Jejak Waliyah Zainab di Bawean - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 12/20

Sebelumnya Selanjutnya
text

Aulia Pulau Seberang

Seorang wali perempuan terselip dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Bawean. Zainab, begitu namanya, meneruskan tugas dakwah suaminya yang tewas dalam pelayaran dari tanah Jawa.  

i Waliyah Zainab. Ilustrasi: Imam Yunni, Dokumentasi Ali Masduqi
Waliyah Zainab. Ilustrasi: Imam Yunni, Dokumentasi Ali Masduqi
  • Sejumlah peninggalan masih tersimpan di sisi utara Bawean. .
  • Sejarah yang terhubung dengan dua pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.
  • Bertahannya tradisi keagamaan. .

TERSUSUN dari bata putih, kijing tempat Waliyah Zainab bersemayam tampak teduh dikelilingi tirai kuning berkelambu putih. Berada di depan mihrab dan terpisah dari bangunan utama Masjid Diponggo di Kecamatan Tambak, Gresik, Jawa Timur, makam penyebar Islam di Bawean pada abad ke-16 itu paling menonjol. Tiga pusara lain di kompleks itu hanya bernisan kayu dibalut kain putih dan krem.

Di dalam mihrab masjid masih tersimpan batu tempat bersujud yang dipercaya merupakan peninggalan Zainab. Pusaka lain, seperti piring keramik, cawan besar dari besi, keris, belati, dan tombak, terawat di ruangan sebelah utara makam.

Lewat sambungan telepon, Kepala Desa Diponggo, Salim, menunjukkan kondisi terbaru makam itu kepada Tempo di Surabaya, Jumat, 8 Mei lalu. Akses menyeberang ke Bawean, sekitar 85 mil laut di sebelah utara Gresik dan Lamongan, ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dengan alasan yang sama, takmir Masjid Diponggo dan pemerintah desa menutup pusara dari kunjungan peziarah. Biasanya ada 150-200 peziarah datang. “Kalau pas hari besar Islam, bisa sampai 300-500 peziarah,” kata juru kunci Makam Waliyah Zainab, Ahmad Mubayyin.

Makam Waliyah Zainab di Pulau Bawean, Jawa Timur, 8 Mei 2020. Ali Masduqi

Beberapa tahun ke belakang, yayasan dan pemerintah desa memang menambah hari buka makam, dari semula hanya Senin dan Kamis menjadi setiap hari. Ratusan peziarah berdatangan tak hanya dari Bawean, tapi juga dari beberapa daerah lain di Jawa, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Banyak imigran Boyan—sebutan untuk orang dari Bawean—mengadu nasib di dua negeri jiran tersebut.

Mubayyin menuturkan, sebagian besar pelawat ingin ngalap berkah. Ada juga yang berniat memenuhi nazar atau sekadar berzikir di pusara Zainab, yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai wali. Setelah berdoa, para peziarah biasanya melakukan ritual ngisi sekul atau memasukkan nasi ke wadah peninggalan Zainab. Konon, berapa pun banyaknya nasi yang dituang akan tertampung. “Sekarang diganti dengan uang seharga nasi,” tutur Mubayyin.

Burhanuddin Asnawi dalam buku Ulama Bawean dan Jejaring Keilmuan Nusantara Abad XIX-XX mencatat nama Zainab sebagai penyebar Islam awal di Bawean. Sejumlah literatur menyebutkan Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, putra Sayid Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel, memang sempat datang ke pulau itu pada akhir abad ke-15. Namun tidak ada bukti kuat bahwa Islam telah menjadi agama pribumi masyarakat Pulau Bawean pada periode kedatangan Sunan Bonang, yang juga imam pertama Masjid Demak, Jawa Tengah.


Peziarah di Makam Waliyah Zainab, Bawean, September 2019. Facebook.com/Makam Waliyah Zainab Diponggo Tambak Bawean

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjkgMDY6MDI6NDciXQ

“Baru setelah datangnya para penyebar Islam yang datang kemudian pada abad ke-16 dan abad ke-17, bersamaan dengan datangnya Waliyah Zainab dan Sayyid Maulana Umar Mas’ud, Islam mendapat sambutan luas dari penduduk setempat,” tulis Burhanuddin.

Seperti kisah para wali pada masa awal penyebaran Islam di Indonesia, jejak Zainab tidak luput dari campuran antara legenda, mitos, dan cerita rakyat. Dalam salah satu versi legenda di buku Cerita Rakyat dari Bawean karya Zulfa Usman dikisahkan Zainab datang dari Jawa daratan menaiki sentong atau kelopak bunga kelapa dan mendarat di Pelabuhan Kumalasa. Warga desa yang sedang disergap pagebluk mengusir Zainab karena menganggapnya pembawa wabah. Perempuan itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Desa Diponggo, sisi utara pulau.

Minimnya sumber sejarah tentang Zainab membuat angka-angka mengenai tahun kelahiran, kematian, dan kedatangannya di Bawean masih menjadi perdebatan. M. Dhiyauddin Qushwandhi, penulis buku Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar, memperkirakan Waliyah Zainab lahir antara 1575 dan 1585.

Perkiraan itu didasari tahun kelahiran kakek Zainab, Raden Nur Rakhmat alias Kanjeng Sunan Sendang, wali yang menyebarkan Islam dan mendirikan Masjid Sendang Duwur di Lamongan, Jawa Timur. Sunan Sendang tercatat lahir pada 1520 dan meninggal ketika berusia 65 tahun pada 1585.

Menur Masjid Waliyah Zainab. Dok. Ali Masduqi

Kepada Tempo, Dhiyauddin mengatakan Zainab adalah putri Pangeran Geneng. Pengasuh Pesantren Luhur, Sidoarjo, Jawa Timur, ini mengoreksi isi bukunya yang menyebut Zainab sebagai anak Pangeran Duwur, adik Pangeran Geneng. “Penetapan tahun 1585 sebagai patokan akhir kelahiran Zainab karena tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Sunan Sendang,” ucap Dhiyauddin.

Karya Dhiyauddin diterbitkan Yayasan Waliyah Zainab pada 2008. Menurut buku itu, Zainab dewasa menikah dengan seorang pria yang dikenal sebagai Pangeran Sedo Laut. Pangeran ini dipercaya sebagai cucu Raden Paku alias Sunan Giri I, pendiri Kedatuan Giri, Gresik. Dalam buku, Zainab juga disebut sebagai generasi keempat penerus ajaran Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang, pendiri tarekat Akmaliyah di Nusantara.
 
Masih menurut Dhiyauddin, Pangeran Sedo Laut adalah saudara Sunan Prapen, pangeran Kedatuan Giri keempat yang berkuasa pada 1545-1625. Saat berkuasa itulah, Dhiyauddin menulis, Sunan Prapen mengutus Pangeran Sedo Laut dan istrinya, Zainab, mengislamkan Bawean.

Tidak ada bukti sejarah lain yang menguatkan klaim Dhiyauddin. Namun mayoritas sejarawan sepakat era Sunan Prapen merupakan puncak syiar Islam Kedatuan Giri. Kerajaan Islam di Gresik itu memegang peran kunci dalam penyebaran Islam di Jawa bagian timur hingga pulau-pulau lain yang lebih ke timur.

Sejarawan asal Belanda, H.J. de Graaf, dalam buku De Regering van Sultan Agung, Vorst van Mataram (1613-1645) en Die van Zijn Voorganger Panembahan Seda-Ing-Krapjak (1601-1613), misalnya, menulis bahwa pengaruh keislaman Kedatuan Giri meluas pada era Sunan Prapen. Denys Lombard, sejarawan asal Prancis, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya II, Jaringan Asia juga menyebut Giri tetap otonom dan dapat melanjutkan pengislaman di tengah menguatnya Kerajaan Demak. “Terutama ke arah Kediri, yang diislamkan pada 1579, dan beberapa kantor dagang di luar Jawa, di pantai Kalimantan, dan terutama di Kepulauan Maluku.” Padahal, tulis Lombard, “Tuban mengakui secara formal keunggulan Demak pada 1527 dan Surabaya melakukan hal yang sama pada 1531.”

Dhiyauddin menulis, dalam pelayaran penugasan menuju Bawean itu, kapal Pangeran Sedo Laut karam. Hanya Zainab dan Mbah Rambut, pembantunya, yang selamat. Zainab selanjutnya mengambil alih tugas syiar suaminya.  

Dugaan bahwa Zainab awalnya hanya menjadi pendamping syiar dikuatkan oleh analisis Lombard dalam jilid ketiga bukunya, Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Bersamaan dengan perkembangan bandar-bandar dan agama Islam, tulis Lombard, muncul kecenderungan membatasi kebebasan wanita dan mengawasi segala gerak-geriknya. “Untuk selanjutnya, mereka boleh dikatakan disisihkan dari kehidupan politik yang sebelumnya menjadi ajang mereka berkiprah.”

Lombard mencatat, tak seorang pun perempuan naik takhta di Mataram yang Islam dan kota-kota pesisir. Pengecualian hanya berlaku buat Ratu Fatima, yang ditaruh di takhta Banten oleh Belanda kira-kira pada abad ke-18 dan Ratu Kalinyamat, yang memimpin Jepara pada abad ke-16.

De Graaf dan sarjana Belanda lain, Theodore G.Th. Pigeaud, dalam buku De Eerste Moslimse Vorstendommen Op Java: Studien Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15de en 16de Eeuw (Pembawa Islam Pertama di Jawa: Studi Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16) menulis bahwa Ratu Kalinyamat pun bisa naik tahta hanya karena takdirnya sebagai anak Sultan Trenggana, penguasa Demak (wafat 1546), yang dinikahi kapten kapal dagang Tiongkok pendiri Jepara. “Tradisi Jawa menunjukkan ia telah menjadi pusat keluarga Demak, yang bubar setelah kematian Sultan Trenggana dan Sunan Prawata,” tulis De Graaf dan Pigeaud.

Menurut Jajat Burhanuddin, pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang banyak menulis tentang sejarah Islam di Indonesia, tampilnya Zainab sebagai penerus dakwah suaminya yang meninggal merupakan kelaziman. Istri seorang pemimpin, kata Jajat, harus menggantikan suaminya yang berhalangan. “Ketika suasana menghendaki, dia akan maju ke depan,” tuturnya. “Terlebih jika punya hubungan dengan elite kekuasaan. Di masyarakat kita, pengakuan sosial itu penting.”

Hubungan Zainab dengan Kedatuan Giri dan Sunan Sendang tampak erat dari corak menur Masjid Diponggo. Menur masjid itu berbentuk tiara, dikelilingi motif sayap-sayap burung dan gunung. Di puncaknya terdapat ragam hias burung rajawali dengan sayap mengembang. Sedangkan di bawahnya terdapat corak naga membelit bumi. Corak serupa juga bisa dijumpai di Masjid Sendang Duwur dan kompleks makam Sunan Giri. “Naga itu mewakili Giri, sedangkan burung rajawali mewakili Sendang Duwur,” ujar Dhiyauddin. 

Dugaan datangnya Zainab pada puncak kejayaan Giri juga didukung rekam jejak kedatangan Syekh Umar Mas’ud ke Bawean pada abad ke-17. Ketika itu, dalam buku Cerita Rakyat dari Bawean, Syekh Umar alias Pangeran Parigi datang ke Bawean dan mendirikan pemerintahan Islam di pulau itu pada 1601. “Selama 30 tahun Syekh Maulana Umar Mas’ud menjabat raja di Pulau Bawean sekaligus menjadi guru dakwah.” 

Ketika Umar Mas’ud tiba di Bawean, berbagai catatan sejarah dan antropologi menyebutkan pengaruh Zainab di Diponggo sudah kadung mengakar. Salah satunya dalam penggunaan bahasa. Masyarakat di Diponggo bertutur dengan bahasa yang banyak dipengaruhi bahasa Jawa, bukan bahasa Bawean, Madura, atau campuran keduanya yang mayoritas berkembang di pulau tersebut.

Benda-benda peninggalan Waliyah Zaenab di Pulau Bawean Jawa Timur. Dok. Ali Masduqi

Jacob Vredenbergt dalam artikelnya, “Bawean Migrations”, di jurnal akademik terbitan Kerajaan Belanda, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, pada 1964 menulis bahwa penduduk Desa Diponggo berasal dari Jawa. Jejak itu masih melekat dalam berbagai sapaan. Warga desa, misalnya, menggunakan “rama” untuk memanggil ayah, seperti halnya di Jawa daratan. “Penduduk Desa Dipangga dialeknya tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang Bawean karena banyak unsur Jawa-nya,” tulis Vredenbergt. “Dialek mereka tampaknya terutama Jawa, dengan campuran bahasa Bawean dan bahasa Indonesia.”

Pengaruh lain yang menabalkan jejak Waliyah Zainab adalah puyahale. Di tempat asalnya, daratan Jawa, masyarakat lebih mengenal tradisi itu sebagai zikir mider alias doa keliling kampung meminta keselamatan seluruh isi desa. “Tradisi ini baru kami aktifkan kembali 10 tahun terakhir,” kata Ali Masduki, warga Diponggo yang juga menjadi pengurus Yayasan Waliyah Zainab.

Digelar setiap bulan Muharam, tradisi ini laiknya kebiasaan orang-orang sebelum Islam datang. Peserta zikir, yang semuanya pria, berkeliling kampung dengan mengarak pusaka peninggalan Zainab, seperti kendi, tombak, cawan besar dari besi, piring keramik, entong, dan batok kelapa besar. Di tiap simpang desa, peserta zikir menyerukan azan.

Tradisi serupa ada di Sendang, Lamongan. Kesamaan itu, menurut Dhiyauddin, menjadi indikasi bahwa syiar Zainab lebih banyak dipengaruhi Sendang yang akulturatif terhadap budaya pra-Islam dibanding Giri. Wali perempuan ini meninggal tanpa keturunan. Peninggalan terbesarnya bagi Bawean adalah Islam.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-29 06:02:47

Wali Islam Wali Songo Wali Nusantara

Laporan Khusus 12/20

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB