Hukum 2/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kumpul kebo, bukan berzina

Dr ferry dharmawan yang sudah dikaruniai 2 orang anak dari istri barunya, akbarina akbar, dibebaskan pengadilan banding dari tuduhan berzina dan berpoligami. sebelumnya, ia akan dihukum 1 tahun 4 bulan.

i
SECARA hukum ternyata tak mudah membuktikan seorang lelaki berpoligami. Buktinya, seorang dokter di Banjarmasin, Ferry Dharmawan, dibebaskan pengadilan banding dari tuduhan tersebut. Padahal, jelas-jelas Ferry, kini, sudah tinggal bersama istri mudanya dan bahkan sudah dikaruniai dua orang anak dari istri barunya itu. Lebih menarik, majelis hakim banding juga tak mempersalahkan Ferry melakukan zina. Berdasarkan vonis Pengadilan Kalimantan Selatan itu, dokter tersebut sejak 16 April lalu dibebaskan dari tahanan yang telah dihuninya selama seminggu. Sebelumnya, ia dihukum Pengadilan Negeri Banjarmasin 1 tahun 4 bulan penjara karena berzina dan berpoligami (TEMPO, 20 Januari 1990). Dokter Ferry, yang WNI keturunan Cina, menikah dengan gadis Kawanua, drg. Margaretha Retnoningrum Wonoutomo, di Kantor Catatan Sipil Jakarta pada 1973. Mereka sama-sama tamatan Universitas Trisakti Jakarta dan sama-sama pemeluk agama Kristen. Pada 1981 pasangan dokter itu sama-sama bekerja di Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin, dan tinggal di rumah orangtua Ferry, juga di Banjarmasin. Di situlah pasangan yang tak dikaruniai anak itu mulai cekcok. Pasalnya, Ferry tergoda gadis lain. Puncaknya, Maret 1984, Margaretha diusir ayah Ferry. Sejak itulah pasangan tersebut berpisah. Pada April 1985, Ferry mengajukan gugatan cerai. Sebagai pegawai negeri, ia melampirkan surat izin perceraian yang ditandatangani Gubernur. Permohonannya itu dikabulkan Pengadilan Negeri Banjarmasin dan Pengadilan Tinggi Kalimantan Selatan. Tapi, pada Juni 1988, putusan tersebut dibatalkan Mahkamah Agung. Menurut pemeriksaan hakim kasasi, keterangan-keterangan saksi dalam perkara tidak menjelaskan sebab-sebab perselisihan suami-istri tersebut. Mahkamah tetap menganggap Ferry dan Margaretha sah sebagai suami-istri. Sementara perkara perceraian ini berlangsung, Margaretha menemukan fakta bahwa suaminya telah menikah dengan Akbarina Akbar, Juli 1987. Dalam sebuah kartu keluarga tertulis bahwa Ferry berstatus suami dan Akbarina berstatus istri -- terungkap pula bahwa Ferry sudah pindah agama ke Islam. Selain itu, banyak saksi melihat sendiri kelahiran dua anak Ferry di RSU Ulin. Berdasarkan itu Margaretha menuntut suaminya secara pidana. Pengadilan Negeri Banjarmasin, 19 Desember lalu, memutuskan Ferry bersalah melakukan poligami dan perzinaan. Selain bukti kartu keluarga tadi, di sidang juga didapat petunjuk bahwa Ferry sudah menikahi Akbarina secara Islam. Berdasar itu Ferry diganjar 1 tahun 4 bulan penjara. Atas vonis itu Ferry banding. "Masa, pada wanita yang sama, saya dinyatakan telah memperistri sekaligus menzinainya," katanya. Hakim banding Wiryawan, pada 16 April lalu, memutuskan Ferrry tak bersalah. Menurut hakim, tidak ada saksi dan bukti yang membuktikan perkawinan Ferry dengan Akbarina. "Mereka itu kumpul kebo," katanya. Tak hanya itu. Hakim juga menganggap Ferry tak terbukti berzina. Alasannya, bagi suami-istri yang sama-sama Cina dan menikah di Catatan Sipil ini berlaku asas 27 BW. Artinya, pengaduan istri terhadap perzinaan suaminya harus didahului permohonan cerai. Karena ini tidak pernah dilakukan Margaretha, pengaduannya tidak dapat diproses. Sedang soal kumpul kebo, tentu saja, tidak ada pasal pidananya. Alasan ini tidak bisa diterima Jaksa R. Suharto dan Margaretha. Pasal 27 BW, kata Margaretha, sudah tidak berlaku lagi dengan lahirnya Undang-Undang Perkawinan 1974. "Kalau saya sudah cerai dengan Ferry, untuk apa saya mengadukan berzina segala?" katanya kesal. Putusan ini ternyata juga tak menggembirakan Ferry. Sebab, putusan hakim itu, katanya, tidak menyelesaikan masalahnya. Yang penting baginya adalah putusan perceraiannya dengan Margaretha. Sebab, tanpa putusan itu, status perkawinannya dengan Akbarina tidak pernah sah, sehingga kedua anaknya juga dianggap tak sah secara hukum. Padahal, menurut Ferry, ia sudah menikah dengan Akbarina secara Islam. Memang, tidak secara sah di KUA karena tidak ada satu KUA pun yang mau menikahkan mereka. Ia, ceritanya, mengenal Akbarina 1983 ketika mengobati ibunya. Akibatnya, Akbarina hamil pada tahun 1986. "Saya bertanggung jawab untuk menikahinya di bawah tangan," ujar Ferry. Laporan Almin Hatta (Banjarmasin)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836417967



Hukum 2/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.