Kesehatan 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Membilas darah b menjadi o

Membuka jalan untuk bank darah. hasil penelitian 12 tahun. sudah diuji pada manusia. golongan a1 lebih kompleks karena punya dua molekul gula yang menempel di sel darah merah.

i
SETELAH 12 tahun menggeluti sel darah merah, Jack Goldstein, 62 tahun, membuat terobosan besar. Doktor biologi kimia lulusan Universitas Cornell dan ayah tiga anak ini berhasil menemukan enzim yang mampu mengubah darah golongan B menjadi golongan O, sehingga membuka jalan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan bank darah. Ia tertarik pada masalah tersebut karena dua hal. Pertama, ia memang tertarik mempelajari struktur sel darah merah yang membedakan darah menjadi golongan A, B, dan O. Kedua, karena alasan praktis mencari jalan mengatasi kesulitan persediaan darah merah. Setelah mempelajari struktur sel darah merah itu secara saksama, Goldstein berkesimpulan bahwa yang membedakan golongan darah A, B, AB, dan O adalah sejenis molekul gula yang menempel di sel darah itu. Yang sama sekali tak punya gula adalah sel darah O. Itulah sebabnya darah golongan O dapat ditambahkan (ditransfusikan) kepada semua orang tanpa mempedulikan golongan darahnya. Sebab, darah O tak akan tergumpal. Adapun darah golongan A dan B mempunyai jenis gula yang berbeda. Bahkan golongan darah A sebenarnya terdiri atas dua golongan, yaitu A1 dan A2, yang strukturnya masing-masing agak berbeda. ''Golongan A1 lebih kompleks karena mempunyai dua molekul gula yang menempel di sel darah merahnya,'' kata Goldstein kepada TEMPO melalui telepon interlokal New YorkWashington, D.C. Sedangkan A2 hanya mempunyai satu lapis. Tapi jenis A1 lebih dominan. Mungkin 70 hingga 75 persen pemilik golongan darah A masuk dalam golongan A1. Goldstein dan timnya di Lindsley Kimball Research Institute di pusat (bank) darah New York lebih dahulu berhasil menemukan metode pencucian darah golongan B menjadi golongan O. Padahal, tim ini secara paralel berupaya menggarap golongan A dan B. Ternyata, struktur golongan darah A lebih rumit. Adalah molekul gula yang menempel di sel darah merah ini yang menyebabkan terjadinya pembekuan bila transfusi darah dilakukan dari donor yang berbeda golongan darahnya. Karena itu, untuk mencegah pembekuan yang membahayakan jiwa ini, Goldstein berkonsentrasi menemukan cara memotong molekul gula ini dari sel darah merah tanpa mengubah sel darah merah itu. ''Kami menggunakan enzim yang bersifat sebagai katalis yang memotong molekul gula itu dari sel darah merah,'' katanya. Ia berhasil menemukan enzim pemutus molekul gula golongan darah B. Sel darah merah golongan B yang telah diubah enzim ini menjadi golongan O kemudian dibersihkan dari enzimnya dan dilarutkan ke dalam larutan garam. Mula-mula Goldstein dan kelompoknya memastikan dahulu bahwa pemangkasan molekul gula itu tidak mengubah sel darah merahnya. Setelah mereka puas dengan analisa laboratorium, percobaan ditingkatkan ke kelinci, pada tahun 1983. Setelah sukses dengan kelinci, digunakanlah gibbon (sejenis kera), yang struktur sel darah merahnya paling mirip dengan manusia. Setelah aman, pengujian dilakukan pada manusia. Semula hanya ditransfusikan 1 ml. Setelah terbuti aman, jumlahnya dinaikkan sampai 5 ml. Setelah itu, dicoba dengan satu unit (200 ml) dan terakhir dicoba dengan 2 unit. Sebagai kelinci percobaan, 12 orang digunakan. ''Kebanyakan staf peneliti kami, termasuk saya sendiri. Dan saya merasa sehat-sehat saja,'' kata Goldstein. Namun hasil laboratorium menunjukkan ada juga reaksi. Pada percoban dengan dua unit, baru mereka melihat terjadi peningkatan kadar anti-B. Tapi ini rupanya tidak dianggap membahayakan, karena Goldstein dan timnya akan meningkatkan percobaan transfusi 3 dan 4 unit. ''Sebab, rata-rata transfusi normal sekitar 3 dan 4 unit,'' kata dosen Universitas Rockerfeller ini. Perbedaan golongan darah menjadi masalah pelik bagi persediaan darah. Sebab, menurut Goldstein, di AS saja diketahui bahwa 40% orang kulit putih mempunyai golongan darah A, 11% punya golongan darah B, 45% O, dan 4% AB. Sejumlah 27% orang kulit hitam mempunyai golongan darah A, 20% B, 49% O, dan 4% AB. Sedangkan untuk ras oriental adalah 28% A, 27% B, 40% O, dan 5% AB. Belum lagi soal faktor Rh 85% penduduk AS mempunyai Rh positif. Padahal, bila pemilik darah dengan Rh negatif menerima transfusi Rh positif untuk kedua kalinya atau lebih, dapat terjadi reaksi yang fatal. Maka, Goldstein juga sedang mencoba menemukan cara mengubah darah Rh positif menjadi negatif. Karena kepastian molekul protein ini belum mapan, pencarian enzim yang dapat mengubah Rh positif menjadi negatif ini belum dapat dilakukan secara pasti. ''Kami menyebutnya sebagai faktor D,'' kata Goldstein, yang terus giat meneliti hal itu. Jadi, tujuan akhir adalah semua golongan darah dapat diubah menjadi golongan O dengan Rh negatif. Adapun sel darah merah di dalam tubuh rata-rata hidup selama 120 hari. Dan sampai saat ini Goldstein berkesimpulan bahwa da rah B yang dibilasnya menjadi O dan ditransfusikan mempunyai umur rata-rata normal. Hasil penelitian itu, menurut Profesor Ari Harryanto, relatif baru. ''Jika penelitian tersebut sudah berhasil, akan banyak manfaatnya,'' kata ahli darah dari Universitas Indonesia ini kepada wartawan TEMPO Gatot Triyanto. Yang masih perlu dipertanyakan, kualitas darah yang telah direkayasa ini persis dengan darah asli atau tidak, dan berapa pula biaya untuk mengubahnya. Bambang Harymurti (Washington, D.C.)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836182870



Kesehatan 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.