudjman dan Perdana Menteri Serbia Slobodan Milosevic sepakat membagi Bosnia-Herzegovina menjadi dua wilayah. Jika awalnya Tudjman membantu muslim Bosnia, mungkin ini sekadar taktik merebut wilayah. Akhirnya, sebagaimana terbukti di Mostar sejak beberapa pekan lalu, etnis Kroasia pun melakukan pembersihan etnis atas muslim Bosnia. Tak mudah bagi ''dunia internasional'' memecahkan soal di Balkan ini. Sanksi ekonomi terhadap Serbia tak menjamin perang akan berhenti, apalagi menjamin etnis muslim Bosnia akan terlindungi. Racun ''Serbia Raya'' yang disebarkan Milosevic tak lama setelah Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito meninggal, tahun 1986, kadung bekerja dan tak ada obatnya. Milosevic diuntungkan oleh suasana dunia waktu itu, yang masih dalam Perang Dingin tak ada perhatian dunia terhadap rencananya. Kemudian, aksi militer Barat yang diharapkan ternyata cuma berhenti di mulut, meski diberitakan bahwa sejumlah pasukan khusus AS sudah masuk Bosnia, membantu tentara muslim dan mengirimkan info tentang kedudukan milisi Serbia. Tak satu pun negara Barat berani mengambil risiko sendirian, padahal AS menunggu negara-negara Eropa, dan sebaliknya. Negara-negara muslim rupanya juga enggan bertindak. Jadi? Lagi-lagi orang sampai pada kesimpulan, etnis muslim Bosnia akan menjadi bangsa Palestina kedua terusir dan kehilangan tanah air. LPS

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836422384



Luar Negeri 3/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.