Covid Art Museum, Museum Seni Masa Pandemi - Seni - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Museum Seni Pandemi

Covid Art Museum lahir di tengah pandemi. Inisiatif museum digital yang memamerkan karya seni yang dibuat selama masa isolasi mandiri. 

i Karya Ertan Atay saat Vincent van Gogh ditutupi masker bermotif Stary Night./Instagram Ertan Atay/@failunfailunmefailun
Karya Ertan Atay saat Vincent van Gogh ditutupi masker bermotif Stary Night./Instagram Ertan Atay/@failunfailunmefailun

SENIMAN Turki, Ertan Atay, populer dengan seri karyanya yang mengubah lukisan ternama menjadi seperti foto asli. Memanipulasi lukisan-lukisan masterpiece memang keahliannya. Ketika pandemi Covid-19 melanda, Atay menunjukkan lagi kebolehannya memoles karya, kali ini dengan memasangkan masker di wajah para seniman kanon sedunia. Masker yang mereka kenakan sungguh trendi.

Lihatlah Vincent van Gogh yang mulut dan hidungnya tertutup masker bermotif The Starry Night atau Frida Kahlo yang mengenakan masker dengan gambar lukisan The Two Fridas-nya. Ada juga Gustav Klimt dengan masker bergambar The Kiss dan Salvador Dali yang dari maskernya mencuat kumis.

Emma Calvo, José Guerrero, Irene Llorca./Tempo


Karya Atay tersebut dapat ditemukan dalam unggahan akun Instagram bernama Covid Art Museum. Baru dibuat pada pertengahan Maret lalu, akun ini sudah punya 82 ribu pengikut. Karya Atay, yang disukai lebih dari 7.000 pengguna Instagram, menjadi salah satu karya terpopuler di akun yang melabeli diri sebagai “museum pertama di dunia yang menampilkan karya seni yang lahir selama karantina Covid-19” itu.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjkgMDU6NTM6MzQiXQ

Seperti pilihan tema Atay, tema masker menjadi salah satu yang paling banyak muncul dari 400-an karya seni yang telah diunggah museum ini.  Di seluruh dunia, masker menjadi alat pelindung paling esensial untuk mencegah diri terjangkit Covid-19. Seniman Spanyol dengan nama akun Mascorona bereksperimen dengan masker yang terbuat dari macam-macam benda, dari potongan ham hingga kubis ungu. Karya lain yang dibuat @maskenmasker menampilkan potret seorang pria dengan masker yang bergambar mulut tersenyum. “Semua orang kini mengenakan masker dan makin sulit bagi kita untuk berkomunikasi. Apa yang hendak dikatakannya? Bagaimana perasaannya? Apakah masker akan menjadi cara baru berkomunikasi di luar ruangan?” begitu keterangan karya yang melengkapi unggahan itu. 

Pelopor museum digital ini adalah tiga sekawan dari Barcelona, Spanyol: Emma Calvo, José Guerrero, dan Irene Llorca. Mereka adalah direktur seni di perusahaan iklan sebelum pandemi corona melanda. Ketika Spanyol dikarantina, ketiganya menyadari banyak karya seni tercipta di tengah kondisi isolasi. Mereka mulai memikirkan ide agar karya-karya tersebut punya platform sendiri. “Kami tidak ingin karya-karya ini dilupakan begitu saja,” tulis mereka lewat surat elektronik bertanggal 13 Mei 2020 kepada Tempo. “Kami mewujudkan ide museum digital ini agar seni tersebut menjangkau lebih banyak orang di seluruh dunia.”

Tak lama berselang, tim ini punya satu anggota baru bernama Dilay Yaman, seorang copywriter dari Cologne, Jerman. Mereka berempat mengurusi segala hal di museum digital itu, dari pengumpulan karya, kurasi, pengunggahan, hingga promosi akun di media sosial. “Ini pertama kalinya kami semua terlibat menjadi kurator dalam sebuah galeri,” kata mereka. 

Seleksi karya mereka lakukan berdasarkan kriteria yang cukup sederhana, yaitu apakah karya itu dibuat pada masa pandemi Covid-19 dan benar mencerminkan situasi yang sedang dihadapi miliaran penduduk bumi saat ini. Mereka menerima segala bentuk karya, seperti ilustrasi, fotografi, lukisan, gambar, dan video. Belakangan, karya yang masuk mencapai ratusan per hari. Sejauh ini, seniman yang turut serta mendaftarkan karya berasal dari 96 negara. “Sebagian dari mereka adalah seniman amatir, tapi yang paling banyak adalah seniman profesional yang belum banyak diketahui,” ucap Calvo, Guerrero, dan Llorca.

Agar karya dapat diunggah ke akun Covid Art Museum, seniman dapat mendaftar melalui formulir daring (online) yang tautannya tersedia di profil akun. Selain mengisi data diri dan mengunggah foto karya, dalam formulir, seniman dimintai persetujuan agar karya mereka dapat disebarluaskan melalui akun museum dan situs jejaring lain. Karya seni juga dapat didaftarkan ke museum digital ini dengan tanda pagar #covidartmuseum di Instagram. Hingga artikel ini ditulis, sudah ada lebih dari 30 ribu unggahan di Instagram dengan tagar tersebut. 

Karya Pierpaolo Rovero yang diunggah akun instagram The Covid Art Museum./Instagram/covidartmuseum

Tema lain yang banyak muncul dalam karya yang dipamerkan museum ini adalah intipan dari jendela. Saat orang-orang diminta berdiam diri di rumah saja, jendela barangkali menjadi satu-satunya sarana melihat dunia luar. Tak aneh banyak seniman yang memanipulasi jendela dalam karya mereka. Pierpaolo Rovero, seniman dari Turin, Italia, menggambar kota-kota di dunia dengan fokus pada bangunan yang berdempetan. Jika melihat lebih dekat, kita dapat mengintip ke dalam jendela setiap bangunan dan melihat manusia-manusia mungil di dalamnya sedang memasak, bekerja di depan layar, berdoa, hingga bercinta.  

Leono dari Cile merefleksikan sebuah video rekaman macam-macam kegiatan manusia di luar ruangan pada jendela berhias bunga. Kegiatan itu menjadi terlihat seolah-olah dilakukan di dalam rumah. “Segala sesuatu terjadi di dalam saat ini. Manusia telah beradaptasi untuk melakukan sangat banyak hal di dalam rumah, lebih dari yang pernah kita duga mampu kita lakukan,” tulis Leono dalam keterangan karya.

Sebuah karya yang jenaka melibatkan eksperimen sosial di Yorkshire, Inggris. Seniman yang menggunakan identitas yorkshire.silly.walks itu merekam situasi di trotoar dari jendela rumahnya. Sebelumnya, dia menempatkan sebuah papan di kedua ujung trotoar yang bertulisan “Anda memasuki wilayah yurisdiksi Kementerian Berjalan Lucu Berjalanlah sekonyol mungkin jika melewati wilayah ini”.

Lalu, dalam tulisan yang lebih kecil, “Kita bersama menghadapi situasi sulit ini, mari bersenang-senang selagi bisa”. Video kemudian merekam orang-orang yang melewati trotoar itu berjalan dalam berbagai gaya lucu dengan spontan dan sukarela. Eksperimen ini telah ditiru di kota lain, seperti Ontario di Kanada dan Los Angeles di Amerika Serikat.

Video eksperimen yorkshire.silly.walks yang masuk dalam koleksi The Covid Art Museum./Instagram/covidartmuseum

Para kurator Covid Art Museum mengatakan karya yang punya unsur jenaka memang paling banyak disukai. Karya bertema parodi yang menggunakan unsur budaya populer, seperti Netflix, juga menjadi favorit pengikut museum ini. “Selain itu, karya populer adalah yang berisi pandangan positif tentang situasi luar biasa ini,” tulis para penggagas museum dalam surel.

Dengan mengumpulkan karya seni di masa pandemi, museum ini berharap dapat ikut serta merekam kesaksian manusia saat melewati situasi wabah. Setelah pandemi selesai, bisa jadi karya-karya digital ini akan dipamerkan di museum sesungguhnya atau diterbitkan dalam sebuah buku. “Tapi rasanya terlalu dini memikirkan itu. Fokus kami saat ini adalah membuat lebih banyak orang menikmati karya dalam museum ini.”

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-29 05:53:34

Covid-19 Seni Rupa Gerakan Seniman

Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB