Nasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiga Sekawan di Proyek Injeksi  

Pengajuan vaksin Nusantara melibatkan orang kepercayaan dan teman Terawan. Menyediakan dana dan mengikuti uji coba vaksin.

i Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (tengah berdasi merah) disela-sela penandatanganan kerja sama Litbangkes dan PT Rama Emerald Multi Sukses, di Jakarta, Oktober 2020. Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (tengah berdasi merah) disela-sela penandatanganan kerja sama Litbangkes dan PT Rama Emerald Multi Sukses, di Jakarta, Oktober 2020. Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Uji coba vaksin Nusantara melibatkan seorang pengusaha yang diduga dikenal lama oleh Terawan. .
  • Taruna Ikrar mengajukan proposal uji coba vaksin Nusantara kepada Terawan.
  • Anggaran vaksin Nusantara terhambat setelah Terawan lengser sebagai Menteri Kesehatan. .

TERBANG ke Amerika Serikat pada pengujung 2016, Terawan Agus Putranto bertemu dengan sejumlah koleganya di salah satu konsulat jenderal di negara itu. Silaturahmi menjelang Natal dan tahun baru tersebut dihadiri sejumlah diaspora Indonesia. Salah satunya Taruna Ikrar yang saat itu menjadi peneliti pascadoktoral dan asisten spesialis di University of California, Amerika Serikat, Irvine.

Kepada Taruna, Terawan yang saat itu menjabat Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto mengenalkan kawannya, Haryono Winarta, yang merupakan pengusaha asal Surabaya. “Saat itu Pak Terawan mengenalkan saya kepada Pak Ming,” ujar Taruna kepada Tempo, Rabu 3 Maret lalu. Ming atau Liu Ming Ming adalah nama Cina dari Haryono Winarta.

Menurut Taruna, Haryono memiliki rumah di Pomona, California. Haryono dan Istrinya, Merci Kawilarang, merupakan jebolan kampus di Amerika. Istrinya magister administrasi bisnis di Papperdine University, California. Haryono, anak dari kontraktor pengeboran minyak mentah, juga menjadi pemilik Hotel Wyndham di Jalan Basuki Rahmat, Kota Surabaya. Istrinya merupakan Direktur Operasional PT Gloria Ramayana Interhotel yang bergerak di bidang perhotelan di Asia.

Adapun mertua Haryono memiliki pabrik farmasi di Gresik, Jawa Timur, yaitu PT Rama Emerald Multi Sukses. Perusahaan ini menjadi penyokong dana pengembangan vaksin Nusantara dengan menggunakan vaksin sel dendritik untuk vaksin Covid-19. Tim peneliti dari PT Rama dan Aivita Biomedical Inc—perusahaan bioteknologi di Amerika yang mengembangkan vaksin dendritik untuk pasien kanker—serta Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tengah melakukan uji klinis vaksin Nusantara di Rumah Sakit Umum Pusat dr Kariadi, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Taruna bercerita, kedekatan Terawan dengan Haryono bermula ketika mertua Haryono berobat kepada Terawan. Mertuanya pernah terkena serangan stroke dan menjalani terapi cuci otak dengan digital subtraction angiography (DSA) yang dikembangkan oleh Terawan. Metode itu dianggap kontroversial karena dinilai belum teruji secara ilmiah. Setelah mengikuti terapi itu, menurut Taruna, mertua Haryono sembuh. “Itu sekitar 2015,” ujar Taruna.

Keluarga Terawan pun dekat dengan keluarga Haryono. Di akun Instagram istri Haryono, Mercy Kawilarang, misalnya, terpampang foto dia dan orang tuanya bersama Terawan dan istrinya di depan meja sebuah restoran. Tertulis di unggahan tanggal 20 Juni 2016, “Bersama dokter Terawan dan istrinya, persahabatan kita selamanya. Pertemanan bukan ke mana kamu pergi atau apa yang sudah kamu lakukan. Tapi, siapa yang ada di dekatmu,” tulis Mercy.

 

Haryono Winata atau Ming Ming. Istimewa

Setelah pertemuan di Konsulat Jenderal, Taruna pun kerap bertemu dengan Haryono di Amerika. Pada 2017, Taruna menjadi peneliti vaksin ilmiah dan klinis di Aivita Biomedical Inc. Perusahaan ini didirikan pada 2016 oleh Hans Keirstead, ilmuwan sekaligus pengusaha yang berfokus dalam penelitian sel punca. Pada tahun yang sama, Terawan mengangkat Taruna sebagai anggota staf ahli Kepala RSPAD. Taruna mengaku kerap bolak-balik Jakarta-Amerika. “Kami ini tiga sekawan,” tutur Taruna. Dua tahun berselang, atau pada 19 Agustus 2020, Taruna diangkat menjadi Ketua Konsil Kedokteran. Namanya disebut-sebut diajukan oleh Terawan yang saat itu menjadi Menteri Kesehatan.

Pada awal masa pandemi Coronavirus Disease 2019, Taruna menyodorkan proposal pembuatan vaksin dendritik—bagian dari sistem imun bawaan yang melakukan patroli di dalam tubuh untuk mendeteksi penyusup, seperti bakteri atau virus, dan melahapnya—kepada Terawan. Vaksin itu dikembangkan oleh Aivita Biomedical Inc, tempat Taruna bekerja. Taruna mengaku sebagai penghubung yang memperkenalkan Hans, pendiri Aivita, dengan Haryono dan Terawan. “Saya hanya membantu Pak Terawan,” ucapnya.

Menurut Taruna, Haryono dan perusahaannya berminat menggelontorkan dana untuk penelitian vaksin. Komitmen itu disampaikannya setelah mengetahui seluk-beluk teknologi sel dendritik. Pada 22 Oktober 2020, perjanjian kerja sama uji klinik vaksin dendritik untuk Covid-19 antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan PT Rama Emerald Multi Sukses resmi diteken. Penandatanganan dilakukan di gedung Kementerian Kesehatan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pembangunan Kesehatan Slamet serta General Manager PT Rama Emerald Multi Sukses Sim Eng Siu, dengan disaksikan oleh Terawan yang saat itu masih menjadi menteri.

Raditya Mohammer Khadaffi, dari bagian hubungan masyarakat PT Rama Emerald Multi Sukses, mengaku tak mengetahui jumlah duit yang dikeluarkan perusahaannya untuk membiayai riset tersebut. Raditya mengatakan tak hanya perusahaannya yang mengeluarkan dana. “Yang saya tahu, ada anggaran dari Kementerian Kesehatan juga,” ucapnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Slamet mengatakan uji klinis fase I dibiayai Kementerian. “Iya, kami membiayai fase pertama," ujar Slamet.

Menurut seorang pejabat yang mengetahui pendanaan riset tersebut, sebelum lengser sebagai Menteri Kesehatan, Terawan mengajukan anggaran untuk penelitian vaksin Nusantara kepada Kementerian Keuangan. Namun anggaran itu ditandai bintang—yang berarti tak bisa digunakan—setelah Terawan digantikan oleh Budi Gunadi Sadikin.

Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, pernah menyatakan bahwa uji klinis tak dibiayai kementeriannya. Menurut Siti, kementeriannya hanya memberikan dukungan seperti biaya pertemuan rapat dan lokasi pelaksanaan di Rumah Sakit Dokter Kariadi. “Itu kan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara),” ujar Siti. Dia tak menyebut berapa anggaran yang dikeluarkan.

Tak hanya mendanai riset, Haryono menjadi relawan uji vaksin fase I. Bekas Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, sekaligus mantan CEO Jawa Pos Grup yang berbasis di Surabaya, mengatakan Haryono bersama istri dan anaknya sudah disuntik vaksin Nusantara. Selain Haryono, kerabatnya, Tommy Winata, menjadi relawan di fase II. “Dokter Terawan juga akan menjadi relawan. Saya dan istri juga minta dimasukkan dalam daftar,” ujar Dahlan dalam blog pribadinya.

Terawan belum bisa dimintai tanggapan. Ia tak menanggapi permintaan wawancara yang dilayangkan Tempo. Begitu pula Haryono. Raditya Mohammer Khadaffi, dari bagian humas PT Rama Emerald Multi Sukses, mengatakan bosnya berkenan diwawancarai ketika pengembangan vaksin sudah memasuki uji klinis tahap III.

DEVY ERNIS, HUSSEIN ABRI DONGORAN, NURHADI (SURABAYA) 

Reporter Devy Ernis - profile - https://majalah.tempo.co/profile/devy-ernis?devy-ernis=161814432468


Vaksin Nusantara Terawan Agus Putranto Kementerian Kesehatan

Nasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.