Sosok 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Julia dan Kotak Feminis

Julia Suryakusuma mendapat penghargaan dari Kerajaan Belgia atas perjuangannya menyuarakan hak asasi manusia lewat tulisan. Tak nyaman disebut feminis.

i Julia Suryakusuma, penulis buku sekaligus aktivis, di rumahnya di Cinere, Depok, Kamis 8 April 2021.
(foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)
Julia Suryakusuma, penulis buku sekaligus aktivis, di rumahnya di Cinere, Depok, Kamis 8 April 2021. (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)
  • Julia Suryakusuma terdorong menjadi aktivis karena mengalami diskriminasi sejak kecil oleh keluarganya. .
  • Karier menulisnya bermula saat ia berusia 18 tahun, ketika memenangi sayembara menulis esai sastra dalam rangka ulang tahun DKI Jakarta.
  • Ia mau belajar kepada siapa pun, termasuk yang berusia lebih muda. .

JULIA, have you ever been decorated?” Pertanyaan dilontarkan oleh Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Stéphane de Loecker, kepada Julia Suryakusuma pada awal 2020. Mendengar kata “decorated”, di benak aktivis itu muncul deretan lampu kecil berwarna-warni yang berkelap-kelip. Dengan setengah bergurau, Julia menjawab pertanyaan kawannya itu. “Maksud Anda didekorasi seperti pohon Natal?” kata Julia, menceritakan perbincangannya dengan De Loecker, Selasa, 6 April lalu. 

De Loecker menggeleng. Dia kemudian menjelaskan “didekorasi” yang ia maksudkan adalah diberi medali penghargaan oleh seorang raja. De Loecker, yang kerap membaca tulisan opini Julia di The Jakarta Post, berniat mengajukan Julia sebagai penerima bintang jasa De L'ordre de la Couronne dari Kerajaan Belgia. Ia menganggap tulisan Julia memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender.

Obrolan tersebut berlanjut dengan wawancara Julia oleh tim Kedutaan Belgia, tapi proses itu terhenti akibat pandemi. Julia baru mendengar kabar kelanjutannya setelah Menteri Luar Negeri Belgia Sophie Wilmès menandatangani piagam penghargaan itu pada 30 September 2020. "Karena menunggu momen International Women's Day, penghargaan baru diberikan Maret 2021," tutur Julia, 66 tahun.


Julia Suryakusuma (kanan) menerima penghargaan Order of the Crown dari Duta Besar Belgia untuk Indonesia Stéphane de Loecker di Kedutaan Besar Belgia di Jakarta , 10 Maret 2021.(foto: Embassy of Belgium in Jakarta)

162076352346

Penyerahan penghargaan berlangsung di Kedutaan Belgia di Jakarta, 10 Maret lalu. De Loecker, dalam pidato, menyampaikan alasannya mengajukan nama Julia. Ia terkesan akan cara menulis Julia yang unik, berpadu dengan pengalaman, amatan, dan analisisnya yang tajam. Dan, yang lebih penting, dia menambahkan, apa yang diperjuangkan Julia lewat tulisannya sejalan dengan nilai yang diakui Kerajaan Belgia. “Bahkan sebelum pemberdayaan perempuan menjadi prioritas bagi Belgia dan banyak negara lain, Anda sudah aktif di sini, di Indonesia,” ucapnya. 

Julia menjadi kolumnis tetap koran berbahasa Inggris itu sejak 2006. Namun, jauh sebelum itu, namanya telah dikenal sebagai pionir aktivis feminisme di Tanah Air. Ia salah seorang perempuan yang bersuara lantang memprotes pemerintah Orde Baru. Penelitian skripsinya, yang kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul Ibuisme Negara (2011), adalah salah satu kritiknya kepada pemerintah Orde Baru yang berusaha menguasai rakyat lewat ideologi, dalam hal ini konstruksi sosial terhadap perempuan yang hanya dianggap sebagai pendamping suami. Ia juga menulis buku lain, yakni Sex, Power and Nation (2004) dan Agama, Seks dan Kekuasaan (2012), serta Julia's Jihad (2013), yang merupakan kumpulan tulisan kolom pilihan berbahasa Inggris pada 2006-2013.

Asisten pengajar di departemen arkeologi dan antropologi Binghamton University, Amerika Serikat, Farid Muttaqin, mengatakan suara Julia tetap kencang meski Orde Baru telah tumbang. Ia tetap konsisten mengungkap hal tabu dan sensitif selama puluhan tahun berkiprah menjadi aktivis. “Beberapa orang memilih mencari teman daripada lawan ketika menua. Namun Julia justru tetap memanfaatkan ketokohannya untuk menulis hal-hal yang kritis,” ujarnya.

Julia memilih menjadi pengkritik tetap pemerintah. Dalam kolom yang diterbitkan pada 3 Maret lalu, misalnya, ia menyindir Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md., yang berkali-kali melontarkan pernyataan misoginistis. Yang terbaru adalah ucapannya dalam rapat pimpinan Kepolisian RI pada 16 Februari lalu tentang keadilan restoratif (restorative justice). Mahfud menyebut restorative justice sebagai alat untuk membangun harmoni dan kebersamaan. Karena itu, kata Mahfud, hal sepele tidak harus dibawa ke pengadilan, seperti kasus pencurian ayam dan sandal karet serta pemerkosaan. 

Julia, yang gemas terhadap pernyataan itu, meminta Mahfud memikirkan perasaan korban. Ia mengutip berbagai kecaman dari lembaga yang berfokus pada kajian hukum dan kekerasan seksual, seperti Institute for Criminal Justice Reform, Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan, Amnesty International Indonesia, serta Lembaga Bantuan Hukum Persatuan Perempuan Indonesia untuk Keadilan, atas pernyataan Mahfud yang menyepelekan kekerasan seksual. 

Ia meminta Mahfud memohon maaf secara terbuka kepada korban pemerkosaan dan masyarakat luas. Julia juga mendukung Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. “Pak Mahfud, jangan lagi kumat penyakit bicara misoginis, ya! Pandemi Covid-19 sudah cukup menyiksa kita!” tulisnya di akhir kolom.

Seperti De Loecker, Franz Magnis-Suseno, cendekiawan dan rohaniwan Katolik, menyukai gaya tulisan Julia. Menurut Magnis, Julia mampu mengupas ketidakadilan dengan cara kritis, kadang disertai humor dan ironi. “Di Indonesia jarang ada yang seperti itu, apalagi oleh perempuan,” tuturnya. 

•••

KARIER Julia Suryakusuma sebagai penulis bermula saat ia memenangi sayembara menulis esai sastra dalam peringatan ulang tahun DKI Jakarta. Usianya 18 tahun waktu itu, masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ketika itu, Julia, yang merupakan anak seorang diplomat, baru dua tahun menetap di Indonesia. Ia sebelumnya berpindah-pindah mengikuti tugas orang tuanya. Julia lahir di New Delhi, India. Keluarganya pernah hijrah ke Inggris, Hungaria, dan Italia. Di negara terakhir itu, Julia menempuh pendidikan di sekolah Amerika. 

Kepulangan ke Indonesia membuat Julia merasa frustrasi. Terbiasa bersekolah di Eropa, Julia kagok dengan sistem pendidikan di Indonesia. “Di sekolah Amerika itu para murid diajari kritis. Kami juga terbiasa diberi tugas meresume buku. Tapi di Indonesia murid hanya disuruh mendengarkan, mencatat, dan menghafal,” kata Julia. 

Ia akhirnya melarikan energinya dengan melakukan banyak hal lain di luar kelas. Ia antara lain aktif di organisasi ekstrakurikuler sekolah, seperti majalah dinding. Ia juga menjadi model untuk perancang batik Iwan Tirta dan asisten pengajar bahasa Inggris. Ia pun memenangi sayembara esai sastra ulang tahun DKI Jakarta dua tahun berturut-turut. “Saya sejak kecil sudah menjadi kutu buku, dan menulis membuat saya terus belajar,” tutur Julia, yang mendapat gelar master ilmu politik masyarakat berkembang dari Institute of Social Studies di Belanda pada 1988.

Julia mengalami diskriminasi sejak bocah oleh keluarganya—ibunya lebih menyayangi adiknya yang seorang laki-laki. Ia lantas memilih menulis untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Perbedaan perlakuan yang ia alami sejak kecil itu membuatnya lebih berempati terhadap penderitaan orang lain yang diperlakukan tidak adil. “Kemarahan saya memberi saya dorongan untuk menjadi feminis, dan kemudian aktivis prodemokrasi, pendukung setia LGBTIQ+ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, questioning, dan lainnya), serta kelompok terpinggirkan lain,” ucap Julia. Ia kadang menulis tentang korupsi, masalah demokrasi, masyarakat adat, juga pandemi Covid-19. 

Ragam topik bahasannya ini membuat ia tak nyaman dikotakkan sebagai seorang feminis. Menurut dia, pengotakan itu bisa mengarah ke mentalitas “kita” versus “mereka”. “Di mana ‘kita’ selalu lebih baik daripada ‘mereka’,” ujarnya. 

Julia merasa tak lebih baik daripada siapa pun. Ia mau belajar dan berdiskusi dengan siapa saja, termasuk yang lebih muda. Saat menulis tentang pernyataan Mahfud tersebut, misalnya, Julia sempat meminta komentar kawan diskusinya, aktivis feminisme, Nadya Karima Melati, 27 tahun. “Sebagai senior feminis, dia juga sangat mengayomi anak muda seperti kami,” kata Nadya.

NUR ALFIYAH

Reporter Nur Alfiyah - profile - https://majalah.tempo.co/profile/nur-alfiyah?nur-alfiyah=162076352346


Belgia National Commission on Violence Against Women Mahfud Md Franz Magnis Suseno | Franz Womens Rights

Sosok 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.