Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Senyawa, Alkisah, dan 44 Label Rekaman

Kelompok musik Senyawa merilis album baru dengan mengusung konsep kolaborasi global. Berkolaborasi dengan 44 label rekaman indie di dalam dan luar negeri, dari Pontianak sampai Yordania dan Italia. Sebuah terobosan dalam industri rekaman musik.

i Duo Senyawa, Wukir Suryadi (kiri) dan Rully Shabara di Studio Musik Senyawa di Wirobrajan, Yogyakarta, 4 Maret 2021. TEMPO/Shinta Maharani
Duo Senyawa, Wukir Suryadi (kiri) dan Rully Shabara di Studio Musik Senyawa di Wirobrajan, Yogyakarta, 4 Maret 2021. TEMPO/Shinta Maharani

STUDIO mini milik kelompok musik Senyawa riuh di tengah pandemi Covid-19 yang memaksa semua orang mengisolasi diri. Dua pekan setelah meluncurkan album teranyar bertajuk Alkisah, dua personel Senyawa, Wukir Suryadi dan Rully Shabara, menerima kiriman kaset, cakram padat, dan piringan hitam dari sejumlah label musik independen di studio yang nyempil di Kelurahan Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta, itu. Label rekaman indie itu berasal dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.

Dari Yordania, Drowned by Locals mengirim kaset berisi nomor-nomor album Alkisah. Kaset itu dilengkapi pembungkus bersampul bahan kulit dan bergambar pedang, simbol khas negara-negara di kawasan Arab. Sampul tersebut menjadi jimat pengusir setan. Selain itu, mereka mengirim cendera mata belati bertulisan aksara Arab.

Katuktu Collective, dari California, Amerika Serikat, mengirim kaset Alkisah dengan sampul bergambar orang bertapa dan orang terbakar. Gambar pada sampul berwarna hitam-putih itu persis seperti ilustrasi album Alkisah produksi label Senyawa, yakni Senyawa Mandiri, yang dimanajeri Tesaran.


Ada juga label indie yang datang dari Palu, Pontianak, Pekanbaru, Jakarta, dan Bandung. “Semua label wajib mengirim ke Senyawa sebagai arsip,” kata Rully saat ditemui di studio Senyawa, Kamis, 4 Maret lalu.

161868329834

Kolaborasi bersama label-label indie itu bagian dari eksperimen Senyawa yang mewarnai dunia permusikan dalam satu dekade terakhir. Prinsip yang dibangun dalam kerja sama itu adalah kemandirian, bagi hasil yang adil, tanpa paksaan, dan kebebasan berkreasi. Lewat kolaborasi itu, label-label kecil tak lagi terganjal modal besar untuk memproduksi, mendistribusikan, dan menjual album ke jaringannya.

Eksperimen Senyawa itu lahir karena pandemi Covid-19 memukul semua seniman, termasuk musikus. Wabah itu membuat Senyawa putar otak. Kolaborasi yang mengusung tema “Decentralization Should Be the Future” itu sukses menjaring 44 label indie yang tersebar di empat benua: Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.

Alkisah berisi delapan lagu, yakni “Kekuasaan”, “Alkisah I”, “Menuju Muara”, “Istana”, “Kabau”, “Fasih”, “Alkisah II”, dan “Kiamat”. Senyawa merekam album itu selama tiga hari di Rumah Seni Elo Progo, Magelang, Jawa Tengah, pada September 2020. Perekamannya antara lain menggunakan gitar dan spatula yang dikreasikan Wukir menjadi instrumen musik.

Senyawa mencari strategi agar dapat bertahan pada masa karantina karena wabah virus corona. Tujuannya: mereka bisa tetap bermain musik, membantu teman-teman, dan mendapat penghasilan dari menjual album. Hasilnya, label-label kecil itu antusias memproduksi album dan berkreasi. “Berkarya, bermusik tanpa menunggu funding dan minta uang kepada pemerintah selama pandemi,” tutur Rully.

Senyawa mengumumkan proyek kolaborasi bersama label-label indie itu pada November 2020 melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Tak semua dari 44 label indie tersebut mapan. Ada yang berskala menengah, misalnya dari Inggris dan Belgia.

Burning Ambulance dari Amerika Serikat adalah contoh label kecil yang baru pertama kali merilis album. Kebanyakan yang bergabung malah label kecil. Dari Indonesia, terdapat sepuluh label yang tersebar di banyak daerah. Bahkan ada label berupa distro alias gerai yang menjual pakaian lokal. 

Kolaborasi itu mengandalkan kekuatan jaringan dan perkawanan antar-label indie di seluruh dunia. Senyawa mengecek rekam jejak mereka. Mereka juga berkonsultasi dengan jaringan musikus internasional sebelum membuka pendaftaran. Jejaring itu dimanfaatkan untuk bekerja sama baik dalam proses produksi maupun distribusi. Misalnya label dari Hong Kong bekerja sama dengan label Taiwan. Label Italia dan Beirut pun mengajak jaringan masing-masing patungan memproduksi album Alkisah.

Senyawa memberikan kebebasan kepada label-label itu untuk menentukan format sampul album dan narasi, juga hak menggubah atau me-remix Alkisah. “Merdeka untuk bereksperimen sesuai dengan karakter musik masing-masing,” ucap Wukir.

Senyawa merilis Alkisah pada Sabtu-Ahad, 20-21 Februari lalu, lewat festival musik secara daring melalui YouTube dan Discord. Konsepnya dibuat seperti orang yang bertransaksi di pasar. Semua orang bisa terlibat langsung, menawar barang dan mempromosikan albumnya.

Perilisan album secara serentak itu, Wukir menjelaskan, melibatkan ratusan orang dari berbagai negara tanpa biaya sepeser pun. Label-label indie saat itu menyajikan beragam konten video, audio, dan sampul yang semarak. Daftar nama label diunggah di https://alkisah.net/track-list/.

Wukir mencontohkan, remix Alkisah memberikan warna tersendiri yang mencerminkan kreativitas label. Mereka menyuguhkan bermacam karakter musik, seperti pop, tekno, metal, funky kota alias funkot, folk, dan dangdut.

Label dari Italia, misalnya, menggubah Alkisah dengan membubuhkan sentuhan musik klasik menggunakan biola. Adapun label asal Australia menggunakan genre musik elektronik dan label Bali memakai sentuhan metal. Kebebasan label indie untuk merangkai ulang album itulah yang membuat jenis musik di dalamnya berkembang bebas, sukar diidentifikasi, seperti semangat eksperimen Senyawa.

Kemerdekaan dalam menggubah album ini juga menjadi daya tarik bagi label-label indie untuk turut serta memiliki karya Senyawa. Hasil penjualan album gubahan itu sepenuhnya milik label terkait dan Senyawa tak mengambil keuntungan dari sana.

Hanya, setiap label wajib mencantumkan nama Senyawa sebagai bagian dari pengakuan hak cipta. Label-label yang bekerja sama itu memiliki kesepakatan dengan Senyawa dalam bentuk kode etik. Misalnya Senyawa menawarkan pilihan kerja sama dalam bentuk pembelian royalti. Ada juga tawaran beli putus album.

Rully menjelaskan sistem bagi hasil penjualan album tersebut. Untuk memproduksi piringan hitam, misalnya, diperlukan pencetakan master yang ongkosnya mahal bila setiap label bekerja sendiri-sendiri. Agar lebih mudah dan hemat, Senyawa menawari label-label tersebut mencetak bersama-sama sehingga harganya lebih murah. Bagi hasil lalu dihitung di akhir. “Intinya dijalankan secara adil. Kami suka dan mereka suka,” Wukir menambahkan.

Senyawa. Alkisah.

Tidak semua kolaborasi antara Senyawa dan label indie itu berjalan mulus. Rully bercerita, ada label indie dari Belgia yang nakal karena merasa memiliki hak album dalam format digital di platform Spotify. Lisensi yang dimiliki per orang ini membuat label tersebut ingin lebih dulu mendapat keuntungan. Dampaknya, Senyawa dan label lain kehilangan hak memonetisasi album tersebut di jagat digital.

Tapi Senyawa sudah mengatasi masalah itu. Album Alkisah sudah tidak ada di Spotify. Senyawa kemudian menekankan agar setiap label saling menghargai dan menjaga kode etik. Proyek kolaborasi Senyawa ini juga memunculkan pandangan miring yang dialamatkan ke akun media sosial mereka.

Sejumlah orang menuding kolaborasi tersebut sebagai gerakan neo-kapitalisme karena Senyawa mengambil keuntungan dari konsep desentralisasi itu. Ada juga yang menuduh Senyawa berideologi sosialis dengan konsep berbagi dan kerja sama yang utopis. “Ini kerja sama, omongin dunia nyata. Siapa yang bakal makan dan sebanyak apa yang dapat makan itu,” kata Rully.

Senyawa, yang kerap tampil di panggung internasional, selama ini dikenal sebagai kelompok musik eksperimental yang genre musiknya sulit didefinisikan. Sub Pop Records, label skala besar di Seattle, Amerika Serikat, yang merekam album kelompok musik grunge Nirvana, pernah menawarkan kontrak rekaman pada 2013. Penawaran berlangsung lewat pengacara dan sudah sampai tahap negosiasi. Tapi Senyawa menolak. “Kami merasa belum saatnya tiba-tiba ikut major label,” ujar Rully.

Kelompok musik pertunjukan ini mencampurkan musik cadas heavy metal, elektrik, dan tradisional. Wukir menggunakan instrumen musik yang dia ciptakan dari benda apa saja. Di tangan Wukir, garu atau alat perata lahan sawah bisa disulap menjadi alat musik yang lebih gahar ketimbang gitar metal. Garu itu dia susun dengan senar dan kawat yang dihubungkan dengan seperangkat amplifier. Dia juga membuat alat musik dari spatula, yang biasanya digunakan untuk mengaduk adonan jenang.

Sementara itu, Rully identik dengan vokal yang mengaum, berdesis, memekik, menghela napas. Dalam bernyanyi, dia juga kerap terdengar seperti sedang merapal mantra. Contohnya dalam lagu berjudul “Istana” di album Alkisah. “Filosofinya, kisah kami terus-menerus diceritakan,” ucap Rully.

SHINTA MAHARANI

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161868329834


Musik

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.