Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Keriaan Absurd Berlanjut di Tahun Baru

Yopie Hidayat
Kontributor Tempo

i ilustrasi: Rudy Asrori
Sinyal Pasar

BOLEH jadi 2020 akan menjadi tahun paling absurd sepanjang sejarah pasar finansial global. Ada anomali selama masa pandemi. Kaidah berinvestasi berubah total. Tak cuma sekadar bertahan di tengah krisis ekonomi terbesar sepanjang zaman, pasar finansial bahkan menikmati euforia yang gegap gempita.

Seharusnya pasar sedikit-banyak juga mencerminkan kondisi fundamental ekonomi. Jika ekonomi sehat-kuat, kenaikan harga berbagai aset finansial bakal merefleksikan kondisi itu. Begitu pula sebaliknya. Kenyataannya, yang terjadi selama 2020 sepenuhnya bertolak belakang.

Ekonomi dunia terpuruk karena pagebluk. Covid-19 menjangkiti 76,8 juta orang dan membuat 1,7 juta jiwa melayang. Hampir semua negara, besar-kecil, kaya-miskin, terperosok ke resesi ekonomi. Tak terhitung lagi berapa usaha bangkrut atau pekerja kehilangan nafkah. Karut-marut sedahsyat itu cuma sebentar tampak di pasar, pada awal Maret. Setelah itu, investor larut dalam optimisme yang sulit terjelaskan. Harga segala macam aset, dari obligasi terbitan pemerintah negara adikuasa ataupun negeri antah berantah, saham korporasi bonafide atau perusahaan receh, hingga mata uang kripto semacam bitcoin, meroket gila-gilaan.


Di Amerika Serikat, nilai seluruh penawaran saham baru selama 2020 mencetak rekor: US$ 175 miliar. Negara-negara berkembang juga mencatat rekor penjualan obligasi berdenominasi dolar dan euro senilai total US$ 730 miliar. Investor menabrak aset-aset itu tanpa kecuali.

162070659999

Pasar seolah-olah tak lagi menimbang risiko. Inilah kaidah utama berinvestasi yang kini terabaikan. Banyak perusahaan zombie tetap eksis kendati membayar angsuran bunga utang sendiri pun sudah tak sanggup. Mereka tak mati hanya karena mendapat infus bantuan dari negara. Harga saham perusahaan kelas mayat hidup ini pun tetap naik.

Sumber utama euforia pasar adalah bank-bank sentral di seluruh dunia, yang dimotori The Federal Reserve. Para pemimpin bank sentral sekompak grup paduan suara merapal mantra yang sama: segala cara akan mereka tempuh agar pasar selamat. Ukuran dukungan dana untuk itu hanya satu: tanpa batas.

Dari kebijakan ini, mengalirlah guyuran likuiditas dalam jumlah yang tak terbayangkan. Bunganya pun nyaris nol. The Fed, misalnya, mencetak likuiditas US$ 120 miliar per bulan yang mengalir masuk ke pasar sejak Maret lalu. Uang murah melimpah inilah yang membuai investor di seluruh dunia.

Bagaimana kelak ujung ceritanya? Segala yang naik pasti ada masanya turun. Itulah pertanyaan senilai triliunan dolar yang sampai kini belum berjawab. Para analis berusaha mencari pembenar untuk gairah irasional itu. Salah satunya: harga-harga aset itu masih belum terlalu mahal jika dilihat dalam perspektif sejarah jangka panjang.

Ada pula faktor kehadiran perusahaan teknologi—Amazon, Apple, Google, dan kawan-kawan—yang menikmati perubahan fundamental ekonomi karena disrupsi digital. Sektor teknologi inilah yang menjadi motor terpenting pendorong gelora pasar. Saham teknologi berperan hingga 55 persen terhadap kenaikan indeks S&P 500 dalam 12 bulan terakhir. Jadi, jangan takut, tak ada gelembung yang siap pecah.

Cuma, ada satu faktor krusial. Penentu terakhir episode yang penuh absurditas ini adalah pergerakan suku bunga. Jika masanya tiba, ekonomi kembali normal, inflasi kembali muncul, suku bunga tentu harus naik, bangkit dari mati suri di kuburan negatif.

Jika pasar kita ibaratkan pesawat yang sedang terbang tinggi, suku bunga super-rendah adalah salah satu mesin pendorongnya. Ketika mesin itu mati, belum ada skenario yang bisa terbayangkan saat ini bagaimana para gubernur bank sentral akan mengendalikan situasi. Apakah mereka mampu membuat pesawat itu mampu menunggangi angin hingga pelan-pelan mendarat? Atau, bisa saja, pasar finansial akan terempas pecah berkeping-keping?

Akhir cerita ini mungkin belum terjadi tahun depan. Banyak analis yakin suku bunga belum akan naik pada 2021 karena ekonomi belum sepenuhnya pulih. Selama itu pula bank sentral akan terus mengguyurkan likuiditas. Keriaan mungkin terus berlanjut di pasar, entah sampai kapan. Selamat tahun baru.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162070659999


Covid-19 Outlook Ekonomi investasi Bank Indonesia

Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.