Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Buah Catur dan Gelar Dunia

Catur menjadi topik perbincangan ketika pecatur nasional Irene Kharisma Sukandar meladeni Dadang Subur, pemilik akun Dewa Kipas di Chess.com, dalam pertandingan ekshibisi. Irene bersama sejumlah pecatur muda seperti Medina Aulia, Susanto Megaranto, dan Novendra Priasmoro, menjadi tumpuan Indonesia di olahraga asah otak itu.

i Irene Kharisma Sukandar, pecatur. (Dok. Pribadi)
Irene Kharisma Sukandar, pecatur. (Dok. Pribadi)

IRENE Kharisma Sukandar mendadak populer dalam satu bulan terakhir. Pecatur bergelar Woman Grandmaster ini ramai diperbincangkan publik setelah memenangi pertandingan ekshibisi melawan pemilik akun Dewa Kipas di Chess.com, Dadang Subur, yang digelar selebritas Deddy Corbuzier pada 22 Maret lalu. Irene menang dengan skor 3-0. "Saya berharap catur tidak lagi dipandang sebelah mata dibanding olahraga lain," ujar Irene, 29 tahun, saat dihubungi Tempo, Selasa, 6 April lalu.

Sebagai pecatur putri terbaik Indonesia, Irene mengungkapkan, ia bertugas mengembalikan popularitas olahraga asah otak tersebut. Lulusan magister hubungan internasional di Webster University, Amerika Serikat, ini menyebutkan Indonesia berada di puncak prestasi ketika Grandmaster Utut Adianto masih aktif bermain. Bagi kalangan awam, Irene melanjutkan, catur pun berfaedah untuk mengasah perkembangan motorik anak-anak dan remaja.

Irene pertama kali bersinggungan dengan catur ketika berusia 7 tahun. Saat itu ayahnya, Singgih Yehezkiel, memperkenalkan strategi melangkahkan buah catur dan mendorongnya menjadi pecatur profesional. Bakatnya ditempa selama ia berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto di Bekasi, Jawa Barat.


Selain menjuarai sederet kejuaraan, pecatur kelahiran Jakarta ini menjadi atlet termuda tim nasional dalam SEA Games 2003 di Hanoi, Vietnam. Saat itu usianya 11 tahun. "Di titik itulah orang tua menyadari saya bertalenta di catur karena saya berprestasi di usia relatif muda," tuturnya.

162076563166

Pecatur Medina Warda Aulia. [TEMPO/STR/M. Iqbal Ichsan]

Pecatur putri muda lain yang tak kalah beken adalah Medina Warda Aulia. Ia sebelumnya sukses memecahkan rekor Irene sebagai Woman Grandmaster termuda di Indonesia. Medina meraih gelar itu pada 2013 saat usianya 16 tahun 2 bulan. Sebelumnya, Irene meraih gelar serupa pada usia 16 tahun 7 bulan.

Ayah Medina, Nur Muchlisin, mengajarinya cara bermain catur sejak sang putri masih belia. Seperti Irene, kemampuan Medina selanjutnya diasah secara mendalam ketika ia bergabung dengan Sekolah Catur Utut Adianto.

Medina, 23 tahun, bakal bahu-membahu dengan Irene untuk meraih prestasi terbaik dalam SEA Games 2021 di Hanoi. Ia juga ikut dalam Kejuaraan Dunia Catur di Rusia pada Juli mendatang. "Untuk SEA Games, targetnya emas. Target di Kejuaraan Dunia pemain terbaik," ucap Medina, Kamis, 8 April lalu.

Susanto Megaranto usai membawa tim catur putra Indonesia melaju ke perempat final Asian Online Nations Chess Cup 2020 pada Minggu (18/10/2020). (foto: Dok. PB Percasi)y

Popularitas catur tak hanya bertumpu pada atlet putri. Prestasi tertinggi juga bisa diraih Susanto Megaranto. Menyandang gelar Grandmaster, Susanto adalah atlet catur terbaik yang kini dimiliki Indonesia. Ia bersama pecatur Chelsie Monica menjadi komentator dwitarung Irene versus Dewa Kipas.

Susanto, 33 tahun, meraih predikat Grandmaster pada 2004. Saat itu ia menjadi orang Indonesia termuda yang memperoleh gelar tertinggi dunia catur tersebut ketika berumur 17 tahun. Ia mengalahkan rekor Utut Adianto—kini Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi)—yang menjadi Grandmaster ketika berumur 21 tahun. "Saya mulai belajar catur pada umur 7 tahun dan dilatih Bapak saat itu di kampung," kata pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat, ini pada Selasa, 6 April lalu.

Susanto menghimpun deretan gelar caturnya dalam waktu relatif singkat. Ia meraih gelar Master Percasi pada 1997, Master Nasional pada 1999, dan International Master Norm pada 2002. Ia lalu memperoleh gelar International Master/Grandmaster Norm pada 2003 dan puncaknya menjadi Grandmaster satu tahun kemudian.

Menyadari usianya tak lagi muda, Susanto tidak mematok target menembus level Grandmaster super atau masuk 100 besar pecatur terbaik dunia. Menurut dia, dibutuhkan pengorbanan waktu untuk bisa menembus level tersebut. "Biarlah pecatur muda seperti Grandmaster Novendra karena harus tinggal di Eropa sekitar dua tahun biar rutin ikut kompetisi sehingga bisa menembus level itu," ucapnya.

Pecatur Novendra Priasmoro di Jakarta, Jumat (15/5/2020) Tempo/Tony Hartawan

Novendra Priasmoro, 21 tahun, memang berambisi masuk deretan Grandmaster super. Untuk menggapai tujuan itu, atlet yang sembilan kali mengalahkan gamer catur profesional Levy Rozman alias GothamChess ini mesti menembus Elo rating atau level Federasi Catur Internasional (FIDE) 2700. "Saya menargetkan dua-tiga tahun bisa mendongkrak Elo rating," ujar Novendra, yang kini memiliki Elo rating 2502.

Novendra sangat serius berlatih, termasuk dengan tidak meninggalkan pola latihan lama: bermain catur di lapak. Kebiasaan ini diperkenalkan ayahnya, Djoko Istanto. Novendra kerap mengunjungi lapak catur di sekitar Cawang, Jakarta Timur; dan Bekasi, Jawa Barat, yang berupa warung kopi, klub catur, atau tempat perhelatan kejuaraan catur tidak resmi.

Menurut Novendra, permainan catur di lapak menyuguhkan tantangan tersendiri. Sebab, kebanyakan pecatur berlaga tanpa menggunakan teori. "Untuk sparring saja, biar sering bermain dengan variasi," tuturnya. Ia juga terus mengasah taktiknya. "Persiapanku cenderung ke opening karena menurutku masih kurang serta memperbanyak melihat bangunan middle game dan end game."


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162076563166


Catur

Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.