Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Garis-garis berkembang

Pameran seni rupa karya teguh ostenrik di taman ismail marzuki, jakarta. menggambarkan eksplorasi seni rupa, dari karya grafis, lukisan sampai multi media. teguh menampilkan citra primitif.

i
PENJELAJAHAN adalah sebuah asas seni rupa modern. Almarhum Sudjojono menyebutnya sebagai perjalanan ke dalam mencari jati diri. Mochtar Apin, pelukis senior lainnya, menafsirkannya sebagai eksperimentasi yang terus-menerus, meraba kemungkinan-kemungkinan media. Kedua macam eksplorasi itu tercermin pada pameran Teguh Ostenrik, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran yang dibuka Menteri Sekretaris Negara Moerdiono Selasa pekan lalu itu menampilkan berbagai jenis karya seni rupa. Bila dirangkaikan, karya yang berjenis-jenis itu mengisyaratkan sebuah garis perkembangan menjelajahi kemungkinan media. Sketsa yang menjadi karya grafis, kemudian berkembang lagi menjadi lukisan dan melahirkan lempengan-lempengan keramik. Lalu menyusup pula ke sebuah karya eksperimental yang merangkum macam-macam unsur media seni: bunyi, tata cahaya, dan gubahan ruang. Karya-karya itu digelar di dua lokasi, Teater Arena dan Ruang Pameran Lama. Keduanya, menurut Teguh, sebenarnya menyatu dan bernaung di bawah judul "Homo Sapiens Bertopeng, (sebuah) Pentas Seni Rupa." Artinya, pameran ini harusnya dilihat dengan urut, mengikuti sebuah skenario. Mula-mula pengunjung menjadi penonton sebuah pertunjukan di Teater Arena. Di sini disajikan sebuah lukisan Teguh Homo Sapiens Bertopeng (dibuat tahun 1976) -- dengan cara yang tidak biasa. (Lihat Eksperimentasi Multimedia). Sesudah itu, pengunjung diminta menyeberang ke Ruang Pameran Lama tempat sekitar 100 karya lainnya dipamerkan. Namun, sulit dihindarkan kesan, pentas seni rupa Teguh terbatas hanya pada pertunjukan di Teater Arena itu. Dengan kata lain, karya ini hanya salah satu karya dalam pameran tunggal Teguh. Bila dilihat dari urutan pembuatannya -- yang sekaligus menunjukkan perkembangan Teguh -- pentas seni rupa ini malah lebih cocok ditempatkan di urutan paling belakang. Perjalanan berkarya Teguh berawal pada seni grafis (ia pernah belajar desain grafis di Berlin, Jerman Barat) dan nampaknya hingga kini ia tetap dibayangi citra cabang seni rupa itu. Pada sebagian besar karyanya, garis (ciri khas seni grafis) terlihat dominan. Bahkan pada kebanyakan lukisannya, bukan nuansa warna atau sapuan kuas yang tampil, tapi unsur-unsur garis. Lihat, misalnya lukisan Cemburu (1977). Lukisan ini nyaris terdiri dari hanya dua warna, merah dan hitam. Sosok pria dan wanita pada lukisan ini terlihat samar-samar. Citra ini dibentuk oleh kontur berwarna merah terang. Namun, celah warna itu ternyata hanya alur yang disediakan bagi garis hitam, yang sesungguhnya membentuk gambar. Sejumlah besar karya grafis dengan teknik etsa, misalnya Pertemuan (1978), Topengan (1979), dan Die Wartenden Blau (1978) menunjukkan keakraban Teguh dengan seni grafis. Sementara itu, beberapa lukisannya yang mencoba meninggalkan garis, misalnya M dan Saya (1980) dan Count Down (1980) nyaris menyajikan lumuran cat yang tidak menyarankan ekspresi. Agaknya bukan kebetulan Teguh mengutamakan garis dalam kebanyakan ungkapannya. Garis-garisnya segera membangkitkan citra primitif, tema yang digarapnya selama bertahun-tahun. Dalam "Kerangka Acuan Pameran" yang dipublikasikan, tercantum, tema ini menarik perhatian Teguh, begitu ia menyelesaikan studi di Hochschule der Kunste (akademi seni rupa) di Berlin Barat. Ia bahkan mempelajari berbagai peninggalan dan seluk-beluk kehidupan masyarakat primitif. Karya berupa lempengan terakota menunjukkan korelasi tema primitif dengan garis pada karya-karya Teguh. Garis tampil dalam bentuk torehan-torehan yang dibuat spontan. Lihat misalnya Dampit (1978), Nggeret (1978), dan Malu (1978). Gambar-gambar di atas lempengan terakota ini dengan kuat membangkitkan citra primitif. Sekilas nampak seperti fosil. Teguh seperti berusaha menjadi manusia primitif. Membayangkan perilaku masyarakat itu dan mengulangi tingkah laku mereka membuat berbagai obyek. Lempengan terakota berjudul Garis-Garis Wajah (1978) dengan kuat mengesankan kecenderungan ini. Lekukan wajah, torehan sederhana yang membentuk mata dan guratan yang menandakan mulut, terlihat seperti sesungguhnya produk manusia primitif. Kecenderungan Teguh itu nampak pula pada kebanyakan karyanya yang lain. Sketsa-sketsanya yang dibuat dengan potlot menampilkan garis-garis spontan yang ditarik nyaris otomatis. Konsepsi Teguh itu membuat karya-karyanya berbeda dari kebanyakan karya seniman lain yang juga tertarik mengolah citra primitif. Misalnya Sunaryo, Mustika, dan Suparto. Ketiganya, pematung dan sekaligus pelukis. Seniman-seniman ini cenderung menerapkan ornamen-ornamen yang terdapat pada banyak karya primitif pada karya-karya mereka. Konsepsi Teguh itu juga menandakan perenungannya. Ia seperti terpengaruh salah satu prinsip estetika penyair besar Jerman, Goethe, bahwa esensi eskpresi ada pada spirit masyarakat primitif. Dan agaknya bukan kebetulan, dalam pamerannya di Taman Ismail Marzuki ia mengetengahkan tema Homo Sapiens. Homo Sapiens adalah manusia awal. Dalam teori evolusi dipercaya sebagai keturunan manusia kera (homo erectus) yang hidup sekitar 300.000 tahun sebelum Masehi. Dalam penelitian antropologis, Homo Sapiens masih mengandung berbagai tanda tanya. Belum bisa dipastikan, kapan makhluk ini terbentuk. Masyarakat ini pun belum mengenal kebudayaan, namun pada mereka sudah ada akal budi (terlihat dari lukisan gua, peralatan dari batu yang mereka buat). Mungkinkah misteri ini yang merangsang Teguh melakukan penjelajahan imajiner ke dunia primitif? Mengapa Homo Sapiens itu bertopeng? Di katalog, Teguh menulis, "Dahulu, kala nenek moyangnya ketakutan dihantui ancaman sergapan harimau, ikan hiu di laut atau gigitan ular berbisa, kini Homo Sapiens menemui bahaya maut modern...." (Catatan: seharusnya Teguh menyebutnya Homo Sapiens Sapiens, subspesies Homo Sapiens, yang hidup sekitar 35.000 tahun sebelum Masehi. Inilah nenek moyang manusia masa kini.) Homo Sapiens bertopeng adalah manusia masa kini. Pandangan Teguh ini mengacu pada pendapat yang percaya bahwa manusia pada dasarnya masih tetap manusia primitif. Kebudayaan yang menandakan kemajuan hanya memasang topeng pada manusia. Psikolog Carl Gustav Jung menyebutkan kepribadian topeng inilah personality. Kepribadian yang sebenarnya, yang ditekan di dasar jiwa (inikah yang primitif itu?) adalah persona. Pandangan itu mempunyai nilai praktis bagi Teguh. Semacam legitimasi baginya untuk merasakan langsung kehidupan primitif di masa kini. Sangat mungkin ia sesungguhnya bisa merasakan sifat primitif manusia masa kini. Paling tidak pada dirinya. Karya-karya Teguh, kendati mengambil gambaran kehidupan masa kini, sesungguhnya menampilkan citra primitif. Jim Supangkat

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836117956



Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.