Drama Komoditas Pertanian - Kolom - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kolom 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
Agus Pakpahan Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo)

Dunia ini memang panggung sandiwara. Ada dalangnya, ada pemainnya, dan ada penontonnya. Selama lebih dari 400 tahun, masyarakat Barat menjadi penentu ke arah mana dunia ini bergerak. Masyarakat Asia, Afrika, dan Amerika Selatan adalah masyarakat yang diarahkan dan ditentukan, terutama di bidang ekonomi. Hasilnya adalah dunia seperti sekarang ini—masyarakat di ketiga wilayah tadi miskin, dan sebaliknya masyarakat Barat. Hal ini tentu tidak berlaku untuk masyarakat Barat yang tinggal di Australia, Amerika Serikat, Kanada, Afrika Selatan, dan sebagian masyarakat Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Salah satu penyebab kemiskinan di Asia dan Afrika adalah anjloknya harga riil produk pertanian.

Dunia tidak mungkin tidak mengetahui bahwa harga-harga riil produk pertanian primer terus menurun. Para pemimpin di negara berkembang, terutama Indonesia, juga mustahil tidak dapat merasakan beratnya kehidupan para petani gara-gara penurunan harga tersebut. Tapi itulah kenyataan yang ada, kendati setengah abad lalu Raul Prebisch telah mengingatkan bahwa dunia menghadapi tren penurunan terms of trade antara harga riil produk primer dan produk manufaktur. Kalaupun akhir-akhir ini harga beberapa produk pertanian di pasar dunia naik, hal itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan penurunannya dalam kurun 100 tahun atau lebih.

Data Bank Dunia dalam "2001 World Development Indicators" memperlihatkan bahwa secara agregat indeks harga pertanian pada 1960 nilainya 208, dan pada 2000 menjadi 87. Jadi, nilai riil pertanian berkurang 2,39 kali. Secara lebih rinci, dengan menggunakan nilai dolar pada 1990, harga riil pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1960, beberapa komoditas pertanian penting semuanya menjadi lebih murah. Sebut saja harga beras yang 2,58 lebih murah atau harga kopi robusta yang 3,0 lebih rendah. Begitu juga dengan komoditas lain seperti karet, kopi arabika, teh, kelapa sawit, beras, jagung, dan gula.


Sejumlah peneliti yang mendalami persoalan ini, seperti Cashin dan McDermott (2001), Ocampo dan Parra (2003), juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Menurut Cashin dan Dermott, harga riil produk pertanian dalam kurun waktu 1862-1999 lebih rendah 1,3 persen. Adapun Campo dan Parra, yang menggunakan data time series 1900-2000, memperlihatkan adanya penurunan harga riil produk pertanian yang sangat tajam, terutama pada awal tahun 1920-an dan 1980-an.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MDk6NDAiXQ

Karena semua jadi lebih murah, penghasilan para petani pun turun. Buktinya, taraf hidup petani tidak meningkat. Ambil kasus petani perkebunan. Kalaupun menerima proyek perkebunan dari pemerintah, mereka tak mampu mengembalikan kredit. Apalagi untuk replanting atau peremajaan. Banjirnya produk impor juga menyulitkan petani pangan. Efisiensi rendah? Saya kira mereka sudah optimal dalam dunianya yang penuh kendala. Juga perlu diingat bahwa komoditas pangan yang dihasilkan negara maju penuh dengan subsidi. Sangat berbeda dengan yang dihadapi petani kita: bukannya mendapat subsidi, mereka malah dibebani pajak, pungutan, dan retribusi.

Drama dunia ini belum akan berubah dalam 400 tahun. Negara jajahan atau negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II, by designed, hanya dijadikan pemasok bahan baku; dan selanjutnya menjadi pasar dari hasil pengolahan bahan baku yang itu juga. Kita menjual produk dengan harga lebih murah dan terus lebih murah, dan sebaliknya kita membeli hasil olahannya dengan harga mahal dan terus lebih mahal. Karena itu, jangan heran jika Nestle, Unilever, atau Bridgestone menjadi pemain dunia kelas raksasa. Jangan kaget jika Nestle yang tidak memiliki kebun kopi atau kakao merupakan perusahaan urutan ke-12 terbesar dunia pada 2002 dengan pendapatan US$ 57,2 miliar (Fortune 500, 2003).

Sampai kapan drama ini berakhir? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab. Kita harus mengembangkan strategi baru agar kita tak cuma jadi pelengkap penderita. Globalisasi akan menjadi ancaman kalau kita terus berdiam diri. Saya jadi teringat kakek saya ketika mengeluh, "bertani itu makin sulit, makin membuat kita miskin". Saya pikir semua petani seperti kakek saya, merintih kesakitan.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:09:40


Kolom 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB