Luar Negeri 8/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari negeri orang perahu

Laporan koresponden tempo richard s. ehrlich tentang keadaan phnom penh, ibu kota kamboja. pemandangan masih seperti subuah kota yang belum lama digempur perang. keterbelakangan menghias kota.

i
ORANG-ORANG perahu. Biasanya mereka datang dari Vietnam, sejak pasukan Vietkong berkuasa awal Mei, 15 tahun yang lalu, ratusan ribu sudah pengungsi Vietnam bersebaran di seluruh penjuru. Dari Inggris sampai Amerika, dari Kanada sampai Australia. Dan orang tak kaget lagi bila suatu saat sebuah perahu mendarat di sebuah pantai, Malaysia misalnya, para penumpangnya adalah pengungsi Vietnam. Maka, ketika di pekan pertama Mei ini -- dua pekan lalu -- dalam tiga hari berurutan sejumlah manusia perahu mendarat di tiga tempat di Indonesia (Jambi, Garut, dan Karawang) dan ternyata mereka datang dari Kamboja, berbagai dugaan muncul (lihat Laporan Utama). Orang Kamboja biasanya mencari tempat damai di Muangthai, satu-satunya negeri yang aman dicapai oleh mereka. Dua negeri lain yang berbatasan dengan Kamboja adalah Laos dan Vietnam -- yang kira-kira keadaannya sama susahnya dengan Kamboja. Untuk mengungsi lewat laut, bagi orang Kamboja tak seleluasa orang Vietnam. Laut Kamboja adalah Teluk Muangthai. Berlayar di teluk tak cepat mencapai perairan bebas, alias melarikan diri lewat teluk, sungguh riskan. Sementara itu, Laut Vietnam adalah Laut Cina Selatan yang terbuka. Bila demikian, ada kemungkinan bahwa perbatasan Kamboja-Muangthai sudah sulit ditembus. Bisa jadi pertempuran antara pemerintah Hun Sen dan tiga kelompok perlawanan Kamboja (Khmer Merah, Pasukan Sihanouk, dan kelompok Son Sann) sering meledak belakangan ini di perbatasan. Itu berarti bahwa wilayah perbatasan sebagian besar berada di bawah kontrol kelompok perlawanan. Suatu hal yang tak mustahil karena konon belakangan ini pihak RRC meningkatkan bantuan persenjataannya kepada Khmer Merah. Yang jelas, kondisi sosial-ekonomi Kamboja tetap kelabu setelah 11 tahun terbebas dari teror rezim Pol Pot yang memimpin Khmer Merah. Sejak Vietnam menumbangkan Khmer Merah, 7 Januari 1979, dan mengangkat Hun Sen dan Heng Samrin sebagai perdana menteri dan presiden, negeri sosialis ini tak banyak berubah. Di ibu kota, Phnom Penh (baca: puh nohm pen), pemandangan masih seperti sebuah kota yang belum lama digempur perang. Di jalan-jalan banyak gerobak ditarik tenaga manusia karena langkanya angkutan. Di pinggir-pinggir jalan di kota berpenduduk (diduga) 300.000 orang ini asap mengepul. Itulah cara mereka memecahkan sempitnya tempat tinggal: memasak di trotoar. Anak-anak bermain di pinggir jalan. Bila mereka diam jongkok, anak-anak itu asyik menggambar dengan kapur di aspal jalan yang tak lagi mulus, di samping sisa-sisa mesin kendaraan perang yang kotor bergemuk yang banyak terlihat di pinggir-pinggir jalan. Hampir selalu mereka menggambar tank, pesawat, atau tentara membawa bedil. Itulah hidup yang membayangi anak-anak itu -- apa boleh buat. Sedikit bau kemakmuran tercium bila meluncur sepeda yang menarik semacam gerobak ringan. Di gerobak itu tergolek tubuh babi merah jambu, tak bernyawa lagi. Daging itu dalam perjalanan ke pasar. Sepanjang jalan-jalan di ibu kota, banyak gedung yang separuh runtuh. Di beberapa gedung tampak anak-anak muda, juga beberapa orang tua, mengintip-intip ke dalam bagian bangunan yang masih tegak. Dari jendelanya, dari pintunya mereka berebut melihat ke dalam. Di dalam, bunyi kemeresek teratur terdengar. Itulah kaset video yang lagi diputar. Inilah hiburan yang juga masuk ke desa-desa: film kaset video dari Hong Kong (kebanyakan film silat), film Soviet, atau film India. Rumah dan gedung yang masih utuh tampak kusam tak terpelihara. Tumbuhan menjalar liar dengan suburnya di tembok sampai ke genting. Di siang hari, ketika panas menyelubungi Phnom Penh, jendela dan pintu gedung dibuka. Tampak penghuni bangunan bergeletakan di lantai. Mereka umumnya bukanlah pemilik lama. Di zaman Khmer Merah berkuasa, gerakan kembali ke desa tak mungkin ditolak. Maka, rumah-rumah di kota ditinggalkan begitu saja. Khmer Merah kalah, orang-orang kembali ke kota. Tapi, demikianlah cerita yang dituturkan siapa saja di Phnom Penh, hak milik sudah telanjur kacau meski penganjur sistem kolektivitas (yang mencoba) murni sudah pergi ke hutan-hutan. Maka, siapa saja lalu masuk rumah entah siapa. Sewa rumah? Bayar listrik atau air? Pajak? Dua hal pertama dengan mudah dihindarkan oleh para penghuni karena birokrasi tak punya cukup tenaga penagih rekening. Lalu soal pajak. Siapakah cukup kaya guna membayar pajak di negeri yang, menurut perhitungan badan-badan internasional, hanya memberikan pendapatan per kepala tak lebih dari Rp 150.000 setahun? Atau sekitar Rp 15.000 sebulan? (Sekadar perbandingan, pendapatan per kepala di Indonesia sekitar Rp 1 juta per tahun). Tak berarti tak ada yang bisa disebut kaya di Kamboja yang kini diduga berpenduduk tujuh juta itu. Bila sebuah rumah pagarnya dililit kawat berduri, bahkan sampai jendela dan pintu-pintunya, itu menandakan penghuninya cukup berada. Orang kaya yang lain memasang pintu besi di pagar tembok, jendela besi di rumah, atau halangan lain di depan pagar atau di halaman rumah. Siapakah mereka? Tak jelas. Bisa jadi pejabat partai, komandan tentara, atau pegawai pemerintah yang lihai berdagang barang selundupan. Di pasar dan toko memang bisa diperoleh bir Heineken dari Belanda, kaset Madonna, sampai sepeda motor Jepang. Sejalan dengan adanya orang-orang miskin di negeri kaya, adalah sejumlah orang cukup berduit di negeri miskin. Di jalan raya dan di jalur kereta api dari Phnom Penh menuju kota pelabuhan di selatan, tentara berjaga-jaga. Kendaran dan orang-orang yang dicurigai diperiksa. Pelabuhan yang miskin sistem pengamanan memang rawan penyelundupan. Orang-orang yang tinggal di Phnom Penh mengaku masih trauma dengan Khmer Merah. Mereka masih ingat bagaimana tiba-tiba tatanan hidup dijungkirbalikkan: uang tak berlaku, hak milik dihapuskan, sistem keluarga diaduk-aduk, buku-buku dan musik dibakar. Bahkan tertawa, kata mereka, dilarang. Dan mereka yang melawan, hukumannya hanya satu: eksekusi. Yang mengerikan lagi, guna menghemat peluru, hukuman dilakukan dengan cara menggebuk belakang leher dengan cangkul. Anak-anak, yang karena suatu hal harus mati, konon, dipegang kedua kakinya, lalu diayunkan ke arah batang pohon. Tapi anehnya, bila pemerintah Hun Sen mewajibkan mereka masuk milisi guna melawan Khmer Merah, banyak yang berusaha menghindar. Mungkin pemandangan di sebuah rumah sakit di ibu kota menjelaskan sikap itu. Di sebuah sal, beberapa lelaki muda tergeletak dirawat, dan tak seorang pun punya kaki utuh. Bukan perang yang menyebabkan, tapi lebih karena mereka menginjak ranjau. Negeri ladang pembantaian, tampaknya, masih juga berbau pembantaian.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836359438



Luar Negeri 8/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.