Pendidikan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Perlu ribuan jam bicara

Acara debat bahasa inggris di universitas padjadja ran, bandung. diikuti mahasiswa dari 16 perguruan tinggi se-jawa dan bali. penilaiannya berdasarkan presentasi masalah,teknik dan kefasihan berbahasa.

i
Perlu Ribuan Jam Bicara DI aula Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Senin dan Selasa pekan lalu, ada debat internasional. Yang internasional adalah bahasanya, Inggris. Adapun yang didebatkan bebas, kecuali pada babak final. Ruangan aula itu dipadati mahasiswa berjaket almamater dan 16 perguruan tinggi se-Jawa dan Bali. Kegiatan ini untuk memeriahkan HUT ke-8 English Speaking Union (ESU) Unpad. Pada final di hari kedua, berhadapan tim dari Unpad dan tim Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Keduanya tampil serius dan ngotot. Unpad mengajukan gagasan: apa yang harus kita lakukan dengan turis nanti. "Supaya mereka tahu, bahwa Indonesia itu bukan Amerika, atau bukan Jepang," kata Anna Rosita, wakil dari tim Unpad. "Kami lemparkan masalah begitu, namun kadang-kadang jawaban dari pihak lawan tak nyambung," komentarnya. Setiap perguruan tinggi dalam acara debat itu diwakili oleh sebuah kelompok yang beranggotakan 3 orang. Tiap peserta harus memilih salah satu judul yang disediakan panitia, yaitu: Endangered Earth, Individualism in this modern era, English as Indonesian second language. Akhirnya, dari 16 peserta itu, terpilih 4 kelompok yang masuk final. Di final, tema yang dijadikan bahan untuk berdebat adalah: "Visit Indonesia Year 1991". Setelah tim juri -- antara lain Anton Hilman, pengasuh pelajaran bahasa Inggris TVRI -- menilai berdasarkan presentasi masalah, teknik, dan kefasihan tim tersebut, dihasilkan urutan pemenang sebagai berikut: Unpad sebagai juara I, juara II IKIP Malang, juara III Unibraw Malang, dan juara IV UKI Jakarta. "Untuk bisa debat seperti itu, tak gampang. Mereka memerlukan ribuan jam bicara, tak mungkin mereka mengandalkan masukan dari bangku sekolah tok," komentar Anton Hilman. Anton betul. Tengoklah, sebagian peserta tak hanya mengandalkan pendidikan di kampus, apalagi pendidikan di sekolah lanjutan. Gina dan Ari dapat dijadikan contoh. Dua orang anggota tim Unpad itu ikut kursus di PPIA, sedangkan Ari malah beberapa tahun hidup di luar negeri. Juga anggota tim dari IKIP Malang. Mereka kebanyakan anggota Legato (Let the Great be the Top), klub di luar kegiatan kampus. Itu berarti, jika mahasiswa mengandalkan bisa berbicara cas-cis-cus dalam bahasa Inggris, bekalnya dari SMA plus selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi belum bisa diandalkan. GT dan Ida Farida (Bandung)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833198898



Pendidikan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.