Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pergi haji bukan bunuh diri

Tampaknya ada pemahaman yang salah untuk sebuah hadis yang mengatakan mati dalam beribadah haji sama dengan syahid. maka keluarlah fatwa dari ulama arab saudi.

i
ALKISAH, seorang sufi dari Negeri Yaman pergi berhaji. Seusai melakukan tawaf mengelilingi Kabah, ia tampak komat-kamit berdoa. Sufi renta ini segera mengembuskan napasnya yang terakhir di depan Baitullah setelah menyeru, ''Allahu Akbar.'' Di musim haji yang lain, tersebut seorang jemaah haji Indonesia yang sudah belasan kali ke Mekah. Ia memang ingin mati dan dikuburkan di tanah haram Haramain, tapi dua tahun lalu ia pulang ke kampung halamannya dalam keadaan segar bugar. Mati di tanah suci selagi berhaji, konon, menjadi idaman banyak umat. Quraish Shihab, Rektor IAIN Jakarta, yang sudah tujuh kali menunaikan haji, mengaku bertemu dengan sejumlah umat Islam yang berangkat haji dengan harapan menemui kematian di tanah haram. Menurut catatan Departemen Agama Indonesia, dari 105.000 jemaah haji Indonesia tahun lalu, 366 di antaranya meninggal. Dan dalam musim haji kini, sampai akhir pekan lalu sudah tercatat 60 jemaah haji Indonesia yang meninggal. Tentu tak diketahui, ketika berangkat, mereka berniat mati di tanah suci ataukah tidak. Yang jelas, ulama di Arab Saudi tampaknya memantau dan kemudian menyimpulkan bahwa jemaah haji yang berhasrat mati di tanah suci belakangan ini makin besar jumlahnya. Maka, seperti dituturkan oleh Lillahi Grahana Sidharta, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Rabu dua pekan lalu, keluarlah fatwa dari Ketua Komisi Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mufti besar yang dikenal sebagai seorang fakih dan hafidz, yang menjadi ketua komisi itu, menyatakan melarang jemaah yang berniat mati ketika menunaikan ibadah haji. Komisi tersebut mencatat, banyak jemaah yang tidak lagi mengindahkan peraturan kesehatan. Banyak yang dengan sengaja berjemur matahari, sengaja berdesak-desakan seperti berlomba mencium hajar aswad, dan bahkan sengaja berjalan di keramaian lalu lintas dengan harapan mengalami kecelakaan yang membawa mati. ''Padahal itu jelas dilarang agama,'' kata Ibn Baz, yang adalah guru Ibn Saud, ayah Raja Saudi sekarang. ''Wajib hukumnya bagi jemaah haji untuk berusaha sekuat tenaga terhindar dari berbagai macam kemungkinan yang dapat membinasakan dirinya.'' Berniat mati dalam berhaji, menurut Ibn Baz, sama saja dengan bunuh diri, perbuatan yang jelas-jelas dilarang oleh Islam. Sebuah hadis meriwayatkan, ''Barang siapa yang dengan sengaja membunuh diri dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan sesuatu tersebut.'' Lalu, dari mana datang keyakinan bahwa mati di tanah suci selagi berhaji adalah mulia? Menurut sebuah hadis, Nabi pernah mengatakan, barang siapa yang mati dalam keadaan berumrah dan berhaji, maka dia mati syahid. Tampaknya hadis inilah yang kemudian disalahtafsirkan: meninggal di Mekah adalah syahid. Padahal, kata Quraish Shihab, hadis tersebut tak menunjuk pada tempat, melainkan pada ''menjalankan ibadah''-nya. Kesucian Mekah dan Madinah tak menjadikan kematian di sana sebagai hal yang istimewa. ''Tak ada dampaknya bagi orang yang mati di sana, yang dalam hidupnya sehari-hari bergelimang dosa,'' lanjutnya. Di samping itu, berhaji bukanlah untuk mati, kata ketua Majelis Ulama Indonesia, K.H. Hasan Basri, yang sudah puluhan kali menunaikan haji. Sebaliknya, orang yang menunaikan rukun Islam kelima ini diharapkan menjadi haji yang mabrur, yang bisa lahir kembali seperti halnya bayi yang baru lahir. Itu sebabnya selalu ada tim kesehatan dalam rombongan jemaah haji, untuk menjaga kesehatan para jemaah. Sehingga, mereka bisa pulang ke kampung halamannya dengan ''penampilan yang baru'' dan, insya Allah, segala perilakunya berada di jalan-Nya. Lebih jauh Quraish mengatakan bahwa agama tidak pernah mendukung orang yang bercita-cita ingin mati. Sebab, hidup itu berharga, tempat mencari bekal buat kehidupan sesudah mati. Dan tak seorang pun tahu adakah bekalnya sudah atau belum cukup. Maka orang yang sakit keras pun dianjurkan untuk berobat, untuk optimistis, dan dalam kondisi sekritis apa pun diminta untuk tetap berdoa. Mereka yang dalam keadaan seperti itu, sakit keras, tidak termasuk wajib berhaji. ''Bahkan wajib hajinya bisa gugur bagi mereka yang punya penyakit, yang dikhawatirkan akan bertambah parah selagi berhaji,'' katanya. Apakah fatwa Komite Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi itu efektif, yakni bisa mencegah para jemaah yang berniat mati di tanah suci, itu adalah soal lain. Menurut Quraish, hal itu membutuhkan waktu. Yang pasti, kini ada kejelasan untuk menghilangkan kesalahpahaman yang selama ini diyakini sejumlah umat Islam: berniat mati di tanah suci itu tak dilarang agama. Kita hanya tahu bahwa pemberi dan pencabut hidup hanya satu, yakni Yang Maha Pemberi. Begitu kehidupan terjadi di dunia, kita diperintahkan untuk mempertahankan dan memeliharanya. Hanya Yang Maha Esa itu yang berhak menentukan kapan kita mati dan memasuki alam yang lain. Adalah Haji Hamid Mannan Munif, orang Pamekasan, Madura, yang sepuluh tahun lalu naik haji. Katanya, daripada berniat mati, lebih baik para jemaah haji membaca doa ini: ''Ya Allah, apabila hidup itu lebih baik bagiku, maka peliharalah hidupku. Dan apabila mati lebih baik bagiku, maka matikanlah aku.'' Agus Basri

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836803414



Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.