Kabar Pandemi 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jumlah Investor Pemula Kian Bertambah

Kegiatan investasi saham meningkat drastis. Didominasi kaum milenial berusia 20-30 tahun.

i Pergerakan Index Harga Saham Gabungan terpampang di layar monitor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (27/112020). Tempo/Tony Hartawan
Pergerakan Index Harga Saham Gabungan terpampang di layar monitor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (27/112020). Tempo/Tony Hartawan

SABAN pagi Edy punya kesibukan baru, mengamati pergerakan saham yang diperdagangkan di lantai bursa. Sembari menghitung harga saham dalam lima hari terakhir, dia mencermati saham-saham mana yang bakal melejit. Edy juga rajin mengamati berbagai informasi aktual yang berkaitan dengan perekonomian dan politik. “Saya investor pemula, masih belajar memilih dan membeli saham yang bagus,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Sejak Agustus lalu, Edy menjadi investor baru di pasar modal. Berbekal tabungan Rp 50 juta dan saran seorang kawan, dia menjajal investasi saham. Dia membagi investasinya menjadi dua, yakni saham-saham likuid dan saham yang ditransaksikan harian. Saham pertama yang dia beli adalah PT Bank BRI Syariah (BRIS). “Saya beli harganya masih sekitar Rp 500 per saham sebanyak 500 lot pada enam bulan lalu,” tuturnya.

Edy tak menyangka investasinya pada saham bank syariah itu mendatangkan keuntungan luar biasa. Harga saham BRIS terus melejit sampai sekitar 400 persen dalam tempo enam bulan. “Nilai saham saya sekarang sudah sekitar Rp 120 juta dari sekitar Rp 25 juta saat dibeli pada Agustus lalu,” ucapnya.


Sejak masa wabah Covid-19, jumlah investor pemula seperti Edy melonjak sampai 100 persen. Mereka aktif membeli berbagai instrumen investasi, seperti saham dan obligasi. Head of Marketing and Retail PT Indo Premier Sekuritas Paramita Sari mengungkapkan minat investor berinvestasi di pasar modal malah meningkat signifikan selama masa pandemi. “Peningkatannya drastis, hampir dua kali lipat. Mereka berasal dari kaum milenial yang berusia 20-30 tahun,” ujarnya dalam acara Focus Group Discussion berjudul “Tren Investasi di Masa Pandemi” yang disiarkan oleh Tempo, Selasa, 22 Desember lalu.

162070930410

Paramita mengatakan sebelumnya pasar modal Indonesia didominasi oleh pihak asing dan institusi besar. Kini, sebaliknya, investor retail lokal yang mendominasi. Dia optimistis kegiatan pasar modal bakal dibanjiri pemodal dalam negeri. “Pada 2021 kondisinya akan membaik,” tuturnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lonjakan jumlah investor signifikan selama masa pandemi Covid-19. Per 19 November lalu, jumlah investor pasar modal yang tercatat mencapai 3,53 juta investor, naik 3,8 kali lipat dibanding pada 2016. Selain itu, tercatat lebih dari 70 persen investor berada dalam rentang usia hingga 40 tahun. Adapun dari sisi demografi investor didominasi oleh laki-laki dengan 61,14 persen, pegawai swasta 52,91 persen, dan sarjana 44,40 persen.

Angka kepemilikan investor domestik pun menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah. Saat ini, dari Rp 3.491 triliun angka kepemilikan saham yang tercatat di BEI, yakni 50,44 persen, pemiliknya adalah investor retail domestik. Adapun 49,56 persen saham dimiliki investor asing.

Sepanjang Januari hingga Oktober lalu, investor retail mendominasi total trading value hingga 44,3 persen. Catatan itu disusul investor institusi domestik 21,7 persen dan investor institusi asing 34 persen.

Menurut Paramita, lonjakan angka investor lokal terjadi karena waktu luang masa pandemi dimanfaatkan untuk mencari informasi seputar investasi dan saham. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk berinvestasi kian bertambah. “Selama pandemi kaum milenial banyak belajar seputar saham,” tuturnya.

Peningkatan jumlah investor dan transaksi sepanjang 2020 juga tidak terlepas dari perubahan perilaku masyarakat selama pandemi Covid-19. Masyarakat yang memiliki simpanan terdorong masuk pasar saham. “Mereka sadar kondisi saat ini mengharuskan punya tabungan dan investasi. Makanya, ketika lagi ada waktu luang, mereka mulai mencari berbagai informasi dan salah satunya mengenai saham dan investasi seperti ini,” ucap Paramita.

Co-Founder @ngertisaham Frisca Devi mengatakan investor pemula kebanyakan memilih saham sebagai instrumen investasi. Apalagi saat ini calon investor sangat mudah mendaftar di perusahaan sekuritas. “Modal berinvestasi saham juga tak besar, cukup Rp 100 ribu sudah bisa beli saham,” tuturnya. “Saham kini semakin terjangkau di kantong.”

Animo kaum milenial untuk mengetahui pasar modal Indonesia, menurut Frisca, juga semakin meningkat. Hal itu terlihat pada jumlah pengikut akun Instagram yang dikelolanya yang terus bertambah setiap hari. “Pengikut baru sampai 5.000 akun per hari,” ucapnya.

Para investor pemula, menurut Frisca, kebanyakan memulai investasi dengan modal awal sekitar Rp 1 juta. Hal itu karena mereka belum berani mengambil risiko. “Mereka mau merasakan dulu feel-nya, merasakan beli saham itu seperti apa,” ujarnya.

Pengamat pasar modal dan mantan Direktur Bursa Efek Surabaya, Bibin Busono, mengatakan Covid-19 menimbulkan kerugian di berbagai sektor. Nilai kerugian akibat wabah ini sangat besar dan belum ada pihak yang mampu menghitungnya. “Intinya Covid-19 menimbulkan kerugian yang signifikan secara global dan nasional,” ucap Bibin.

Menurut Bibin, investor harus memahami cara berinvestasi di pasar modal. “Jangan semuanya membeli saham untuk diperdagangkan, tapi beli saham untuk investasi jangka panjang,” tuturnya. Investor harus mengetahui fundamental dari saham-saham yang akan dibeli.

Bibin mengatakan instrumen investasi di Indonesia masih terbatas. Salah satunya adalah obligasi retail yang punya potensi sangat besar dan risiko rendah. “Cara bertransaksinya juga rendah,” ujarnya.

Namun, menurut Bibin, instrumen ini tidak punya kelengkapan pasar repurchase agreement atau repo. “Pasar ini dikembangkan oleh sekuritas yang menjual obligasi sekaligus reponya, Inilah pilihan yang sangat bagus untuk investor pemula,” katanya.

Menurut Bibin, tahun depan potensi pendanaan dari private investment akan terus berkembang. Bahkan pada masa pandemi ada perusahaan di Singapura yang mendapatkan fund rising sampai US$ 3 miliar di Amerika Serikat. “Ini potensi yang masih bisa digali,” ujarnya.

Yang penting, Bibin menambahkan, investasi adalah peluang dan risikonya harus dipahami. Semua pihak harus bekerja sama untuk menjaga iklim investasi. Menurut Bibin, pemerintah harus konsisten dalam mengadakan vaksin dan menerapkan Undang-Undang Cipta Kerja. “Dua hal ini untuk menambah keyakinan investor untuk berinvestasi di Indonesia,” ucapnya.

EKO WAHYUDI

Reporter Ali Nur Yasin - profile - https://majalah.tempo.co/profile/ali-nur-yasin?ali-nur-yasin=162070930410


#JagaJarak #PakaiMasker #CuciTangan Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Kabar Pandemi 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.