Kaji Ulang Penjaminan Bank - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kaji Ulang Penjaminan Bank

Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic ditutup. Ini sebuah keputusan yang tepat dan sekaligus bukti bahwa kebijakan penjaminan seratus persen perlu ditinjau ulang.

i

Bank adalah jantung ekonomi modern. Lembaga ini menyerap uang menganggur dari masyarakat dan menyalurkannya kepada dunia bisnis yang membutuhkan modal untuk tumbuh. Bila sistem perbankan sebuah negara sehat, dana akan berputar kencang bagai aliran darah olahragawan yang bugar ke otot-ototnya. Laju ekonomi sebuah bangsa pun akan tinggi bagai melesatnya seorang atlet yang berjantung prima.

Celakanya, sistem perbankan Indonesia masih jauh dari sehat. Perawatan intensif yang berlangsung sejak dunia perbankan nasional terkena stroke, hampir tujuh tahun silam, belum berhasil membuat ekonomi negeri ini sehat kembali. Maklum, kanker KKN yang menyerang ganas jantung perekonomian ini sejak berlakunya kebijakan deregulasi perbankan pada Oktober 1988 belum dapat dienyahkan sama sekali. Buktinya, Bank Indonesia terpaksa menutup dua bank swasta, dua pekan silam.

Keduanya, Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic, ditutup karena diduga menyalurkan kredit fiktif, melakukan pemalsuan dokumen, dan pelanggaran batas maksimum penyaluran kredit ke kelompok sendiri. Ini adalah contoh klasik kasus kolusi busuk pemilik bank yang menarik dana masyarakat dan menyalurkannya untuk bisnis sendiri. Beruntung unit pengawasan Bank Indonesia cukup jeli dan berani bertindak tegas memberhentikan kegiatan kedua bank itu sebelum dampak negatif pengerukan dana masyarakat ini melebar ke sistem perbankan nasional.


Tindakan yang bagai operasi by pass ini memang harus dilakukan segera. Karena itu, wajar jika terdengar kritik yang menyatakan seharusnya hal itu bahkan dilakukan lebih dini lagi. Buktinya, para penanggungjawabnya kini telah jadi buron semua. Kritik ini ada benarnya, namun sebaiknya silang sengketa soal ini dibicarakan kemudian, setelah pengamanan aset dilakukan dan mereka yang bertanggung jawab dapat ditangkap.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6NDc6NDMiXQ

Setelah itu, evaluasi dan kritik terhadap sistem perbankan nasional hendaknya tak hanya berhenti pada soal pengawasan oleh Bank Indonesia. Kebijakan penjaminan seratus persen dana pihak ketiga bank oleh pemerintah, yang diberlakukan sejak krisis moneter 1997, sudah selayaknya diubah. Bank Indonesia harus berani memilah-milah bank berdasarkan kepatuhannya pada aturan yang berlaku. Semakin sembrono sebuah bank, semakin berkurang jaminan yang pantas diberikan, bahkan kalau perlu dicabut sama sekali. Bagaimanapun, nasabah harus turut bertanggung jawab dalam memilih bank tempat ia menyimpan uang. Karena itu, yang penting adalah informasi kinerja setiap bank selalu tersedia bagi publik.

Transparansi ini akan membuat beban Bank Indonesia lebih ringan karena tugas pengawasan tak hanya bergantung di pundak para inspektur resmi, tapi juga para pengamat publik. Mereka akan membantu para nasabah untuk lebih jeli memilih bank yang sehat dan menghindar dari rayuan para bankir busuk.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:47:45


Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB