Hukum 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ke penjara, pulang pergi

Sepasang suami-istri, samino dan tunggal, tiga kali masuk penjara karena bertahan diatas tanah milik dirjo tinojo. tapi mereka menganggap tanah seluas 6.310 m2 di desa kadilojo, klaten, itu miliknya.

i
PASANGAN Samino dan Tunggal pasti tak bermaksud mencatatkan nama dalam Guinness Book of Records. Kendati begitu, "prestasi" suami-istri yang buta huruf itu tergolong langka. Bayangkan, pasangan ini tercatat sudah tiga kali dihukum untuk kasus yang sama: tak mau mengosongkan rumah mereka di Desa Kadilojo, Klaten, Jawa Tengah, walaupun atas perintah pengadilan. Sejak April lalu sampai pekan ini, untuk ketiga kalinya, suami-istri itu terpaksa kembali menginap di penjara. Rumah yang dihuni pasangan Samino, 48 tahun, dan Tunggal, 37 tahun, berada di atas sebidang tanah seluas 6.310 m2, terdiri atas sawah dan tanah pekarangan. Tunggal merasa secara sah mewarisi tanah itu dari ibu angkatnya, almarhumah Irosentono. Pada 1967, Tunggal, dengan bantuan carik desa, berhasil mensertifikatkan tanah tersebut. Ternyata, selain Tunggal, ada orang yang merasa lebih berhak atas tanah itu. Yaitu Dirdjo Tinojo, 47 tahun, keponakan Irosentono sendiri. Menurut Dirdjo, tanah itu milik kakeknya, Sastrodikromo. Maka, sebagai cucu kandung Sastrodikromo, Dirdjo merasa lebih berhak memiliki tanah itu. Sedangkan Tunggal hanya anak angkat bibinya (adik bapaknya), Irosentono. Pada 1974, Dirdjo menggugat Tunggal ke pengadilan. Ia menang sampai tingkat kasasi. Menurut peradilan itu, sertifikat yang ada di tangan Tunggal tidak mempunyai kekuatan hukum sama sekali. Berdasarkan keputusan pengadilan itu, Dirdjo bermaksud menguasai tanah yang lokasinya memang strategis itu -- sudah tersentuh aspal dan listrik. Ternyata, Tunggal dan suaminya, Samino, tak mau beringsut dari situ. "Saya tidak mau meninggalkan rumah ini. Sampai mati pun saya tidak mau," begitu selalu diucapkan Tunggal. Akhirnya Dirdjo memohon eksekusi melalui pengadilan. Pengadilan Negeri Klaten, 1986, mengeluarkan perintah eksekusi. Ketika eksekusi dilakukan petugas pengadilan Klaten bersama pegawai kecamatan dan polisi, Tunggal diam mematung di rumahnya itu. Sehingga petugas terpaksa mendorong-dorongnya agar meninggalkan rumah. Setelah ia dikeluarkan, barulah semua harta benda dalam rumah itu diangkut ke luar. Rumah itu kemudian digembok petugas dalam keadaan kosong. Selesai? Tidak. Sorenya, ketika suasana sudah sepi, Samino membongkar gembok itu. Lalu perabotan yang sudah di luar dibawa lagi ke dalam rumah. Malam-malam berikutnya pasangan tanpa anak itu masih tinggal di rumahnya. "Kalau kami tak tinggal di sini dan menggarap sawah, lalu apa kami harus mati?" ujar Tunggal. Tak ada jalan lain, Dirdjo menyeret Tunggal ke pengadilan pidana. Hakim menghukum pasangan itu 4 bulan penjara, karena terbukti melakukan perbuatan tak menyenangkan. Akibatnya mereka mendekam di penjara. Ketika itulah Dirdjo merobohkan rumah berukuran 7 x 6 meter itu. Ternyata kasus tersebut belum berakhir. Sekeluar dari penjara, Tunggal kembali ke bekas rumahnya. Pasangan ini memang tidak pernah putus asa. Mereka merobohkan pagar yang dibuat Dirdjo dan mendirikan sebuah rumah berdinding gedek dan bertiang kayu dengan ukuran 3 x 5 meter. Tak hanya itu, mereka juga kembali menggarap sawah sengketa. Tentu saja, terjadi perang mulut antara Dirdjo dan Tunggal. Dan selalu Tunggal berdalih memiliki sertifikat atas tanah itu. Sekali lagi Tunggal diseret ke pengadilan. Pada 1987, ia dijatuhi hukuman 4 bulan penjara. Tetapi sekembali dari penjara, pasangan itu membangun gubuk dan menggarap sawah kembali. Maka, cerita persidangan berulang. Terakhir mereka divonis 19 April lalu, juga masing-masing 4 bulan penjara. Selain melanggar pasal perbuatan tidak menyenangkan, mereka juga didakwa "berulang kali melakukan kejahatan". "Mereka bersalah karena tak mau tunduk pada eksekusi," ujar Hakim Kuraden. Sampai Senin pekan lalu Tunggal dan suaminya masih mendekam di LP Klaten. Di penjara itu, ia menjaga miliknya yang paling berharga: sertifikat tanah yang disimpan di balik stagen yang melilit pinggangnya. Agaknya, ia bertekad akan mengulangi perbuatannya. Namun, Jaksa Subiyanto bertekad, "Jika suami-istri ini nanti tetap membandel, bisa diajukan ke pengadilan lagi," kata Subiyanto. Sampai kapan? Bunga Surawijaya dan Kastoyo Ramelan

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836632795



Hukum 4/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.