Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah Dokter Mary yang Kontroversial

Serial Mary Kills People mengisahkan dokter yang bekerja sambilan membantu praktik euthanasia. Membaurkan unsur thriller psikologi, drama kedokteran, dan kisah keluarga.

 

 

i Caroline Dhavernas dan Richard Short dalam Mary Kills People./imdb
Caroline Dhavernas dan Richard Short dalam Mary Kills People./imdb

DI Rumah Sakit Eden, Kanada, Mary Harris adalah malaikat penolong. Ia seorang dokter brilian di bagian instalasi gawat darurat (IGD) yang kerap menyelamatkan hidup pasien sekarat. Namun, di luar rumah sakit, Mary (diperankan Caroline  Dhavernas) punya pekerjaan “di bawah tanah”. Dia menjelma sebagai pencabut nyawa. Pekerjaan itu ia lakoni bersama sahabat karibnya, seorang dokter bedah bernama Desmond Bennett (Richard Short). Duo ini biasa mendapat orderan pekerjaan sambilan dari Annie Chung, perawat di Eden. Dalih yang ada dalam selebaran pamflet, keduanya adalah konsultan kematian.

Praktiknya begini: Annie menyerahkan berkas “proyek” ke Mary sembari menjelaskan kasus si pasien yang mengajukan permohonan euthanasia—praktik mencabut nyawa orang dengan rasa sakit yang minimal. Mary kemudian akan menghubungi partner in crime-nya, Desmond alias Des, agar mempersiapkan obatnya. Des-lah yang kemudian mengurus kebutuhan obat ke pemasok, sebelum bertemu dengan Mary di tempat yang diminta pasien. Tak banyak basa-basi. Obat itu kemudian dicampurkan dalam sampanye keemasan, yang menjadi semacam ramuan kematian. Hanya dalam hitungan detik, si pasien pun meninggalkan dunia.


Dua kehidupan Mary yang berbeda itu menjadi sentral cerita serial Mary Kills People. Serial asal Kanada itu tayang di penyedia layanan streaming Mola TV sejak akhir tahun lalu. Namun di negeri asalnya, Mary Kills People, yang tayang selama tiga musim dengan 18 episode, sudah rampung penayangannya pada 2019. Serial ini sempat terus dibahas di media sosial, karena sejumlah dokter di Indonesia mengungkapkan antusiasmenya di Instagram. Misalnya, seorang dokter memberi nilai 9 dari 10 untuk serial itu lewat akun Instagram. Dokter lainnya menyebut Mary Kills People sebagai serial soal dunia kedokteran yang tidak membosankan dan memberi banyak sudut pandang tentang hal yang menjadi perdebatan, seperti euthanasia.

161868168864

Caroline Dhavernas(kiri) dan Rachelle Lefevre dalam Mary Kills People/imdb

Drama melankolis dalam proses euthanasia tentu saja tetap ada. Namun di serial ini keharuan itu tak pernah berlama-lama. Ada segelintir adegan puitis, seperti saat seorang nenek meminta diakhiri hidupnya oleh Mary di bibir pantai kota itu. Disapu angin laut dan situasi yang menenangkan, nenek itu pun pergi setelah menenggak sampanye “istimewa” Mary. Tak ada yang berubah dari ekspresi Mary melihat peristiwa itu. Ia berjalan pergi meninggalkan pantai bersama Des, bercanda seperti tak terjadi suatu hal yang menyedihkan.

Sebab, bagi Mary, kematian bukanlah tragedi. Bukan pula malapetaka, melainkan pilihan. Ia berkali-kali berkata, “Seperti halnya kehidupan, kematian juga mestinya bentuk dari kebebasan.” Bahwa kematian identik dengan sesuatu yang memilukan seakan tidak teraba dalam serial ini. Bahkan proses menuju kematian diolah menjadi komedi gelap yang satire.

Ada masa saat Mary dan Des membantu seorang mantan atlet bunuh diri. Namun ternyata obat yang biasa digunakan tiba-tiba saja tak mujarab. Mary pun panik. Namun alih-alih menyelamatkan nyawa pasienseperti saat bertugas di IGDMary malah sibuk mengakhiri hidup si atlet. Ia pun mengeluarkan sumpah-serapah karena obat itu tak bekerja sebagaimana mestinya.

Konflik mulai terbangun saat Mary berjumpa dengan klien baru, Joel, yang menderita kanker. Sementara kebanyakan pasien euthanasia berwajah muram dan bertubuh rapuh, Joel jauh dari kesan itu. Ia terlihat bugar dengan tubuh liat dan tampan. Karismanya bahkan menaklukkan Mary yang untuk pertama kali naksir  kepada pasiennya sendiri. Namun selapis demi lapis hal mencurigakan soal Joel mulai diendus Mary. Sampai kemudian ia mendapati Joel adalah polisi yang menyamar demi meringkusnya atas tuduhan pembunuhan. Menurut Joel, praktik yang dilakukan Mary dan Des tak hanya ilegal, tapi juga tidak ubahnya menyamai tugas Tuhan.

Caroline Dhavernas dan Grace Lynn Kung dalam Mary Kills People.

Belum beres urusan dengan polisi, Mary mesti menghadapi kecurigaan putri sulungnya, yang mengendus ketidakberesan pada ibunya. Namun kehidupan keluarga Mary sendiri malah kelewat datar—bahkan membosankan—dibanding pekerjaan sampingannya yang penuh bahaya. Intrik yang terbangun antara Mary dan keluarganya juga sebatas jeda dan pengingat bahwa dia hanyalah “the mom next door”. Namun lubang ini terjahit pada babak akhir musim pertama, yang menjadikan keluarga sebagai konsekuensi logis tindakan Mary.

Pada musim kedua, Mary masih menapaki area pekerjaan yang sama, tapi dengan lingkaran psikologis yang berbeda. Ia dan Des yang sempat berpisah jalan akhirnya sadar akan kekuatan mereka sebagai tim. Tentunya, kecurigaan polisi masih akan membuntuti Mary dan Des, selain perjumpaan keduanya dengan para pasien euthanasia yang selalu menjadi bagian paling menarik.

Batas antara tokoh protagonis dan antagonis dalam Mary Kills People amatlah kabur. Kita tak didikte untuk memihak siapa pun, karena bahkan karakter tokoh utamanya sendiri amat kompleks. Ia bisa menjadi orang yang punya welas asih, tapi di saat yang sama juga menguarkan kegilaan yang tak disangka-sangka. Bahkan para pasien euthanasia yang menjadi klien Mary pun meniupkan kegelisahan kepada kita: mengapa mereka, dibanding bertahan dengan harapan, justru amat berhasrat menyambut kematian? Mengapa kematian menjadi tahap yang layak dirayakan, bahkan dengan koktail dan musik kesayangan?

Moralitas dalam serial ini sangat cair. Polisi dan seorang hakim yang anaknya merupakan klien Mary menjadi perwakilan dari sikap kontra terhadap praktik euthanasia. Adapun Mary tentu saja merepresentasikan pandangan sebaliknya. Ia membuat konsep euthanasia menjadi lebih manusiawi dan logis. Bila berpijak pada gagasan bahwa kematian adalah hak, “pembunuhan” yang dilakukan Mary bahkan menjadi bias. Sulit mengatakannya sebagai pembunuh bila kliennya, dengan kesadaran penuh, bahkan membayar demi bisa mati.

Mary Kills People membuka lagi ruang diskusi soal budaya kematian. Bila hidup selama ini dianggap sebagai hak asasi, pilihan untuk mati justru sering dianggap melanggar konstitusi. Apalagi yang dilakukan Mary adalah membuat kematian menjadi bisnis, dengan iming-iming biaya US$ 10 ribu, atau hanya separuh dibanding biaya praktik euthanasia yang legal. Ini membuat proses kematian jauh dari sesuatu yang transenden dan sakral. Walau begitu, belakangan kita tahu, motif Mary di sini tak hanya membantu kliennya, tapi ia sendiri pun terbentuk oleh masa lalunya yang tragis.

Namun Mary Kills People tak hanya meletupkan banyak pertanyaan moral tentang mereka yang memilih jalan berbeda soal kehidupan. Ini juga membuka ruang bagi kita untuk berempati dan mengingat bahwa kematian bisa jadi adalah jalan yang membebaskan.

ISMA SAVITRI

Reporter Isma Savitri - profile - https://majalah.tempo.co/profile/isma-savitri?isma-savitri=161868168864


Film

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.