Nasional 4/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Riverside alias samping parit

Beberapa perusahaan real estate mewah cenderung memakai istilah bahasa inggris. lebih mentereng, menarik konsumen.

i
COBALAH berkeliling seputar Jakarta, Anda akan merasakan bak di negeri berbahasa Inggris. Ada permukiman mewah seperti Century Garden, Garden Homes Village, Villa Green Apple, Rainbow Hills Golf Leisure and Residential Resort, Kemang River View, Lippo Village, Jakarta West, Fountain Parkview Town Houses, Palace View Apartments, Seaview Park Apartments, Islands Condominium. Ternyata, pemakaian nama lokasi berbahasa Inggris itu tak cuma di Jakarta. Di daerah pun gejala beringgris-ria itu juga merebak. Nama lokasi terkesan lebih mentereng seperti hill side, lake side, village, country, estate, residence, tower. Makin jarang kawasan permukiman, terutama yang mahal, memakai ''perumahan'' atau ''griya''. Bagi para pengusaha, pamakaian produk berbahasa asing tentu ada maksudnya. Roy Tirtadji, Wakil Presiden Kelompok Lippo antara lain mengelola Lippo Village di Tangerang dan Lippo City di Cikarang misalnya, beranggapan itu ada kaitannya dengan era globalisasi. ''Pemasangan nama-nama berbahasa Inggris itu menunjukkan keterbukaan Indonesia,'' ujar Roy. Ada, memang, anggapan bahwa pemakaian nama berbau asing menunjukkan lunturnya kadar nasionalisme. Pada masa Orde Lama, misalnya, nama-nama berbahasa asing diperangi. ''Sekarang ini kan zaman deregulasi. Tak bisa cuma berpijak pada nasionalisme sempit,'' kata Roy. Apalagi sering nama Inggris itu berkaitan dengan nama perusahaan pengelolanya, seperti PT Lippo Village, atau PT Lippo City. Sedangkan Handi Pranata, eksekutif Kelompok Ongko, mengakui bahwa pemakaian nama Inggris itu dibutuhkan untuk tujuan pemasaran. ''Kami punya Pondok Timur Mas, kesannya rumah-rumah kecil. Kalau pakai villa, kesannya rumah itu lebih besar,'' katanya. Selain Pondok Timur Mas, Villa Cinere Mas, Cinere Country Club, dan sebagainya, Kelompok Ongko juga sedang membangun Billabong Park View di Bojong Gede, Bogor, dan Red Top Condominium di Pecenongan, Jakarta. ''Nama asing kami pakai bila orientasinya standar internasional,'' katanya. Untuk rumah ukuran tanah 100 meter ke bawah, katanya, tentu tak pantas memakai nama asing. Kecenderungan penggunaan nama asing ini, menurut pengamat periklanan Baty Subakti, berkaitan erat dengan upaya menarik konsumen, khususnya dari kalangan menengah atas. ''Istilah asing bisa dikaitkan dengan gengsi, meski ada juga unsur kegenitan produsen,'' kata bos perusahaan iklan B & B ini. Seberapa efektif hal itu menggaet pembeli, Baty tak tahu jawabnya. Tapi, menurut Tony Boy, staf pemasaran Fountain Park View, perumahan elite di Pangkalanjati, Jakarta Selatan, nama asing lebih pas dan akrab bagi kelas menengah atas. ''Bukan soal bergenit-genit,'' katanya. Citra Fountain Park View akan lain bila namanya diganti dengan Perumahan Taman Air Mancur. Sebaliknya, Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Hasan Alwi, berpendapat bahwa setiap konsep asing pasti dapat dikemukakan dalam bahasa Indonesia. Ia mengambil contoh Pasaraya Big & Beautiful. Mestinya itu bisa dinamai Pasaraya Indah & Megah. Kecuali, ujarnya, kalau istilah itu tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. ''Masalahnya, mereka itu tak mau membuka kamus, tak mau bertanya untuk mencari padanannya,'' katanya. Namun, bagaimana menerjemahkan istilah macam park view, lake side, river side? Soalnya, bisa jadi yang namanya danau atau sungai dalam kenyataannya cuma berupa empang atau parit. Untuk hal-hal begini, tentu terasa kurang laku bila pengusaha memberikan julukan ''samping empang'' ataupun pinggir kali alias girli. ATG, Bina Bektiati, Sri Wahyuni, Taufik Alwie

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836765361



Nasional 4/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.